Media Massa Harus Verifikasi dan Berimbang

  • 20-11-2019 / 15:53 WIB
  • Kategori:Malang
Media Massa Harus Verifikasi dan Berimbang Pemred Malang Post, Dewi Yuhana mengajukan pertanyaan kepada mahasiswa Ikom Fisip UB peserta Workshop Jurnalistik.

Malangpostonline.com - Pemimpin Redaksi (Pemred) Malang Post, Dewi Yuhana mengajak mahasiwa Ilmu Komunikasi (Ikom) Fakultas Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) UB mengenal jurnalistik, Rabu (20/11). Kuliah tamu jurnalistik tersebut diawali dengan keseruan kuis terkait berita yang sering di baca baik tentang pendidikan, politik, olah raga maupun hiburan. 

Dalam workshop tersebut, Dewi Yuhana, memaparkan media massa memiliki wujud dan platform yang beragam baik cetak maupun online seperti koran, televisi, majalah, portal online dan lain sebagainya. Media tersebut melalukan aktivitas jurnalistik, begitupun juga dengan online hanya saja melalui internet.

"Fungsi media massa termasuk media online diatur oleh undang-undang pers, ada empat yaitu fungsi informasi, pendidikan, kontrol dan hiburan," ujar Hana, sapaan akrabnya.

Ditegaskannya media online dan media sosial memiliki peran yang berbeda. Semua orang bebas dapat membagikan apapun di media sosial pribadi sementara di media massa ada aturan baik dari segi kepenulisan maupun publikasinya sesuai dengan kaidah jurnalistik. 

Tak hanya itu, sebagai sarana informasi media massa dituntut untuk secara kontinyu memuat berita sedangkan media sosial bebas update kapan saja. Untuk itu sebuah media massa memiliki rukun berita, termasuk Malang Post.

"Rukun berita yang dimiliki Malang Post yang pertama aktual, informasinya harus update tidak boleh menunggu besok kalau cetak kejadian hari ini harus sudah dicetak besoknya, sedangkan media online harus diberitakan saat itu juga tidak boleh menunggu besok," tegasnya.

Informasi yang terdapat di media sosial bisa dijadikan berita apabila wartawan mencari klarifikasi terhadap yang bersangkutan dan harus sesuai dengan data di lapangan. Dalam rukun berita juga ada kedekatan, trend sekarang, human interest, konflik, peristiwa penting, tokoh, eksklusif, humor, progresif dan seks.

"Tetapi media online ada tambahan rukun berita seperti kecepatan, pemecahan angle, penjudulan, dan link berita terkait. Semua media massa harus ada verifikasi dan keberimbangan," tandas Hana.

Serius tetapi santai membingkai jalannya workshop jurnalistik tersebut. Pasalnya selain materi, Pemred Malang Post juga mengajak berinteraksi dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan. Di tengah sesi mahasiswa Ikom Fisip UB juga diminta untuk membuat satu paragraf berita dari materi yang disampaikan.

Hana juga menyampaikan di masa sekarang media massa tidak bisa berdiri sendiri, melainkan harus bersinergi antara cetak dan online melalui sebuah konvergensi. Hal itupun juga dilakukan oleh Malang Post diawal tahun 2019, konvergensi media dengan radio City Guide dan Arema TV. Sehingga klien pun juga mendapatkan manfaat lebih lantaran satu berita tayang di semua media baik cetak, online maupun elektronik. (lin/Malangpostonline.com)

Editor : lin
Uploader : irawan
Penulis : lin
Fotografer : Firman

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU