M. Fakhri Rasyidi, Barista Penyandang Tuna Daksa

Pernah Dibully, Buktikan Diri Bangun Coffee Shop Kekinian

  • 29-11-2019 / 08:00 WIB
  • Kategori:Malang
Pernah Dibully, Buktikan Diri Bangun Coffee Shop Kekinian BERKARYA: Fakhri, penyandang disabilitas meracik salah satu menu andalan coffee shop miliknya di kawasan Merjosari.

Malangpostonline.com - Sebuah coffee shop yang terletak di kawasan Merjosari, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang terlihat ramai. Desainnya khas industrial, tempat nongkrong tersebut dipenuhi mahasiswa. Namanya Suaco Coffee Shop, yang menarik adalah sosok di balik coffee bar. Muhammad Fakhri Rasyidi, sang barista ternyata penyandang tuna daksa.

Fakhri sapaan akrabnya, sedang membuat racikan red velvet hangat. Dengan keterbatasan pada bagian tangan kanan, Fakhri mampu meracik minuman hangat itu ala barista. Bahkan, mampu membentuk latte art yang membuat tampilan semakin menarik. Siapa sangka, barista yang penyandang disabilitas tuna daksa itu merupakan pemilik tempat nongkrong tersebut.

Kepada Malang Post, Fakhri banyak bercerita terkait pengalamannya membangun coffee shop itu. Perjalanan panjang ditempuhnya. Setelah lulus menjadi mahasiswa Jurusan Manajemen Universitas Brawijaya (UB) pada tahun 2016 lalu, Fakhri sempat bekerja sebagai karyawan bank milik negara.

“Saat itu, ada salah satu bank BUMN mencari tenaga disabilitas. Saat itu, mereka menjalin kerjasama dengan Pusat Studi dan Layanan Disabilitas (PSLD) UB. Saya akhirnya ikut mendaftar,” terang pria berusia 25 tahun ini.

Di sana, Fakhri mengaku bekerja di bagian Sumber Daya Manusia (SDM). Setelah menjalani sistem kontrak selama dua tahun, Fakhri memilih untuk berhenti dan ingin membuat usaha berupa angkringan mahasiswa.

“Kontraknya sebenarnya mau diperpanjang, tapi saya tidak mau. Memang penginnya dari awal buat usaha aja,” kata dia.

Setelah berupaya mengumpulkan modal, Fakhri yang bekerja sama dengan kakak iparnya itu membuat sebuah warung kopi.

“Selain mengumpulkan modal, saya juga belajar meracik kopi dengan cara otodidak. Diajari oleh teman-teman yang pernah jadi barista. Soalnya kalau les, biayanya mahal,” terangnya dia sambil tersenyum.

Perlahan tapi pasti, Fakhri akhirnya mampu mengusai ilmu barista. Selang beberapa waktu, ia akhirnya mendirikan Suaco. Meski baru beberapa bulan, ia sukses menarik perhatian pengunjung dengan teknik marketing yang dimilikinya. Setiap hari, ada sekitar 100 orang pengunjung yang datang.

“Alhamdulillah tidak pernah sepi. Dalam mengatur branding, promosi dan lainnya, saya turun tangan sendiri,” papar pria berambut klemis itu.

Sementara, untuk membuat racikan kopi, ia tak sendiri. Pria asal Gresik itu dibantu lima orang karyawan lainnya.

“Tapi, saya juga bantu mereka. Hal ini saya lakukan supaya lebih dekat dengan karyawan dan tahu apa kesulitan mereka selama ini. Sehingga, bisa jadi bahan evaluasi dan bisa lebih baik lagi,” papar dia.

Menurutnya, membuka coffee shop memiliki tantangan tersendiri. Setiap hari, ia harus berhadapan langsung dengan pengunjung, membaca keinginan pasar dan mengatur kinerja karyawan.

“Hal itu yang membuat saya tertarik untuk membuka usaha. Selain berpikir bagaimana caranya membangun bisnis, juga tambah ilmu dan bermanfaat bagi orang lain,” lanjut pria yang sudah delapan tahun hidup di Kota Malang itu.

Kegigihannya dalam membuka cafe tersebut juga dilakukan untuk menunjukkan kepada masyarakat bahwa kaum disabilitas juga mampu berkarya. Bahkan, membangun sebuah usaha yang mampu memberikan manfaat bagi masyarakat.

“Saya ingin menunjukkan kalau saya bisa. Meski memiliki keterbatasan, kemampuan kami sama dengan orang normal lainnya,” kata dia sambil menggebu.

Hal tersebut juga memberikan motivasi kepada penyandang disabilitas untuk tidak mudah minder. Sekaligus, ia ingin menunjukkan kepada orang lain kalau dia mampu.

“Dulu, waktu SMA saya sempat dibully, dipanggil T-rex oleh kakak kelas karena keterbatasan saya. Saya diam aja.  Dari situ, saya ingin buktikan kalau saya mampu,” lanjut bungsu dari tiga bersaudara ini.

Selama ini, kata Fakhri yang menjadi semangat untuk tidak minder adalah orang tua dan teman-temannya yang lain.

“Mereka alasan saya untuk terus eemangat menjalani hidup. Saya tidak pernah minder. Sampai sekarang, saya bergaul dengan siapapun, kebanyakan teman-teman yang tidak memiliki keterbatasan,” jelas pria kelahiran 1994 ini.

Menurutnya, bergaul dengan teman-teman yang banyak dan mendukungnya, membuat dirinya banyak belajar dan berpikiran luas.

“Sehingga, ilmu yang didapat lebih banyak. Pikiran tidak sempit dan terpacu untuk berkarya lebih baik lagi,” terang Fakhri.

Fakhri mengaku, ia ingin fokus untuk membesarkan usaha yang ada. Setelah balik modal, ia berencana akan merenovasi tempat tersebut dan menambah susana baru.

“Sehingga, bisa menambah lebih banyak lagi pengunjung. Kemudian, fokus untuk pengembangan bisnis lainnya,” imbuh dia.

Ke depan, Fakhri dengan kakak iparnya akan mengembangkan usaha serupa di kawasan Sigura-Gura. Namun, ia masih memiliki mimpi untuk membuka warung angkringan sendiri.

“Masih oengin bikin angkringan. Sambil jualan menu yang saya pernah coba pasarkan semasa kuliah,” ujar dia sambil tersenyum penuh optimis.

Sebelumnya, pada masa kuliah, Fakhri sempat berjualan martabak pedas. Ternyata, kuliner hasil olahan tangannya itu juga laris manis.

“Awalnya, saya menjalankan tugas kuliah. Praktik bikin usaha. Nggak tahunya, banyak yang doyan. Event kuliner kampus apapun saya selalu ikut. Namun, itu sempat terhenti ketika saya kerjakan skripsi,” jelas dia lirih.

Sampai saat ini, Fakhri mengaku masih banyak teman-temannya yang mendukungnya untuk membuka usaha itu. 

“Makanya, saya ingin buka angkringan sendiri dan berjualan martabak pedas. Mudah-mudahan segera terwujud,” tandas dia.(tea/ary/Malangpostonline.com)

Editor : Ary
Uploader : irawan
Penulis : tea
Fotografer : tea

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU