Suka Duka Ita Fitriyah Merintis Batik Tulis Lintang

Dulu Dicibir, Kini Tampil di Malang Fashion Week dan Jadi Produk Sarinah

  • 16-12-2019 / 07:25 WIB
  • Kategori:Malang
Dulu Dicibir, Kini Tampil di Malang Fashion Week dan Jadi Produk Sarinah SARAT MAKNA: Ita Fitriyah, ibu dua anak yang semangat lestarikan budaya batik tulis yang sarat makna dan filosofis dari sejarah tempatnya tinggal yakni Desa Ngijo Kecamatan Karangploso.

Malangpostonline.com - Ita Fitriyah (40 tahun), sebelumnya merupakan karyawan pabrik tekstil yang memutuskan untuk resign. Kemudian merintis sebuah sanggar batik tulis Lintang.  Batik ini lahir sesuai dengan filosofi sejarah daerah tempatnya tinggal, yakni Desa Ngijo, Kecamatan Karangploso. Batiknya pernah dicibir orang. Namun kini, karyanya sudah tampil di berbagai pameran, termasuk gelaran Malang Fashion Week.

Batik tulis 'Lintang' digandeng oleh desainer muda asal Malang yakni Muhammad Alfatir. Untuk menampilkan karya batik tulis khasnya di hadapan para pecinta fashion di Malang Raya. Batiknya ditampilkan bersama karya-karya terbaik pegiat fashion Malang. Bahkan juga pegiat fashion Indonesia di gedung Graha Cakrawala pada awal November lalu.

Ita, sapaan akrabnya, juga menyebut bahwa batik Lintang baru saja terpilih jadi salah satu produk dari Sarinah di salah satu outlet di Garuda Wisnu Kencana (GWK), Bali. Setidaknya terdapat 50 item produk dari batik 'Lintang' yang sudah dipasok ke Sarinah. Menjadi salah satu produk yang terpilih menjadi ikon Kota Malang menjadi capaian tersendiri bagi batik Lintang sejauh ini.

"Ada 50 produk yang sudah kita pasok ke Sarinah, mulai dari kain lembaran batik sampai udeng. Tapi tetap ada brand kita batik Lintang disitu," kata alumni Teknik Industri ITN angkatan 1998 ini.

Batik 'Lintang' sendiri merintis batik yang syarat makna filosofis tentang sejarah Desa Ngijo, yang menjadi bagian dari Kecamatan Karangploso. Jadi Karangploso dahulu dikisahkan sebagai pekarangan dari pusat kerajaan Singosari. Kata 'Karang' dalam bahasa Jawa berarti pekarangan, sedang kata 'Ploso' merupakan bunga 'Palasa' yang disebut terdapat di seluruh kawasan di Karangploso.

"Ini yang membedakan, batik kita punya cerita, bukan sekadar motif. Setiap goresan canting memiliki makna. Batik Lintang punya ikon namanya 'Tlogosari' ," ungkap perempuan berhijab ini.

 

Diceritakannya, Tlogosari merupakan nama bunga yang terdapat di Desa Ngijo. Sempat diceritakannya juga, bahwa setiap desa yang ada di Kecamatan Karangploso memiliki tumbuhan khas. Mulai dari Kepuharjo sampai dengan Ngenep, semuanya memiliki tumbuhan khas yang jadi ikon masing-masing. Oleh karenanya, ia juga diminta untuk mendampingi sejumlah desa di Kecamatan Karangploso, untuk mengembangkan batik khas masing-masing.

"Setiap batik tulis itu ada doa dan harapan, ini yang membuat batik Indonesia diakui dunia. Bayangkan leluhur kita setiap mau membatik harus tirakat dan puasa. Ini juga saya lakukan ketika mencari motif khas desa-desa di Karangploso. Istilahnya kita nuwun sewu ke para luluhur, untuk mengisahkan sejarah melalui goresan motif batik," jelasnya.

Hingga saat ini, Ita sudah membina para warga yang menaruh minat untuk membuat batik tulis. Saat ini, sanggar batik Lintang yang terletak di Perumahan Griya Permata ini setidaknya melibatkan 16 orang yang terdiri berasal dari tetangga di sekitarnya. Namun Ita juga kerap diminta mendampingi kelompok-kelompok PKK dari desa-desa lainnya. Sehingga sudah banyak yang kemudian mendirikan sanggar batik sendiri, sesuai dengan ciri khas mereka.

"Sekarang mungkin ada 9 kelompok yang saya dampingi kemudian mengembangkan batik sendiri. Ya saya senang sekali, ilmu pengetahuan yang saya bagikan bisa bermanfaat dan semakin berkembang," papar ibu dua anak ini.

Sementara itu, setiap lembar kain batik yang dihasilkan oleh sanggar batik Lintang dipatok harga mulai dari Rp 300 ribu. Namun harga tersebut ternyata mulanya menuai cibiran dari orang-orang di sekitarnya ketika itu. Ita menyebut bahwa awalnya batik tulis Lintang dinilai terlalu mahal. Padahal, proses membuat batik tulis sendiri memakan waktu sampai satu bulan. Mulai dari menggambar motif, mewarnai, sampai dengan mengeringkan.

"Banyak yang belum paham, kalau batik tulsi itu prosesnya panjang. Tapi perlahan kita kenalkan, motifnya, prosesnya, kualitasnya. Sekarang sudah banyak yang kenal, kita jual online sudah ke seluruh Indonesia. Bupati Malang, Bu Arumi Bachsin juga sudah beli batik kita," sebutnya.

Lebih lanjut, Perempuan kelahiran Gresik ini ternyata juga merupakan salah satu asesor batik yang ditunjuk oleh Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) besutan Kementerian Perindustrian. Ita menjadi satu dari dua asesor asal Malang yang bisa memberikan pelatihan dan sertifikasi membatik. Perlu diketahui, Indonesia memiliki 20 asesor batik yang sudah disertifikasi melalui Pusdiklat Kementerian Perindustrian pada 2018 lalu.

"Kebetulan saya memang salah satu dari dua  asesor batik dari Malang. Jadi mereka yang saya dampingi bisa mendapat sertifikasi membatik, jika sudah belajar dalam kurun waktu tertentu di sanggar batik Lintang," jelasnya.

Menurutnya, sertifikasi membatik tersebut merupakan bagian dari wacana program pemerintah, yang akan menentukan standar batik dengan Standar Nasional Indonesia (SNI). Hingga saat ini, Ita menerima pihak manapun yang hendak belajar membatik di sanggarnya. Untuk belajar membatik di sanggar batik 'Lintang sendiri tidak perlu mengeluarkan biaya.

"Belajar di sangar kami sejauh ini tidak perlu mengeluarkan biaya, mungkin hanya perlu biaya penggantian bahan untuk membatik. Kain dan pewarnanya saja, karena bahannya itu masih kita dapat dari Jogjakarta dan Solo," terangnya.

Selain itu, sanggar batik Lintang hingga saat ini sering memberi pelatihan membatik. Mulai dari kelompok mahasiswa, PKK, sampai dengan menjadi jujugan wisata edukasi dari wisatawan dalam dan luar negeri. Seperti pada awal tahun depan, batik tulis Lintang akan memberi pelatihan membatik dari puluhan mahasiswa Singapura, yang sedang belajar budaya Indonesia melalui Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).

Tak hanya itu, batik tulis Lintang tak jarang menjadi lokasi Kuliah Kerja Nyata (KKN) dari sejumlah perguruan tinggi. Beberapa kali Ita kerap dibantu karena telah memberi pelatihan membatik. Seperti bagaimana cara membuat buku besar yang baik sampai dengan pengetahuan terkait pengelolaan bisnis. Ita sempat menyebut bahwa ada kelompok mahasiswa yang menghitung sirkulasi keuangan dari batik tulis Lintang.

"Pernah dihitung, katanya rugi. Tapi saya tidak habis pikir, karena niat saya adalah bagaimana mengedukasi masyarakat tentang batik tulis. Kemudian buat saya, masyarakat sini dapat dampak positif saja saya sudah senang," paparnya.

Karena sanggar batik tulis 'Lintang' sering memberikan pelatihan pada berbagai kelompok dari seluruh Indonesia, pihaknya selalu membutuhkan perlengkapan mulai dari tenda terop dan kursi untuk para peserta pelatihan. Mereka juga membutuhkan konsumsi yang tidak mungkin dilakukan sendiri oleh pihaknya. Maka dari itu, Ita sering melibatkan tetangga untuk menyediakan konsumsi.

"Melalui penggunaan sarana itu kita jadi sering isi kas RW, kemudian tetangga juga sering giliran untuk katring. Saya bersyukur bisa membawa dampak positif ke lingkungan sekitar," pungkasnya.(asa/ary/Malangpostonline.com)

Editor : Ary
Uploader : irawan
Penulis : asa
Fotografer : asa

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU