Puluhan Orang Diserang DB

  • 30-12-2019 / 08:18 WIB
  • Kategori:Malang
Puluhan Orang Diserang DB

Malangpostonline.com - Penyakit demam berdarah (DB) jadi ancaman serius di musim hujan. Buktinya kasus DB meningkat selama musim hujan di Malang Raya. Warga diimbau memerangi penyebab penyakit akibat gigitan nyamuk aedes aegypti itu.

Data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Malang, sampai Minggu (29/12) kemarin, tercatat 40 warga terserang DB. “Mereka dirawat di rumah sakit dan puskesmas di seluruh Kabupaten Malang,’’ kata Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Malang, drg Arbani Mukti Wibowo. Arbani menyebutkan sebelumnya November lalu pasien DB 55 orang.  “Jika dilihat trennya fluktuatif. Karena Oktober dan September,  pasien DB yang dirawat masing-masing 36 dan 30 orang,” urainya.

Mantan Direktur RSUD Lawang ini menyebutkan kasus DB di Kabupaten Malang tertinggi sepanjang tahun 2019 ini ada di bulan Februari. Yakni mencapai 319 kasus, lalu Maret menyerang 311 orang.

Penyebab tertinggi, lanjut Arbani, karena  musim pancaroba atau masuk pada masa pergantian musim. Dimana nyamuk banyak berkembang biak. “Termasuk saat ini masuk musim penghujan, masyarakat harus tetap waspada. Selalu menjaga kebersihan lingkungan, dan melakukan 3M, (mengubur, menguras dan menutup) tempat-tempat yang ada genangan air,” imbaunya.

Sekalipun cukup banyak kasus DB, dia bersyukur semuanya dapat disembuhkan. “Dari data kami, tidak ada yang meninggal,” tandas Arbani.

Hampir seluruh wilayah Kabupaten Malang endemic DB. Karena itu, warga diimbau meningkatkan kebersihan lingkungan.

Tahun 2019, Tiga Pasien DB Meninggal

Di Kota Malang misalnya, tercatat 523 kasus selama setahun ini. Tiga orang di antaranya meninggal dunia. Angka ini cukup meningkat tajam jika dibandingkan dengan jumlah kasus tahun-tahun sebelumnya.

Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kota Malang dr Husnul Muarif menjelaskan jumlah kasus DBD di tahun 2019 memang sudah terlihat peningkatannya di awal-awal tahun. Dimana musim penghujan dan pancaroba masih melanda Kota Malang.

“Di Januari tercatat 65 kasus. Kemudian di Februari tercatat 111 kasus, Maret 80 kasus lalu April 74 kasus. Sementara Mei tercatat 106 kasus,” tegas Husnul.

Menurut data tersebut di lima bulan pertama di 2019 terjadi fluktuasi angka jumlah kasus DB yang naik dan turun namun cenderung meningkat. Puncaknya pada Mei 2019. Saat itu memang, musim pancaroba tengah melanda.

Kemudian lanjut Husnul, pada Juni jumlah kasus menurun yakni tercatat 56 kasus. Terus berkurang signifikan hingga Agustus dan September masing-masing lima  kasus.  Di Bulan Oktober hanya satu kasus, November dua kasus. Sedangkan Desember belum dipastikan kasusnya.

“Ada dua faktor utama yang menyebabkan penyakit DB. Pertama, musim penghujan yang tidak menentu tahun ini di mana banyak genangan air yang menjadi tempat perindukan nyamuk. Kemudian masih banyak masyarakat yang belum menerapkan gaya hidup sehat dan bersih,” paparnya.

Kegiatan menguras dan menutup tempat penampungan air, serta mengubur barang bekas (3M) dinilai belum banyak dilakukan warga.  Inilah yang menyebabkan DB menyerang.

Meski sempat terjadi peningkatan tajam kasus DB di Kota Malang, namun tidak tergolong menjadi Kejadian Luar Biasa (KLB). Hal ini ditegaskan Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang dr Supranoto saat dikonfirmasi kemarin.

“Jadi KLB itu ketika ada beberapa pasien meninggal berturut-turut dalam hitungan hari. Jika tidak dalam waktu yang sama maka tidak dikatakan KLB,” paparnya.

Mantan Asisten Bidang Administrasi Umum Pemkot Malang ini mengungkapkan bahwa tiga  kejadian pasien meninggal terjadi dalam bulan yang berbeda-beda.  

Waspada di Kota Batu

Di Kota Batu juga siaga DB. Apalagi memasuki musim penghujan. Terbukti selama tahun 2019 ini terdapat peningkatan kasus DB. Peningkatan penderita DB di Kota Batu dari data Dinas Kesehatan Kota Batu mencatat angkat penderita tahun 2018 ada 11 penderita. Sedangkan tahun 2019 meningkat menjadi 169 penderita DB dan 21 penderita DBD.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Batu, drg Kartika Trisulandari menyampaikan bahwa peningkatan jumlah penderita DB tersebut dikarenakan musim penghujan dan adanya siklus lima tahunan. Peningkatan kasus DB dan DBD tahun ini meningkat di seluruh Indonesia, termasuk di Jawa Timur dan Kota Batu.

"Peningkatan penderita DB dan DBD tahun ini karena siklus lima tahunan. Termasuk dugaan siklus ini terkait dengan tingginya curah hujan yang terjadi setiap lima tahun sekali," ujar Kartika kepada Malang Post.

Karena itu, untuk menekan jumlah penderita DB dan DBD di Kota Batu berbagai sosialiasi di 24 desa dan kelurahan Kota Batu. Sosialisasi yang dilakukan pihaknya berharap agar jumlah penderita DB ditekan. Baik melalui kegiatan sosialisasi 3M (menguras, menutup, dan mengubur) dan pemberantasan sarang nyamuk (PSN).

"Begitu juga dengan pola penerapan hidup sehat dan bersih terus kami sosialisasikan. Karena penyebab berkembangbiaknya nyamuk banyak di genangan yang ada di permukiman padat penduduk," bebernya.

Untuk Kota Batu pada tahun ini, lanjut dia, kasus tertinggi terjadi di bulan Mei 2019. Dengan wilayah paling rawan perkembangan DB adalah Kecamatan Batu. Pasalnya daerah tersebut merupakan wilayah padat penduduk.

Beberapa daerah yang rawan diantaranya Kelurahan Sisir dan Temas, Ngaglik, dan Desa Pesanggarahan. Pasalnya di daerah tersebut merupakan wilayah padat penduduk. (ira/ica/eri/van/Malangpostonline.com)

Editor : van
Uploader : irawan
Penulis : ica
Fotografer : ist

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU