Paksa Membuka Cadar Sama Halnya Memaksa Buka Rok di Hadapan Umum

  • 09-01-2020 / 22:40 WIB
  • Kategori:Malang
Paksa Membuka Cadar Sama Halnya Memaksa Buka Rok di Hadapan Umum Ki-ka: Dr. H. Ahmad Syams Madyan, Lc.,MA, Dr. Merry Fridha Tri Palupi, S.Sos.,M.Si, dan Achmad Tohe, MA.,Ph.D menerima cindera mata dari Dekan Fakultas Agama Islam Unisma, Drs. Anwar Sa’dullah, M.Pdi.

Malangpostonline.com – Hijab atau kerudung sejatinya sudah dikenal sejam dulu, bahkan brand olahraga ternama bahkan pernah meluncurkan pakaian khusus olahraga bagi muslimah. Industri pun tak mau kalah, produk khusus muslimah dari ujung kaki sampai ujung rambut banyak beredar. Hal ini menandai bahwa hijab sudah menjadi bagian dari gaya hidup.

Hal terssebut disampaikan oleh Dr. Merry Fridha Tri Palupi, S.Sos., M.Si dalam seminar yang bertajuk Kontroversi Cadar di Indonesia Antara Syariah dan Budaya pada Kamis (9/1) di Universitas Islam Malang (Unisma). Hijab bagian dari trend fashion ini menyematkan muslimah kelas menengah sebagai norma dan pedoman nilai keislaman.

“Sebuah penelitian mengungkapkan bahwa perempuan mengenakan hijab dengan tiga alasan yakni agama, kenyamanan dan politis. Alasan politis masuk didalamnya lantaran sekarang ini banyak perempuan terkena kasus kemudian mengenakan hijab,” ujar Merry.

Berbeda halnya dengan kelas menengah menggunakan hijab sebagai simbol keislaman. Perkembangan hijab ini luar biasa, banyak perempuan hijabnya modis yang erat kaitannya dengan kelas seseorang. Pada mengelompokkan muslimah berada di kelas mana tergantung cara pemakaiannya.

“Dulunya hijab atau kerudung ini dianggap sebagai sesuatu yang jadul, kumuh sekarang melejit menjadi sebuah kelas yang luar biasa,” terangnya

Dalam seminar diikuti oleh puluhan mahasiswa ini dihelat dalam rangka Dies Natalis ke-39 Unisma sekaligus menyambut Harlah ke-94 NU. Tiga nara sumber yang dihadirkan yakni Dr. H. Ahmad Syams Madyan, Lc.,MA, Dr. Merry Fridha Tri Palupi, S.Sos.,M.Si, dan Achmad Tohe, MA.,Ph.D.

Sementara itu, menurut Direktur DINUN, Achmad Tohe, MA., Ph.D, menyebut bahwa kajian tentang cadar bukan sekadar tentang budaya atau agama tetapi ini merupakan pilihan nyata di era sekarang dan menjadi fenomena yang kita  saksikan.

“Kalau sekarang cadar lebih komplek, kalau dulu tidak masalah, mazhab Syafi’I menyebut bahwa wajah adalah bagian dari aurat, kalau mazhabnya Syafi’I tapi tidak bercadar berarti tidak konsisten karena berpindah ke mazhab Hanafi yang memandang wajah bukan aurat,” papar Achmad.

Tak hanya itu, Dosen Fakultas Sastra universitas Negeri Malang (UM) ini melanjutkan bahwa yang paling sohih dalam mazhab Syafi’i penggunaan cadar itu wajib. Namun para imam tidak membincangkan ini sebagai budaya lantaran tidak terlalu penting dibanding permsalahan yang semakin komplek saat ini seiring munculnya fitnah-fitnah akhir jaman.

“Kita dihadapkan pada orang bercaadar dan memang kenyataannya pelaku pelaku bom juga kebetulan pakai cadar, kemudian frame media menjadi begitu, sehingga kasihan kepada saudara kita yang bercadar kemudian jadi korban,” tandasnya.

Menurutnya, seseorang yang sejak kecil sudah bercadar kemudian bekerja di suatu perusahaan dan dipaksa melepas cadar sama halnya dengan dipaksa membuka rok atau sarungnya di hadapan umum. Untuk itu Achmad mengajak peserta seminar memiliki sensitivitas lantaran cadar adalah kajian agama dan budaya. (lin)

Editor : lin
Uploader : slatem
Penulis : lin
Fotografer : lin

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU