Kasus ZA Siswa SMA Bela Diri Bunuh Begal

Saksi Ahli Heran Pembunuhan Berencana

  • 21-01-2020 / 09:33 WIB
  • Kategori:Malang
Saksi Ahli Heran Pembunuhan Berencana

Malangpostonline.com - Kasus ZA, pelajar SMA yang membunuh pelaku begal karena membela pacar, kini jadi sorotan publik. Dalam sidang lanjutan untuk ZA, pada Senin (20/1), saksi ahli heran, ZA didakwa pasal pembunuhan berencana. Sidang tersebut berlangsung tertutup sekitar 3 jam lebih, menghadirkan delapan orang saksi. Yakni tiga saksi dihadirkan oleh pengacara ZA dan lima saksi dari JPU.

Tiga saksi dari ZA, yang dihadirkan adalah guru SMA ZA, tetangga ZA, serta saksi ahli Universitas Brawijaya, Lucky Endrawati. Sedangkan lima orang saksi dari JPU, yakni dua tetangga berinisial SU dan AR,serta  AV selaku perempuan yang dibonceng oleh ZA.  Kemudian Ali teman dari Misnan yang merupakan pelaku pembegalan, dan juga seorang saksi ahli.

Saksi ahli Hukum Pidana UB, Lucky Endrawati, mempertanyakan tentang pasal yang dikenakan kepada ZA. Menurutnya pasal yang disangkakan tidak pas dengan kronologisnya. Di mana pasal 340 KUHP, menjadi satu jenis dengan pasal 338 KUHP dan pasal 351 KUHP. 

“Karena pasal 340 KUHP merupakan pembunuhan berencana. Sedangkan pasal 351 KUHP merupakan penganiayaan, sehingga tidak pas sama sekali dengan kejadian yang menimpa ZA,” ucap Lucky Endrawati.

Selain itu, ia juga mempertanyakan kenapa dalam dakwaan tidak memasukkan Undang-undang nomor 11 tahun 2012 tentang sistem peradilan anak. Sehingga seharusnya sidang berlangsung terbuka. Kecuali dalam dakwaan dicantumkan, maka sidang baru berlangsung tertutup.

Dikatakannya, dalam kasus ini, ZA yang masih pelajar SMA mengalami guncangan, ketika  melakukan penusukan pada pelaku begal. Karena temannya akan disetubuhi oleh pelaku begal. Sehingga sebagai laki-laki ZA melakukan perlawanan.

“Laki-laki mana yang tidak melakukan tindakan, ketika temannya terancam akan diperkosa,” bebernya.

Persidangan kasus ZA ini, tidak seperti pidana umum lainnya. Karena ZA termasuk anak-anak dan berstatus pelajar, maka proses sidang dipercepat. Setelah Senin (20/1) pemeriksaan saksi, Selasa (21/1) hari ini dilanjutkan pembacaan tuntutan. Kemudian Rabu (22/1) pledoi dari pengacara ZA atas tuntutan. Dan Kamis (23/1) kasusnya harus sudah vonis.

Sementara itu, kasus ini viral setelah Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri (Kejari) Kepanjen, mendakwa warga Kecamatan Gondanglegi itu dengan hukuman seumur hidup. Itu diucapkan pada sidang perdana pembacaan dakwaan Selasa (14/1) di Pengadilan Negeri Kepanjen.

Kejaksaan Negeri sendiri tampil ke media memberikan pernyataan, Senin (20/1) kemarin.

Kejari Kepanjen, melalui Kasi Pidana Umum (Pidum), Sobrani Binzar, juga ikut memberikan klarifikasi. Sobrani, menegaskan bahwa tidak ada dakwaan seumur hidup untuk ZA.

“Putusan seumur hidup tidak ada, saya di sini meluruskan. Supaya tidak ada kesan opini di masyarakat, bahwa hal ini merupakan putusan. Kabar yang beredar di media sosial itu, merupakan dakwaan, bukan putusan,” ungkap Sobrani Binzar, kepada media Senin (20/1) siang di kantor Kejari Kepanjen.

Dakwaan sudah dibacakan pada siang perdana Selasa (14/1). Kemudian pada 17 Januari, dilanjutkan dengan putusan sela. Senin (20/1) sidang lanjutan dengan menghadirkan saksi. Baik dari saksi yang dihadirkan JPU ataupun kuasa hukum dari ZA.

Menurutnya, pada kasus ZA ini, karena terdakwa masih berstatus anak dan sekolah, penerapan hukuman adalah peradilan anak. Hukuman untuk ZA nantinya pun, setengah dari hukuman orang dewasa. Karena sistem peradilan anak sudah diatur sesuai dengan Undang-undang nomor 11 tahun 2012.

“Sistem peradilan anak ini, tidak sama dengan terdakwa orang dewasa. Sesuai undang-undang, untuk ZA, tidak boleh disebut terdakwa tetapi anak. Proses peradilan juga harus tertutup. Termasuk identitas keseluruhan anak juga harus dirahasiakan,” jelasnya.

Tentang pasal berlapis dalam surat dakwaan, dikatakannya bahwa itu mengacu pada berita acara. Di mana dalam dakwaan yang dibacakan pada sidang perdana, ZA dijerat pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana, subsider pasal 338 KUHP soal pembunuhan, pasal 351 ayat 3 KUHP tentang penganiayaan yang menyebabkan orang meninggal dunia. Dan Undang-undang Darurat nomor 12 tahun 1951 terkait membawa senjata tajam.

“Yang dimaksud pasal berlapor, bukan secara kumulatif dibuktikan. Tapi yang dibuktikan salah satu dari semua dakwaan karena subsidernya adalah alternatif. Misalnya, jika pasal 340 KUHP tidak terbukti, maka dibuktikan pasal 338 KUHP, begitu seterusnya. Sehingga didakwaan seumur hidup tidak mungkin, karena juga menerapkan peradilan anak. Sehingga tak serta merta menuntut sesuai maksimal," terangnya.

Lebih lanjut, dalam persidangan nantinya juga ada pembuktian. Ada fakta-fakta yang meringankan untuk ZA. Sehingga Sobrani meminta untuk menghargai dan menghormati jalannya proses persidangan. Jangan beropini sebelum adanya proses persidangan.

Ia juga mengatakan, bahwa dalam persidangan anak adanya ancaman hukuman penjara lain, yang telah diatur dalam Undang-undang nomor 11 tahun 2012. Misalnya pidana peringatan, pidana dengan syarat, pidana pelatihan kerja, pidana pembinaan lembaga. Sehingga tidak serta-merta seperti orang dewasa harus dipenjara.

“Karena itu, seperti apa hukumannya nanti dilihat dari pembaca tuntutan. Karena tuntutan nantinya berdasarkan dari hasil dari keterangan ahli, pemeriksaan anak, fakta atau petunjuk di persidangan dirangkum menjadi satu,” terangnya sembari kembali memastikan bahwa tidak ada dakwaan hukuman seumur hidup untuk ZA.

Jaksa Agung Dicecar Komisi III

Sementara itu, dikutip dari kumparan.com, yang dilakukan seorang pelajar (ZA) demi melindungi sang pacar diangkat dalam rapat kerja Komisi III dengan Kejaksaan Agung, Senin (20/1). Dalam kasus ini, ZA didakwa hukuman penjara seumur hidup. Jaksa Agung dicecar oleh Fraksi Gerindra.

Pertanyaan kasus itu disampaikan oleh Muhammad Syafi'i dari Fraksi Gerindra. 

"Kasus yang lagi viral, anak muda yang mau dibegal diancam hukuman seumur hidup, saya kira ini dahsyat sekali. Mungkin itu saja," kata Syafi'i di Ruang Rapat komisi III, Senayan, Jakarta, Senin (20/1).

Jaksa Agung ST Burhanuddin lalu menjawab, dia menjelaskan, bahwa tak ada keinginan dari begal untuk memperkosa kekasih ZA.  "Untuk perkara begal anak-anak di Malang dan kalau nanti berkasnya secara penuh, sebenarnya tidak ada keinginan dari begal itu untuk memperkosa," kata Jaksa Agung.

Seperti diketahu, pelajar ZA mengaku seorang begal bernama Misnan meminta agar ZA menyerahkan teman wanitanya untuk diperkosa begal. Tak terima, ZA mengambil pisau di jok motornya dan menusuk Misna yang kemudian tewas. ZA mengaku pisau itu merupakan peralatan untuk kegiatan prakarya di sekolah.

Sementara Jaksa Agung menyebut, pisau tersebut digunakan membela diri dari ancaman begal, tapi dalam kondisi 'tidak terpaksa penuh'.

"Kemudian si anak-anak ini (ZA), itu sudah membawa senjata tajam dan itu yang digunakan oleh si anak itu walaupun untuk membela diri, dan itu membela diri dalam keadaan tidak terpaksa penuh," papar Burhanuddin.

Menanggapi pernyataan tersebut, Bakti Riza Hidayat, SH, koordinator pengacara ZA, melalui rilisnya mengatakan bahwa dalam surat dakwaan JPU, No. Reg. Perk: PDM 01/KPJEN/Epp.A.2/01/2020 yang disampaikan pada tanggal 14 Januari 2020 dalam sidang perdana pembacaan dakwaan, JPU mendakwakan kepada anak ZA dengan pasal berlapis. Kesatu, dakwaan primair pasal 340 KUHP, subsider 338 KUHP lebih subsider pasal 351 ayat 3 KUHP. Atau kedua, pasal 2 ayat 1 Undang-undang nomor 12 tahun 1951.

Sehingga dikatakannya, bahwa berdasarkan bahwa memang konstruksi pembuktian dari JPU adalah memprioritaskan dakwaan primer, yakni pasal 340 KUHP. Bahwa dalam resume perkara Polres Malang terdapat peristiwa yang merupakan tindak pidana yang dilakukan oleh Misnan dan M. Ali Wafa yaitu adanya peristiwa perampasan sepeda motor, HP dan bahkan ancaman pemerkosaan kepada teman anak ZA yaitu saksi (VN).

“Apalagi pada persidangan tanggal 20 Januari 2020 dengan agenda saksi, pelaku M. Ali Wafa dan saksi (VN) sudah mengakui adanya ancaman pemerkosaan berulang kali oleh Misnan dan M. Ali Wafa kepada Saksi (VN),” tutur Bakti Riza.

Sedangkan terkait tanggapan Kejaksaan Agung, Bakti menegaskan, bahwa tindakan anak ZA, merupakan tindakan spontanitas untuk membela diri serta membela  saksi (VN) yang diancam oleh Misnan dan M. Ali Wafa. Ancaman dengan perkataan tersebut, bunyinya :

“ Wes ngene ae lek koen gak gelem ngekei barang-barangmu, pacarmu tak gawe ae. Gak suwe kok mek telung menit ae. Paling arek wedok digawe terus digae mlaku ya nutup maneh”.  (Udah gini aja, kalau kamu gak mau menyerahkan barang barangmu pacarmu tak perkosa saja. Tidak lama kok cuma 3 menit.  Perempuan kalau sudah disetubuhi dan dibawa jalan vaginanya sudah menutup lagi).

Dan keterangan tidak diperkosa, dikatakan  Bakti, tidak sesuai dengan fakta persidangan. Karena M. Ali Wafa (Salah satu begal) menyatakan ada ancaman pemerkosaan terhadap VN.

Apakah kemudian harus ada perbuatan pemerkosaan dulu baru bisa membela diri? Dengan pembelaan diri secara spontan dengan menusuk memakai pisau, tentu bukan tindak pidana pembunuhan berencana. Karena kondisi ZA dalam keadaan tertekan.

“Dan terkait dengan pisau yang dibawa ZA, guru ZA menyatakan bahwa pisau yang dibawa ZA itu adalah untuk kegiatan di kelas. Dan masih ada dalam jok sepeda motor,” katanya. (agp/ary)

Editor :
Uploader : 0
Penulis : ary
Fotografer : agp

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU