Anggap Krisis Air Bersih Sebagai Musibah

Wali Kota: Tiada Kompensasi untuk Pelanggan

  • 21-01-2020 / 09:46 WIB
  • Kategori:Malang
 Wali Kota: Tiada Kompensasi untuk Pelanggan

Malangpostonline.com - Tuntutan pelanggan Perumda Tugu Tirta Kota Malang terkait kompensasi pada 30 ribu pelanggan yang terdampak gangguan aliran air tidak akan terkabul. Opsi ini bahkan tidak menjadi bahasan baik jangka pendek maupun jangka panjang. Hal ini ditegaskan Wali Kota Malang Drs. H. Sutiaji, saat dikonfirmasi soal permintaan warga terkait kompensasi tagihan penggunaan air bulan ini, Senin (20/1).

"Itu dasarnya apa dulu? Coba apa dasarnya beri kompensasi?," tegas Sutiaji.

Menurut Sutiaji, tuntutan warga meniadakan tagihan selama bulan, lantaran terdampak gangguan aliran air atau memotong beberapa persen tagihan bulan ini tidak memiliki ukuran jelas. Ditegaskannya, tidak ada Protap atau aturan hingga dasar hukum Pemda dapat melakukan hal tersebut. Maka dari itu opsi pemberian kompensasi seperti yang dituntut warga tidak akan dilakukan dan tidak dibahas secara serius.

"Kita tidak mengarah ke sana. Karena ini musibah," tandasnya.

Sementara itu memasuki pekan kedua warga terdampak, gangguan aliran air masih terjadi. Kawasan pemukiman yang berada di dataran tinggi seperti Perum BTU, Kalisari, Rusunawa Buring, kawasan Wonokoyo, dan banyak lainnya masih belum teraliri air sama sekali.

Ia kemudian menjelaskan, saat ini Pemkot Malang melalui Perumda Tugu Tirta fokus pada usaha menormalkan kembali layanan air. Utamanya mengalirkan air pada 10 ribu warga terdampak yang sudah sepekan ini tidak teraliri air sama sekali.

Sutiaji menjelaskan air sudah mulai mengalir, namun tidak dengan debit yang besar. Karena jika dialirkan secara normal tentu membutuhkan tekanan yang lebih besar, dan ditakutkan akan membuat pipa yang disambung kembali pecah.

Itu sebabnya, saat ini belum semua pelanggan teraliri, terutama untuk kawasan yang berada di ketinggian.

"Seperti Buring Atas, nanti air akan ditandon di bawah saja lalu di pompa agar bisa naik. Jadi tidak ditekan untuk dialirkan ke atas. Karena ditakutkan membutuhkan tekanan besar dan buat pipa jebol lagi," paparnya.

Sementara untuk 3.522 titik yang sudah teraliri, Sutiaji menyampaikan jika air sudah mengalir sejak Senin (20/1) kemarin pagi.

Beberapa wilayah yang dimaksud terdiri dari zona Buring 2D yaitu SDN Bandungrejosari, Keben II Permai, Kepuh, Simpang Kepuh, S. Supriadi, Kebonsari dan Satsuitubun dengan total 1.496 pelanggan.

Kemudian zona dua atau Buring 2E terdiri dari Sonosari dan Leces dengan total pelanggan 509. Zona tiga yaitu Buring 2E-1 terdiri atas Raya Kebongagung, Jl. Tarupala dan Sidodadi dengan total ada 704 pelanggan.

Terakhir zona 4 atau Buring 2E-2 yang terdiri dari Raya Kebunagung, Raya Wagir, Kauman dan Perum Pondok Lestari dengan total 813 pelanggan.

"Sekali lagi kami mohon maaf kepada pelanggan air bersih Perumda Tugu Tirta, kami akan terus upayakan agar air kembali mengalir normal," pungkasnya.

Meski begitu Dirut Perumda Tugu Tirta Kota Malang M. Nor Muhlas menyampaikan berangsur-angsur air mulai ke wilayah-wilayah yang masih terdampak. Dan diperkirakan dalam beberapa hari kedepan air akan mengalir di seluruh wilayah terdampak satu persatu.

"Dari total terdampak yang 10 ribu pelanggan sekarang total 3.522 saluran sudah mulai teraliri," paparnya.

Hal ini bisa dilakukan karena perbaikan pipa jebol di dua titik kawasan Pulungdowo sudah mulai normalisasi. Hanya saja belum maksimal karena tekanan air harus dikurangi sehingga debit air pun belum besar.

Artinya masih ada sekitar 6.700 warga belum mendapatkan aliran air yang layak. Hal ini masih menjadi pekerjaan rumah Pemkot Malang untuk diatasi.

Nor Muhlas menjelaskan, sebanyak 3.522 saluran pelanggan sudah teraliri. Karena pipa transmisi air yang jebol sudah diperbaiki dan mulai difungsikan mengisi tandon Buring Bawah terlebih dahulu.

Muhlas menjelaskan untuk saat ini pipa mengisi tandon buring bawah. Meski belum bisa mengisi keatas yakni Tandon Buring Atas, air sudah bisa mengaliri wilayah terdampak.

"Kemarin polanya kita rubah untuk menghindari high pressure (tekanan tinggi) dengan rekayasa hidrolika kita bypass ke tandon Buring bawah dulu biar potensi pecahnya bisa dikurangi," tuturnya.

Usaha Laundry Mangkrak Gara-Gara Krisis

Jebolnya pipa jaringan Perumda Tugu Tirta Kota Malang pekan lalu membuat masyarakat wilayah yang masih terdampak sulit untuk mendapatkan pasokan air bersih. Salah satunya kawasan Perumahan Bulan Terang Utama (BTU), Kelurahan Madyopuro, Kecamatan Kedungkandang.

Supply air yang diberikan oleh PDAM dirasakan masyarakat tersebut masih kurang bisa untuk memenuhi semua warga. Akibatnya dapat mengganggu serta merugikan aktivitas keseharian warga,  terutama bagi pengusaha pencucian pakaian atau laundry di daerah tersebut. Mereka menjerit karena usahanya merugi.

Pankey Laundry Kiloan & Dry Clean milik Elfiawati ini salah satunya. Hampir 10 hari sejak Sabtu (11/1) lalu hingga sekarang air PDAM masih mati. Hal ini mengakibatkan usahanya ikut merugi. Karena, dia harus menolak sekitar 50 persen pelanggannya lantaran pasokan air kurang mencukupi untuk mencuci pakaian.

“Saya harus menolak, padahal banyak yang datang minta untuk laundry, namun bagaimana lagi daripada dipaksakan malah menjadi beban berat nantinya," ungkap Elfiawati.

Ia menjelaskan, tidak bisanya menerima pelanggan itu lantaran air yang dibutuhkan harus menandon terlebih dahulu. Hal itu membutuhkan usaha yang lebih ekstra, selain itu juga masih kurang kurang dalam mencuci pakaian pelanggan.

"Karena airnya harus mengambil bolak – balik dulu, maka dari itu kami menolak beberapa pelanggan. Sehingga kita sesuai air yang ada saja," imbuhnya.

Menurut dia, krisis air kali ini adalah yang terparah selama empat tahun ia tinggal di kawasan Perumahan BTU, Blok KR 21. Karena, dalam waktu itu pula, air benar-benar mati total. Hal itu tentu menjadikan kerugian baginya.

Bahkan jumlah yang ia kerjakan setiap harinya menurun, yang biasanya mencapai kisaran 80-100 kg, kini berkurang di angka 30, 40 atau 50 kg saja per hari. Dalam waktu kurang lebih satu minggu ini saja, terkadang juga ada beberapa baju milik pelanggan yang harus molor dari pengerjaan.

"Ini paling parah, sudah satu minggu. Dulu pernah mati tiga hari, terus nyala lalu mati lagi. Tapi ini sama sekali nggak nyala. Memang, saya sebisa mungkin gak molor. Tapi kalau memang terpaksa molor, langsung saya konfirmasi ke pelanggan. Biasanya minta yang mau dipakai saja untuk didahulukan," urainya.

Selain Pankey Laundry Kiloan & Dry Clean milik Elfiawati, ada lagi usaha laundrian yang mesin cucinya mangkrak tidak digunakan akibat air Perumda mati. Namanya ialah Vinadzy Loundry milik Cici Indrasuwati Perum BTU KR.14 No. 15. Usahanya tidak bisa beroperasi karena sistem mesin cucinya harus tersambung langsung oleh Kran air.

“Setiap hari saya menolak pelanggan yang kemari, rasanya sedih rejeki saya tolak. Namun bagaimana lagi keadaanya seperti ini jadi kami sebagai warga harus menerima,” kata perempuan yang akrab disapa cici.

Diketahui, krisis air bersih yang dialami warga Kota Malang ini akibat dari jebolnya pipa jaringan air Perumda Tugu Tirta Kota Malang yang berada di Desa Pulungdowo, Kecamatan Tumpang Kabupaten Malang. Sudah sepekan berlalu, namun upaya penanganan masih terus dilakukan oleh Perumda.(ica/mp4/ary)

Editor : ica
Uploader : rois
Penulis : ary
Fotografer : agp

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU