Ajak Perempuan Berkebaya Melalui Bazaar dan Flash Mob

  • 09-02-2020 / 21:28 WIB
  • Kategori:Malang
Ajak Perempuan Berkebaya Melalui Bazaar dan Flash Mob Komunitas Pecinta Kebaya dan Sanggul Sumariwe flash mob Malang Pancen Rame di Klenteng Eng An Kiong

Malangpostonline.com – Kenalkan budaya bangsa, Komunitas Pecinta Kebaya dan Sanggul Sumariwe mengajak masyarakat Malang mengenakan kebaya. Hal ini ditujukan saat perayaan Cap Gomeh 2020 Sabtu (8/2) di Klenteng Eng An Kiong melalui pameran dan flash mob.

Dengan tema Kemajemukan Budaya dan Kerukunan Antar Umat Beragama menjadi Kekuatan dan Kekayaan Bangsa Indonesia, Komunitas ini mengenalkan kebaya secara menyeluruh kepada pengunjung klenteng. Termasuk edukasi pemakaian kebaya dan jarik untuk kegiatan sehari-hari.

“Kami tidak hanya mengenalkan kebaya melainkan juga pakaian tradisional seperti surjan, blangkon, jarik dan lain sebagainya,” ujar Ketua Komunitas Pecinta Kebaya dan Sanggul Sumariwe, Anika Turistriana.

Dalam kegiatan ini Komunitas Pecinta Kebaya dan Sanggul Sumariwe hjuga turut mengundang para budayawan Malang. Aksi pertama ini nyatanya mendapat respon positif dari berbagai pihak terutama Klenteng Eng An Kiong dengan menyediakan karawitan.

Bahkan pengunjung perayaan Cap Go Meh 2020 kala itu sangat antusias saat Komunitas Pecinta Kebaya dan Sanggul Sumariwe flash mob Malang Pancen Rame. Mereka ikut serta menari penuh semangat.

“Kolaborasi kami dengan tim karawitan yang diketuai oleh Bapak Nirokso mampu mengajak masyarakat melebur menjadi satu, tarian Malang Pancen Rame sendiri dapat menjadi gambaran bahwa Malang iru beranekaragam,” urai Anika.

Tak hanya mengenalkan begitu saja, Komunitas Pecinta Kebaya dan Sanggul Sumariwe dalam keseharian juga mengenakan kebaya termasuk saat perayaan Cap Go Meh 2020 ini. Bahkan mereka juga menggelar bazaar dengan menjual aneka pakaian tradisional sekaligus produk-produk asli dari Dampit, Kabupaten Malang.

Dilanjutkannya bahwa kebaya dan pakaian tradisional yang dikenalkan saat bazaar dibandrol dengan harga murah jauh di bawah harga pasar. Sebab paling utama bukanlah keuntungan namun bagaimaan mereka mengajak para perempuan untuk mengenakan kebaya sebagai warisan budaya bangsa.

“Kami ingin para perempuan itu mengenal kebaya dan cinta budaya tradisional, ini juga selaras dengan program pemerintah bahwa Selasa berkebaya,” pungkasnya.

Aksi pertama kalinya ini membuat Komunitas Pecinta Kebaya dan Sanggul Sumariwe terharu. Tak disangka, etnis Tionghoa sangat hangat menyambut, menjadi gambaran bahwa Indonesia masih ada toleransi umat beragama khususnya Malang. (lin)

 

PENTING! Baca Ini:

https://m.malangpostonline.com/bisnis/lowongan-kerja

https://m.malangpostonline.com/bisnis/iklan-baris

https://m.malangpostonline.com/bisnis/iklan-properti

Editor : lin
Uploader : slatem
Penulis : lin
Fotografer : lin

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU