Diskusi Malang Post Forum, Pembangunan dan Relokasi Pedagang Pasar Lawang (1)

Usung Konsep Bangunan Gedung Hijau, Pedagang Dipindah ke Patal

  • 17-02-2020 / 09:23 WIB
  • Kategori:Malang
Usung Konsep Bangunan Gedung Hijau, Pedagang Dipindah ke Patal

Malangpostonline.com - Diskusi rutin Malang Post Forum Jumat (14/2), mengusung tema 'Pasar Lawang Dibangun Pedagang Kemana?'. Tahun ini Pasar Lawang dibangun dengan anggaran dari APBN senilai Rp 120 M.  Pembangunan pasar dilakukan setelah terjadinya kebakaran 17 April 2019 lalu. Namun, hingga kini belum ada kejelasan ke mana para pedagang akan direlokasi.

Ya, pasar tersebut dibangun sesuai hasil uji kelayakan yang dilakukan tim dari Bidang Cipta Karya, Dinas Perumahan Kawasan Permukiman dan Cipta Karya (DPKPCK), menyebutkan bangunan lantai dua pasar tersebut tidak layak.

Rencana pembangunan pasar sendiri mulai tercetus Agustus tahun 2019. Di mana saat itu Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita meninjau langsung pasar yang berada di pintu masuk Kabupaten Malang ini. Sehingga tim dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan pun menyiapkan segalanya. Tidak terkecuali menyusun Detail Engineering Design (DED). Selain itu rencana pembangunan juga disosialisasikan kepada para pedanggang. Baik itu pedagang yang memiliki lapak atau kios, juga Pedagang Kaki Lims (PKL). Ini terkait dengan relokasi.

Perlu diketahui Pasar Lawang terakhir dibangun tahun 1992 lalu.  Dari data lay out PT Anggun Bangun Perkasa, pihak ketiga yang mengerjakan pembangunan saat itu, pasar ini memiliki 115 unit toko, bedak 469 unit, los 743 unit, PKL 900 orang. Pasar Lawang sendiri merupakan pasar yang buka 24 jam.

Seiring dengan rencana pembangunan dan rencana relokasi itulah kemudian muncul pro dan kontra. Beberapa kali pihak Dinas Perdagangan dan Perindustrian menggelar rapat. Tidak hanya dihadiri pedagang, tapi juga muspika dan Lurah Lawang. Yang pada intinya, rapat koordinasi dilakukan untuk menemukan solusi tempat relokasi.

Benar saja, tanggal 4 Febuari 2020, telah ditetapkan, tempat relokasi yaitu menggunakan eks pabrik textile milik PT ISN atau kerap disebut sebagai Patal Lawang. Namun demikian, permasalahan baru muncul, lantaran PT ISN jmmemberikan penolakan saat itu. Dengan alasan akan ada penghitungan aset. Hal inilah yang kemudian menginisiasi Malang Post menggelar diskusi tersebut.

Diskusi dihadiri langsung  Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Dr. Agung Purwanto. Dia didampingi oleh Kepala UPPD Lawang, Sigit Sugiarto. Selain itu juga dihadiri oleh pengurus P3KM, serta pedagang dan perwakilan PKL. Hadir juga dalam kegiatan tersebut pakar ekonomi Universitas Brawijaya, Nugrogo Suryo Bintoro, SE, M.Ec.Dev, Ph.D.

Diskusi tersebut tidak hanya mengulas tentang pembangunan dan relokasi. Tapi juga dampak ekonomi yang terjadi pasca pasar Lawang dibangun. Dipimpin langsung oleh Pemred Malang Post, Abdul Halim. Diawali dengan paparan Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Kabupaten Malang Dr. Agung Purwanto.

Agung dalam forum itu menyebutkan, Pasar Lawang merupakan ikon sekaligus gerbang Kabupaten Malang. Pasar ini menyumbang retribusi jasa pelayanan pasar terbesar di Kabupaten Malang. Pasar Lawang sendiri dibangun sejak 1840 alias pada masa Belanda. Pasar ini terdiri dari dua bagian, yaitu wilayah selatan dan utara.

 "Sebelumnya memang ada rencana pembangunan pasar. Usulan pak Bupati ada tujuh pasar yang dibangun," kata Agung.

Ditambahkan Agung, keinginan membangun pasar juga terinspirasi dengan Pasar Oro-Oro Dowo. Di mana pasarnya tradisional, tapi semi modern. Sehingga saat Pasar Lawang terbakar, usulan membangun pun menguat. Ditambah dengan datangnya Enggartiasto Lukita yang meninjau langsung Pasar Lawang. Enggartiasto saat itu mengatakan Pasar Lawang Layak dibangun. Sehingga meminta bupati untuk membuat proposal usulan pembangunan.

"Alhamdulillah,  usulan kami dipenuhi. Pemerintah Pusat melalui Kementerian PUPR mengucurkan dana Rp 120 M. Dana itu tak bisa ditarik dan dikembalikan. Dan bangungan pasar Lawang pun memiliki syarat saat dibangun nanti. Yaitu Bangunan Gedung Hijau (BGH). Pihaknya juga langsung membuat DED BGH.

"Konsep BGH adalah gedung yang ramah lingkungan, dan hemat energi,” tegasnya.

Agung juga mengatakan saat itu, Pasar Lawang dibangun karena banyak fasilitas yang tidak terpenuhi. Mulai dari bentuk fisik bangunan, tidak adanya lahan parkir, minimnya toilet dan kamar mandi. Dan dia juga mengatakan dalam konsep bangunan baru, semua fasilitas dapat dipenuhi.  Bahkan dia juga mengatakan, seluruh PKL dapat masuk pasar.

Pemred Malang Post menanyakan apakah Pasar Lawang mencukupi jika seluruh PKL masuk dan dilarang berjualan di luar. Dan saat itu Agung mengatakan yakin mereka semuanya bisa masuk.

Dia juga mengatakan, bahwa relokasi ditetapkan di eks pabril tekstil, yang berada di Patal. Sekalipun saat ini ada penolakan, tapi dia mengatakan sedang melakukan pendekatan dengan PT Industri Sandang Nusantara (IISN).

"Kami masih berusaha. Informasinya Direktur PT ISN akan datang, dan berdiskusi langsung dengan bapak bupati nanti," tandasnya.(ira/ary/bersambung)

 

PENTING! Baca Ini:

https://m.malangpostonline.com/bisnis/lowongan-kerja

https://m.malangpostonline.com/bisnis/iklan-baris

https://m.malangpostonline.com/bisnis/iklan-properti

Editor : Ary
Uploader : rois
Penulis : ira
Fotografer : Firman

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU