Duh Ancene Pak Nun Iki

  • 05-08-2019 / 15:53 WIB
  • Kategori:Opini
Duh Ancene Pak Nun Iki Bapak Husnun Djuraid saat mengikuti Jogja Marathon 10K, beberapa waktu lalu.

Oleh Redaktur Malang Post, Marga Nurtantyo

PAK Nun, memang penuh cerita. Jadi saat beliau wafat pun, banyak orang  yang akhirnya kepingin menulis cerita-cerita tentang dia. Terutama kolega-koleganya. Banyak naskah yang masuk ke redaksi Malang Post sebagai bentuk empati atas meninggalnya penyuka olahraga itu. Termasuk saya. Pengen juga menceritakan kisah selama berkegiatan bersama. Judulnya kok begitu? Coba baca sampai selesai tulisan ini. 

Pak Nun, memang menjadi guru yang paling sabar ketika saya masuk pelatihan wartawan Malang Post. Utamanya, ilmu jurnalistiknya. Tapi bukan berarti orangnya tidak pernah marah. Malah sering gak jelas antara marah atau sengaja memendam amarah. Diam saja. Walaupun ditanya. Apalagi ketika duduk melihat layar komputer, mengedit berita yang masuk. Waktu itu, perlahan tapi pasti, saya pilih menjauh. Kadang yang gini ini membingungkan.

Bener opo salah beritaku iki. Batin saya. Apalagi saya wartawan yang ngepos di kriminal. Butuh ketelitian dan keakuratan. Toh nyatanya, berusaha menulis baik, masih apes juga. "Beritamu wes memenuhi unsur jurnalistik durung", semprotnya sambil berdiri di dekat meja kerjanya. Saya lupa berita apa itu yang menbuat Pak Nun marah. Tapi saya masih ingat, berita itu adalah berita gabungan dari saya dan Yudi Suwarno, wartawan senior Malang Post untuk halaman satu. 

Tapi marahnya tidak berkepanjangan. Tidak pula ngecingan. Cuma harus lebih hati-hati, teliti dan detil. Ketimbang disemprot lagi. Pak Nun, juga energik. Gairah ingin ke lokasi dan menulis langsung saat Jogyakarta terkena gempa, muncul. Dia juga yang mengajukan diri berangkat liputan bersama dua kawan lainnya. Bawa mobil dinas dan berhari-hari di sana. Menulis untuk korannya. Tsunami Aceh pun demikian. Mengirimkan bantuan pembaca Korane Arek Malang.

"Wes rek, datane wes onok sing dikirimi bantuan. Kita langsung ke sana," katanya membriefing beberapa karyawan Malang Post yang jadi relawan dadakan pengiriman bantuan. Totalitasnya luar biasa. Ngerti kebutuhan makan, tempat menginap sampai rokok. 'Tapi lek rokokan nang jero mobil, moleho dewe nang Malang numpak bis," tegurnya saat itu. Sirhan Sahri, driver kantor yang biasa ikut pengiriman bantuan hanya mesam-mesem. Baginya ini bentuk 'penyiksaan'. Nyetir selama tujuh jam lebih perjalanan pulang dari Jogyakarta menuju Malang, gak boleh rokokan sambil nyetir.

Dia lalu ngrasani Pak Nun. "Yok opo wong iku Ga. Duh ancene," katanya pada saya. Tapi Sirhan ya tetap gak berani rokokan. "Nanti berhenti di jalan ya pak. Ngopi sama rokokan. Ngantuk pak lek gak rokokan," ujarnya sambil mengelus tangan pak Nun. Bibirnya juga terus mesam-mesem. Pak Nun hanya tertawa. Pak Nun juga tetap setia menggunakan jasa anak kelahiran Sumbawa ini menyetir mobil dinasnya, setiap kali kirim bantuan kemanusiaan di Jogyakarta. Masih banyak cerita sebenarnya. Apalagi yang bikin kita jengkel. Tapi Pak Nun tetap orang baik yang menularkan semangat kehidupan. Semoga husnul khotimah. (*)

Editor : mar
Uploader : slatem
Penulis : marga
Fotografer : ist

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU