Cerita Kenangan Pak Husnun Oleh Owie Agency Arjosari

Dari Rindu Sampai Mimpi Beliau

  • 06-08-2019 / 22:05 WIB
  • Kategori:Opini
Dari Rindu Sampai Mimpi Beliau Kenangan Owie Agency Arjosari bersama Husnun N. Djuraid pada momen peringatan hari ulang tahun Malang Post, 1 Agustus 2019.

”Inna lillahi wa inna ilaihi raji’in. Telah meninggal dunia bapak kita, Husnun N Djuraid..”, begitu bunyi penggalan berita duka yang dishare oleh Pak Sirhan di Group WA ”Laskar Ken Arok” pada jam 09.13 WIB Ahad Legi, 4 Agustus 2019 kemarin. Jujur, saya hampir tidak percaya dengan kabar. Saya pun langsung telepon Pak Sirhan dan ternyata kabar itu benar.

Sesaat setelah itu saya seperti orang linglung. Tampak bengong. Iya, meski bukan keluarga dan juga bukan siapa-siapa tentunya bagi Pak Nun (begitu saya biasa memanggil beliau) saya ikut merasakan duka yang mendalam. Tidak terasa air mata ini pun berlinang. Saya pun berniat bulat untuk bertakziah agar bisa ikut menyalati dan memberikan penghormatan terakhir kepada beliau.

Bagi saya beliau adalah sosok inspiratif dan nggak tahu kenapa di hati ini seakan terasa ada ikatan batin tersendiri. Makanya saat Pak Sirhan datang ke rumah mengantarkan undangan (dua hari sebelum ultah MP), saya pun langsung matur, ”Insya Allah saya akan datang Pak Sirhan sekalian ingin ketemu Pak Nun, sudah lama nggak ketemu beliau”. 

Dan saat hadir pun kepada Pak Buari (yang menemani duduk saat itu) saya pun matur, ”Pak Bu, saya sudah lama ingin ketemu Pak Nun, koq nggak kelihatan ya beliaunya..?”, tanyaku. ”Oh ada mas Owie, itu di belakang” jawab Pak Bu. Saya dan isteri lalu berpindah ke belakang panggung. Alhamdulillah, akhirnya rasa kangen itupun terobati, bisa ketemu Pak Nun agak lama (dan biasa...!) lalu foto bersama. Subhanallah, nggak nyangka kalau foto keluarga bersama Pak Buari dan Pak Nun (yang sangat hangat itu) menjadi kenangan terakhir.

Kembali pada cerita awal. Saya benar-benar ingin takziah – untuk hormat terakhir pada beliau. Tapi sikon berkehendak lain. Ternyata sampai jam dua siang isteri saya yang lagi sambang anak ke pondok Singosari belum juga pulang (padahal sejak awal isteri saya juga ingin takziah). Sementara Aldi (yang biasanya mendorong kursi roda dan saya ajak ke sana - ke mari) juga tidak bisa ngantarkan karena ada udzur.

Karena kantuk dan rasa capek menjelang jam setengah tiga sore saya pun tidur siang. Subhanallah, pembaca boleh percaya boleh tidak. Saat baru tertidur itu saya seakan sudah bertakziah dan berada di suatu tikungan jalan. Dan di jalan itu rombongan para ta’ziin banyak sekali lewat jalan itu.

Ketika saat keranda jenazah lewat saya sempatkan tanya kepada salah seorang ta’ziin, ”Nopo niku Pak Husnun..?”. ”Iya..!”, jawabnya singkat. Masya Allah, keranda jenazah itu berjalan begitu cepat. Iya, cepat sekali. (Tapi bukan berlari lho..!). Rasanya jarang sekali saya melihat keranda jenazah yang berjalan secepat itu. Di tengah keheranan itulah, tiba-tiba saya bangun.

Masya Allah, saya pun termangu. Bukankah itu isyarah (pertanda) yang baik buat Pak Nun. Saya jadi ingat hadits Nabi SAW, ”Asri’u bil jinazati fain taku shalihatan fakhairun tuqaddimunaha ilaihi..”. Percepatlah kalian dalam membawa jenazah, oleh karena jika jenazah itu baik maka kalian telah mendekatkannya pada kebaikan (HR. Bukhari).

Dan dalam syarahnya Imam Ibnu Utsaimin menjelaskan bahwa salah satu tanda apabila jenazah itu mukmin adalah  ingin disegerakan pemakamannya agar ia (jenazah mukmin itu) segera mendapatkan kenikmatan sebagaimana yang telah Allah janjikan. Subhanallah..! Maka isyarah mimpi tersebut semoga menjadi pertanda baik buat Pak Nun.

Tidak lama saya pun tidur lagi. Dan nggak tahu, kembali saya bermimpi tentang Pak Nun lagi. Saya seakan ikut dalam suatu barisan shalat berjamaah. Pak Husnun jadi imamnya. Beliau memakai baju takwa putih. Dan saya menjadi salah satu makmumnya. Usai shalat Pak Nun berdoa di mihrab pengimaman sambil duduk sedikit serong kanan. Yang saya amati, jari telunjuk kanannya jelas menunjuk tegak ke atas.

Selesai berdoa, melihat saya langsung beliau berdiri dan sambil tersenyum menyalami saya. ”Lho, yok opo kabare sampean, sehat-sehat ae ta..!” tanya beliau padaku. Nah, saat menggenggam erat tangan saya itulah, saya pun bangun. Subhanallah..!  Jam di kamar menunjuk angka setengah empat sore dan tidak lama kemudian isteri saya datang.

Iya, saya tidak ingin menakwili kedua mimpi itu. Saya hanya berdoa semoga mimpi itu benar dan menjadi pertanda baik untuk Almarhum. Karena beliau memang orang baik. Pak Husnun-lah yang sejak sekitar delapan tahun yang lalu secara istiqomah mengajak qiyamulail lewat SMS ”tahajud call-nya” (karena saat itu belum ada WA). Begitu pula dengan shalat dhuha.

Beliau pula yang terus mendorong saya agar rajin menulis sehingga beberapa esai ”Mimbar Jum’at” saya dimuat di Malang Post. Dan akhirnya juga terbit buku ”KUKURUYUK” pada tahun 2013. Dan dengan senang hati beliau pun bersedia memberi kata pengantarnya.

”Ya Allah, wong sing apik-apik koq dijupuk dhisik”, (Ya Allah, orang yang baik-baik koq dipanggil Allah duluan), begitu kalimat duka yang terucapkan oleh isteri saya.  Maka, saya pun mengucapkan, ”Sugeng tindak Pak Nun, kini di sisi Allah semoga senyum Bapak tetap anggun”. Aamiiiin...!  (*)

Editor : bua
Uploader : slatem
Penulis : ist
Fotografer : ist

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU