Mengapa Hubungan Terlarang Tak Kunjung Usai?

  • 07-08-2019 / 20:46 WIB
  • Kategori:Opini
Mengapa Hubungan Terlarang Tak Kunjung Usai?

Oleh: Himatul Solekah, S.Pd.
Freelancer dan pemerhati media

Hubungan terlarang sebagaimana kasus pelecehan maupun pemerkosaan tak henti-hentinya menghantui jagat dunia. Bahkan, hampir setiap hari kasus semisalnya memenuhi laman media. Sebagaimana berita terdekat yang dilansir dari Liputan6.com terjadi kasus pelecehan dan pemerkosaan anak di Surabaya pada Juli 2019. 15 anak menjadi korban pencabulan yang dilakukan seorang pembina pramuka berinisial RSS (30) dan mengaku melakukan perbuatan cabul tersebut sejak pertengahan tahun 2016 (4/8/19).

Aksi bejat seorang pendidik yang tidak mencerminkan sebagai orang terdidik. Akibatnya, tersangka dijerat pasal 80 dan atau pasal 82 UU RI No. 17 tahun 2016 tentang perubahan UU RI Nomor 35 tahun 2014 tentang perubahan atas UU RI No. 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

Penjatuhan sanksi selalu diberikan kepada pelaku pelanggar norma. Namun, nyatanya tidak menjadikan orang yang melihatnya merasa jera maupun takut. Hubungan terlarang itu pun tidak hanya berupa paksaan, tetapi atas dasar suka sama suka. Sebagaimana 'fenomena gunung es' yang melanda camp pengungsian korban gempa dan tsunami yang tersebar di Palu, tercatat 12 pernikahan anak usia dini. Faktor penyebabnya karena ekonomi, sosial, budaya, maupun hamil di luar nikah karena pacaran.

Mirisnya lagi, hubungan terlarang itu tidak hanya menimpa kalangan berbeda jenis. Tetapi juga sesama jenis, sehingga mengakibatkan faktor risiko 44 kali lipat terinfeksi HIV karena berhubungan anal. Menjamurnya LGBT  juga memiliki efek jangka panjang yang akan menghambat bonus demografi yang dihadapi negeri ini pada tahun 2030. Sebab, LGBT menjadi ancaman untuk ketahanan nasional karena tidak bisa membuat negeri ini menjadi produktif di masa mendatang (indopos.co.id, 2/8/19).

Sebenarnya segenap upaya telah dilakukan baik dari lingkungan keluarga, pendidikan, maupun media. Sayangnya, tak banyak juga orang tua yang sadar pentingnya pengkondisian dari sisi keluarga, tetapi justru memberikan contoh semisalnya hingga terjadilah broken home yang disebabkan perselingkuhan, faktor ekonomi, sosial, dan sebagainya. 

Menurut Psikolog Ayunda Ramadhani, anak membutuhkan pola asuh yang efektif baik dari ayah maupun ibu. Begitu pula menurut Dekan Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana Jakarta Muhammad Iqbal, kurangnya kedekatan anak kepada ayahnya berupa pengawasan dan pengajaran akan membuat kepribadian anak rapuh dan rentan menyimpang menjadi LGBT, serta kurangnya pemahaman agama karena didikan sejak kecil dalam lingkungan keluarga.

Pendidikan pun telah diupayakan dengan pembekalan karakter dalam mata pelajaran maupun mata kuliah terkait pergaulan maupun akhlak. Tetapi upaya tersebut seperti masuk telinga kanan dan keluar telinga kiri, belum membekas untuk membentuk pemahaman agar berefek pada perbuatannya. Hal ini dipengaruhi oleh dasar apa yang digunakan sehingga membentuk pemikiran. Berawal dari keluarga maupun lingkungan yang mengkondisikan. Apalagi sempat viral juga rencana penghapusan pelajaran agama. Membuktikan jika keberadaan agama belum menjadi hal mendasar yang penting dalam kehidupan. 

Jam tayang tontonan pun juga sudah disesuaikan, tetapi banyak juga iklan maupun sinetron dengan pakaian minim yang dapat memicu hasrat seksual, serkaligus penayangan film yang menjadi pro kontra bisa dijadikan sex education. Begitu pula pengaksesan informasi pornografi bisa dilakukan secara bebas di media sosial. Bolehnya beberapa tayangan di atas menunjukkan kurang adanya pemfilteran dan dukungan dari pemerintah untuk membina dan memberikan tayangan yang edukatif kepada masyarakat.

Penyikapan yang benar terhadap permasalahan yang dihadapi dalam kehidupan sangatlah dibutuhkan. Selektif dalam mencari informasi dan tayangan yang baik agar bisa memberikan edukasi. Dibutuhkan pula kerja sama dalam keluarga inti untuk saling menyayangi, menasehati maupun menghilangkan jalur informasi konten negatif yang bisa mendorong pada perilaku menyimpang. Apalagi peningkatan binaan agama merupakan hal terpenting sebagai pondasi, pengarah maupun pengontrol dalam melakukan aktivitas sehari-hari agar selalu berada di jalan yang benar.

Namun, keluar dari lingkungan keluarga, seseorang pasti akan berinteraksi dengan masyarakat secara luas. Bergaul dan berhadapan dengan berbagai karakter masyarakat. Lingkungan yang baik akan memberikan dampak yang baik, sebaliknya lingkungan yang buruk akan memberikan dampak yang buruk. Masalahnya, bagaimana cara menciptakan lingkungan yang baik sedangkan tiap sendi kehidupan saling berkaitan dan tersistem?. Jika lingkungan keluarga sudah mengkondisikan baik, tidak dipungkiri keluar darinya bisa merubah pola kebaikan tersebut.

Disinilah arti penting negara sebagai regulator, fasilitator maupun pengontrol. Sendi kehidupan yang saling berkaitan membutuhkan penerapan sistem aturan yang komprehensif agar mampu membentuk pola pikir dan pola sikap manusia yang mulia. Mulai dari pendidikan keluarga, pendidikan formal, serta lingkungan masyarakat yang memiliki pemahaman yang sama sehingga saling menjaga dan menasehati, serta penerapan aturan negara yang tidak terpisah dari agama (sekulerisme).

Namun, sudahkah pendidikan maupun sistem kehidupan saat ini tidak terlepas dari agama? Karena apabila terlepas dari agama, maka wajar jika penerapan aturannya terlepas dari agama pula, sehingga berdampak pada individu maupun masyarakat yang tidak menjadikan agama sebagai tolok ukur perbuatannya. 

Oleh karena itu, inilah saatnya kita kembali kepada Islam yang mampu menyelesaikan permasalahan hidup secara tuntas. Sebab, permasalahan ada karena ulah tangan manusia itu sendiri. Dimana mereka tidak mau memenuhi perintah pencipta-Nya, Allah SWT untuk masuk Islam secara kaffah (keseluruhan), yaitu menggunakan aturan Islam secara keseluruhan dalam tataran individu, masyarakat maupun negara. Baik ibadah ritual, pergaulan, sanksi, ekonomi, maupun politik. 

Allah SWT berfirman:
"Dan hendaklah engkau memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah dan janganlah engkau mengikuti keinginan mereka. Dan waspadalah terhadap mereka, jangan sampai mereka memerdayakan engkau terhadap sebagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah berkehendak menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebagian dosa-dosa mereka. Dan sungguh, kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik." (TQS. Al-Ma'idah : 49) Wallahu 'alam bi shawab. (*)

Editor : oci
Uploader : slatem
Penulis : ist
Fotografer : ist

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU