Menajamkan Mata Batin Guru

  • 08-08-2019 / 20:28 WIB
  • Kategori:Opini
Menajamkan Mata Batin Guru

Oleh: Slamet Yuliono

Guru SMP Negeri 1 Turen

 

DALAM setiap diskusi sesama guru di sekolah maupun dalam forum lebih luas (MGMP) terkait perkembangan peserta didik, kita (guru) selalu ‘disuguhi’ pendapat pro kontra atas keberadaan siswa. Dan pendapat dari mayoritas guru optimis bahwa mereka yang mempunyai prestasi akademik baik (penilaian berdasar kecerdasan/IQ) diprediksi akan suskes di kemudian hari. Bila dibandingkan dengan mereka yang memiliki kemampuan akademik biasa-biasa saja.

Kesalahan memandang sukses di lingkungan pendidikan seperti ini ternyata di’amin’i pula oleh mayoritas orang tua/wali dalam membangun motivasi kepada anak-anaknya. Sehingga dalam setiap alur pikir orang tua selalu didengungkan ucapan ‘kamu harus pintar’ karena pintu sukses dan masa depan sudah menunggu. Dikursuskannyalah anak mereka di lembaga bimbingan yang baik dan bonavit demi menunjang kesuskesan ‘semu’ bagi anak-anaknya.  

Pandangan ‘pragmatis’ seperti ini jauh berbeda dengan pemikiran guru-guru bijak yang memiliki insting dan mata batin. Guru yang memiliki ke‘peka’an semacam ini justru lebih mengandalkan rasa, kepekaan sosial, dan pengalaman komulatif dari anak didik dalam durasi waktu mengikuti pembelajaran di sekolah. Mereka paham betul cara memandang nilai kesuksesan dalam setiap langkah kerjanya. Guru yang tajam mata batinnya akan melakukan proses bimbingan dengan benar sekaligus mengarahkan ke jalur kesuksesan ‘step by step’ secara konsisten.

Bukan dari Sosok Istimewa
Mata batin guru dengan insting yang baik mampu membaca batin siswa. Ini dibuktikan setelah anak didiknya menyelesaikan studi dan berbaur dengan masyarakat. Mereka yang sukses dan bisa bekerja dengan baik itu ternyata siswa-siswa yang dalam kegiatan belajar kesehariannya bukan sosok yang cerdas dan istimewa. Mereka-mereka yang sukses itu mayoritas dari sosok yang bisa mengadaptasikan pikir, karya, dan persahabatan. Tiga konsep dasar inilah yang dinilai sangat ampuh dalam membangun citra menuju kesuksesan bagi dirinya, lingkungan, dan masa depan bangsanya.

Untuk bisa menajamkan mata batin semacam ini, pengalaman dan kepekaan diri guru dalam menghadapi permasalahan harus diaplikasikan. Tidak sekedar berteori, ceramah, dan nasihat. Catatan berikut, setidaknya bisa dijadikan tolok ukur yang harus dipenuhi dalam proses pembimbingan demi suksesnya anak didik. Pertama, mampu mengarahkan sekaligus menggugah kepercayaan diri anak didiknya. Laku ini bisa dijalankan bila guru bisa menjadi teladan, orang tua yang demokratis, dan lingkungan masyarakat bisa bersinergi secara baik. Hubungan harmonis di sekolah dan selalu belajar dari pengalaman dalam setiap tindak dan geraknya terpantau dalam kegiatan kesehariannya

Kedua, berjiwa entrepreneurship. Kemampuan guru dalam mengarahkan secara positif dalam langkah memupuk jiwa ungul di era digital semacam ini perlu terus diisikan pada anak. Tanpa memiliki kemampuan ‘menawarkan’ diri untuk lebih baik dari orang lain Anda akan terlindas harus terus disampaikan. Entrepreneurship yang selama ini diterjemahkan sebatas menggagas menuju jiwa kewirausahaan sudah harus dihilangkan. Arahkan anak didik mengambil hikmah dari pembelajaran global tersebut. Bangun sejak awal pikir dan kinerjanya dengan ilmu dan kemampuan managerial dengan baik.

Ketiga, reaktif dan cepat tanggap. Menuju kesuksesan di masa depan dibutuhkan kepekaan tinggi dalam menghadapi beragam permasalahan. Ada peluang sekecil apapun bagi mereka yang peka dan ingin maju, harus berpikir selangkah lebih baik dan pasti bermanfaat. Cepat tanggap dalam memanfaatkan peluang sekecil apapun, dan inilah jalan menuju keunggulan kompetitif di era serba cepat ini. Guru berkarakter semacam ini pasti haus akan ilmu baru terbarukan. Tidak mau tertinggal dan akan selalu mencari terobosan agar tidak digilas oleh zaman.

Keempat, berpasrah diri pada sang Khaliq setelah berusaha. Guru termasuk bagian dari insan yang tidak pernah lepas dari faktor nasib dan jalan kehidupan. Iringan doa harus menjadi senjata ampuh untuk selalu meminta petunjuk dan pertolongan Ilahi, serta jangan cepat putus asa. Serahkan semua yang kita kerjakan kepada-Nya setelah usaha untuk menjadi yang terbaik telah kita kerjakan. 

Selalu Koreksi Diri

Di era serba cepat dan mudah ini, seharusnya sudah tidak ada lagi guru yang apatis. Guru yang berdalih asal apa yang sudah saya lakukan dan kerjakan benar dan tidak melanggar aturan yang sudah ditetapkan oleh pemerintah pasti berdampak positif. Guru yang tidak siap dengan resiko dan perubahan yang semakin pesat. 

Guru ‘nriman nan pasrah’ yang punya pola pikir semacam ini, selayaknya maaf di’musium’kan. Mereka yang asal jadi guru ini rupanya lupa bahwa tindak dan lakunya menjadi sorotan dan bahan perbincangan anak didik. Batin mereka berontak dan menggumam ‘kok masih ada’ guru yang semacam ini. 

Enyahkan pikiran "seeing is believing", yang hanya mengandalkan penglihatan fisik bahwa sukses studi berdasar kemampuan otak menjadi acuan utama. Sedang masalah esensi berupa moral dan mental menjadi sekunder seharusnya . Dalam kasus membangun moral anak bangsa ini, mayoritas guru melihat hebatnya anak didik tersebut karena sukses dalam studi.

Itulah yang membedakan kualitas guru dalam mengembangkan insan berkualitas ke depan. Sisi sukses akademik yang hanya sementara seharusnya mulai dikikis dengan sukses membangun moral dan mental. Karena dari landasan pikir semacam ini eksistensi bangsa kita ke depan bisa berlanjut dan menjadi lebih di perhitungkan oleh bangsa lain. 

Pembicaraan soal konsep meraih masa depan yang lebih baik bagi anak didik kita, membeda-bedakan atau bahkan membandingkan kemampuan anak dihadapan sesama peserta didik adalah tabu. Bila ini dilakukan, kita (guru) akan dicap sebagai sosok yang kurang peka atas kenyataan hidup. 

Menjadi penting untuk melihat bagaimana nasib anak bangsa ini ke depan. Kenapa? Karena pikiran di atas merupakan cerminan pikiran arus utama (mainstream) kemampuan otak bagi anak bangsa ini yang dijadikan rujukan. Sedangkan melihat aspek moral perilaku keseharian belum dijadikan rujukan.

Sebagai catatan penting, sudah seharusnya seorang guru dalam mengukur kesuksesan diri dari anak didik dalam menyelesaikan studi dibangun karena rasa empati. Kepekaan/naluri guru berdasar pengalaman dan pengamatan mata batin dalam menjalankan tugas mendidiknya bisa dijalani rujukan. Dan dari situlah masyarakat dan wali siswa bisa menilai mana guru profesional dan memiliki kecermatan nalar yang benar dan mana guru yang hanya sekedar mencari penghidupan melalui kegiatan belajar mengajar. Wallohu 'alam bis sawab! (*)

Editor : oci
Uploader : slatem
Penulis : ist
Fotografer : ist

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU