Pramuka Dalam Prespektif Perjuangan Bangsa

  • 14-08-2019 / 18:46 WIB
  • Kategori:Opini
Pramuka Dalam Prespektif Perjuangan Bangsa

“Sejarah PRAMUKA di Indonesia tidak bisa lepas dari sejarah kepanduan duniadanperjuangan bangsa Indonesia”

“Semoga Pramuka Indonesia bisa menjadi DI SANALAH AKU BERDIRI JADI PANDU IBUKU”

 

Sekelumit Tentang Sir Baden Powel

Baden Powel lahir di Inggris 22 Februari 1857. Dalam karier militernya Baden Powel pernah mengenyam pedidikan artileri yaitu keahlian militer pada senjata meriam. Baden Powel tercatat sebagai anggota militer Kerajaan Inggris pada tahun 1876 sampai dengan 1910. Selama berkarier di dunia militer pernah beberapa kali melaksanakan tugas pertempuran, salah satunya adalah perang Boer di Afrika Selatan yaitu perang antara kerajaan Inggris melawan penduduk Boer Afrika Selatan yang berbahasa Belanda.

Keahliannya dalam bidang militer serta pengalaman dan keberhasilannya dalam berapa pertempuran membuat dia menulis tentang pentingnya kemampuan kepanduan pada tentara muda Inggris. Tujuan awalnya adalah mendidik para tentara muda Inggris untuk memiliki jiwa kesatria, berani, dan suka menolong sesamaserta mampu bertahan hidup dari kerasnya tantangan alam. Untuk mencapai itu semua maka para tentara mudadiharapkan menguasasi materi-materi ekplorasi, trekking, kemping, kecakapan, penjelajahan hutan  serta kepercayaan diri selain kemampuan tempur sesuai bidang tugasnya.

Tujuan ini kemudian ditulisnya dalam salah satu bukunya tentang ilmu kepanduan pada tahun 1899 dengan judul “Aids to Scouting” (Pedoman Untuk Kepanduan). Ternyata buku Baden Powell ini sangat disukai dan digemari oleh para pemuda sipil khususnya organisasi kepemudaan dan sekolah. Momentum sejarahnya diawali pada taggal 25 Juli 1907 saat Baden Powell melaksanakan perkemahan pertamanya bersama 22 anak lali-laki di pulau Brownsea, Inggris. Perkemahan yang dilaksanakan selama delapan hari ini dijadikan tonggak penting dan kemudian dijadikan hari lahir gerakan pandu dunia.

Baden powel mengakhiri karier militernya dengan pangkat Letnan Jenderal pada tahun 1910 dan kemudian lebih fokus pada pengembangan pendidikan kepanduan untuk melatih jiwa kemandirian pemuda. Tokoh pandu dunia ini meninggal pada 8 Januari 1941 di Nyeri, Kenya.

 

Sejarah Pramuka di Indonesia

Sejarah Pramuka di Indonesia tak bisa lepas dari sejarah perjuangan bangsa Indonesia untuk melepaskan diri dari belenggu penjajahan. Saat itu bangsa kita masih di bawah penjajahan Belanda. Ide, pembelajaran dan organisasi-organisasi kepanduan sangat poluler dan berkembang di seluruh dunia tak terkecuali di negara Belanda yang kebetulan saat itu mejajah Indonesia. Dari Belandalah ide untuk mengembangkan organisasi kepanduan di Indonesia untuk pertama kalinya muncul. Dengan ditandai terbentuknya NPO (Nederland Padvinders Organisatie) pada tahun  1912 yang kemudian berganti nama menjadi NIPV (Nederland Indsche Padvinders Vereeniging)tahun 1916 adalah mengawali terbentuknya organisasi kepanduan di tanah air kita.

Momentum penting dari hari lahir PRAMUKA adalah tanggal 14 Agustus 1961, yaitu saat dilaksanakannya Pelantikan MAPINAS, KWARNAS dan KWARNARI, serta defile-defile PRAMUKA dan penyerahan panji-panji GERAKAN PRAMUKA di Istana Negara oleh Presiden Soekarno. Pada peristiwa itu terpilih Sri Sultan Hamengku Buwono IX sebagai ketua KWARNAS I. Peristiwa besar ini menandai hari lahirnya PRAMUKA dan menetapkan Bung Karno sebagai Pramuka Agung dan Sri Sultan Hamengku Buwono IX sebagai bapak Pramuka Indonesia.

               

Pramuka dalam era Milenial

Seiring dengan berubahnya zaman maka mengubah pula bentuk tantangan yang dihadapi,untuk itu cara menghadapi sekaligus mengatasinyapun juga harus berubah. Tantangan yang dihadapi bangsa Indonesia saat zaman penjajahan sampai mempertahankan kemerdekaan tentu berbeda dengan tantangan yang dihadapi bangsa Indonesiadi era globalisasi dan revolusi industri 4.0. Di saat itu pemuda bersatu untuk melawan musuh yang sama yaitu kaum penjajah. Di saat ini para pemuda dihadapkan pada musuh yaitu penyakit mental akibat revolusi industri yang mengakibatkan manusia lebih mementingkan kepentingan sendiri dari pada kepentingan sosial dan bangsa.

Dalam era milenial dan revolusi industri 4.0, membuat manusia semakin bersifat individualistik dan hedonistik. Perkembangan teknologi komunikasi yang sangat pesat kadang justru menjauhkan jarak empati antar manusia. Sikap apatis dan tidak mau tahu terhadap apa yang terjadi di sekelilingnya apalagi kondisi bangsanya membuat rentannya ketahanan negara.

Perkembangan teknologi di era globalisasi di satu sisi membawa keuntungan tapi di sisi lain bisa mendatangkan bahaya bagi ketahanan bangsa jika tidak bijaksana dalam menerimanya. Arus informasi yang semakin bebas membuat para pemuda sangat mudah menerima apapun informasi yang diingikan, lepas itu informasi positif maupun negatif. Faham, ajaran, ideologi yang kadang bertentangan dengan nilai-nilai luhur bangsapun semakin mudah meracuni jiwa anak-anak muda. Dengan fenomena ini maka eksitensi negara sangat dipertaruhkan.  

Di sinilah fungsi hadirnya gerakan Pramuka yang diharapkan mampu menangkal semua pengaruh negatif dari perkembangan jaman. Dwi Satya (dua janji) dan Dwi Dharma (Dua Pengamalan) adalah janji kode etik dan dua pengabdian dari Pramuka muda atau siaga. Siaga yang artinya siap-siap, makasejak dini putra-putri bangsa sudah dibiasakan berkehidupan yang mulia. Dengan pengamalan Dwi Satya dan Dwi Dharma dari pemuda-pemuda kecil ini maka akan semakin terkikislah ajaran, faham, ideologi yang bertentangan dengan nilai-nilai luhur bangsa akibat dari perkembangan jaman. Selain itu dengan Dasa Dharma yang merupakan sepuluh kewajiban akan menangkal pengaruh-pengaruh negatif dari perkembangan jaman, era globlalisasi dan liberalisasi. Para pemuda yang tergabung dalam Pramuka akan selalu terlindungi dari pergaulan-pergaulan negatif mengingat, Dwi Dharma, Dwi Satya dan Dasa Dharma selalu menuntun kehidupannya sehari-hari, baik kehendak, ucapan maupun tindakannya.

Gerakan Pramuka diharapkan bisa berkembang secara dinamis mengikuti perkembangan jaman dengan tidak meninggalkan subtansi tujuannya, yaitu membentuk karakter anak bangsa yang unggul secara menyeluruh, membina kaum muda dalam mengaktualisasikan potensi-potensi dalam dirinya, dan menjadikan manusia yang spiritual, sosial dan intelektual.Untuk selanjutnya Gerakan Pramuka diharapkan mampu menjadi jawaban atas terjadinya degradasi mental dan spiritual pada para pemuda.

Kegiatan Pramuka telah terbukti dapat menangkal pengaruh negatif dari perkembangan teknologi yang terjadi. Mengingat pentingnya keberadaan Pramuka bagi ketahan mental pemuda dan bangsa maka sebaiknya oranisasi dan kegiatan gerakan Pramuka ini diwajibkan kepada seluruh siswa pada semua jenjang satuan pendidikan.

Dalam sejarah bangsa Indonesia telahterbukti bahwa organisasi kepanduan atau PRAMUKA ikut menjadi penuntun dan pelopor bagi perjuangan memperoleh, mempertahankan bahkan mengisi kemerdekaan sesuai dengan bait-bait lagu kebangsaan Indonesia Raya.

DI SANALAH AKU BERDIRI JADI PANDU IBUKU (*/Malangpostonline.com)

Editor : oci
Uploader : slatem
Penulis : ist
Fotografer : ist

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU