Cara Media Memerdekakan Masyarakat

  • 16-08-2019 / 20:36 WIB
  • Kategori:Opini
Cara Media Memerdekakan Masyarakat

Dalam suatu seminar, penulis bertemu dengan beberapa kawan, yang kebetulan sedang membaca Koran. Diantara kawan ini ada yang nyeletuk   atau meledek koran ini enak dibaca. Kawan lainnya bertanya, ”enaknya dimana”?. Kawan  yang ditanya menjawab ”banyak berita kriminalitasnya, yang pengupasannya sampai detail”. Kawan tadi bertanya lagi ”detailnya dimana”?  Kawan yang ditanya langsung menyodorkan  salah satu berita tentang kasus pencabulan yang membeberkan kronologisnya.

Akibat dialog kawan tadi, penulis pun mulai ikut cermati berita-berita halaman kriminalitas. Di halaman berita ini, tiada hari tanpa pemberitaan mengenai kiminalitas, yang barangkali oleh sebagian orang disebut  sebagai komoditi kasus kriminalitas, dan bahkan boleh jadi dituding jadi akar penyebab yang mendorong maraknya perilaku menyimpang. Benarkah demikian?

Tidak bisa disimpulkan kalau berita kriminalitas otomatis sebagai ”materi mengajak berbuat kriminalitas”.  Seseorang atau masyarakat diberi informasi oleh media tentang sindikat narkoba, modus operandi perkosaan (rape), perdagangan manusia, illegal logging, dan kejahatan istimewa (exstra ordinary crime) lainnya, bertujuan sebagai bentuk pendidikan yang ”memerdekakan”-nya dari perangkap jadi korban kejahatan.

Masyarakat diajak ”silaturahim” oleh media untuk mengenal modus operandi kriminalitas, yang bukan tidak mungkin sedang mengintai dan merekayasanya sebagai target yang dikorbankan. Media bermaksud mengingatkan masyarakat tentang arti ”kewaspadaan” terhadap penyakit sosial yang terus tumbuh subur dan bermaksud merampas kemerdekaannya dari atmosfir kehidupan damai, sejahtera, dan menyelamatkan.

Ada pepatah populer yang berbunyi  “evil causis evil vallacy”  atau sesuatu yang buruk terjadi adalah disebabkan oleh hal-hal buruk pula. Jika sesuatu yang buruk ini tidak dikenalkan (diinformasikan) atau ditransformasi pada masyarakat, ditakutkan lambat laun sesuatu yang buruk seperti kriminalitas ini menjadi pandemi. Kalau sampai jadi pandemi, kita akan terlambat bilang sudah memasuki tahap kondisi darurat yang”wajib dijadikan sebagai musuh bersama” (common enemy)

Kalau pengaruh buruk masih banyak terjadi dalam diri kita, di lingkungan keluarga kita, di lingkungan orang-orang dekat kita, dan di tengah masyarakat kita, maka rasanya sulit jika kita menghindar dari penyakit-penyakit sosial. Kondisi buruk ini dapat menyeret kita masuk dalam perangkapnya dan menjadi bagian dari penyakit itu sendiri, sehingga bukan tidak mungkin, sikap dan perilaku buruk  dapat dengan mudah kita jadikan sebagai ”industri” yang tumbuh subur berdiri dan berakselerasi di tengah masyarakat.

Salah satu penyakit sosial yang belakangan ini gampang menyeruak terjadi dan bahkan jadi booming di tengah masyarakat adalah pelanggaran hukum  atau kejahatan.  Tindakan ini bahkan terjadi di lingkungan sosial yang semula tidak diduga akan memunculkan penyakit sosial itu. Masyarakat yang semula merasa yakin kondisi lingkungannya aman, akhirnya terampas kemerdekaannya dan ikut-ikutan merasa ”dijajah” oleh miopik dan kekhawatiran akan terusik oleh tindak kejahatan.

Dalam kehidupan normal, siapapun orangnya tentu tidak ingin lingkungan kehidupan keluarga dan masyarakatnya diusik, diganggu, atau dinodai oleh kejahatan.  Mereka ini tentu menginginkan dan mengidolakan iklim kehidupan yang aman, nyaman, dan damai, dan bukannya iklim kehidupan yang sarat pelanggaran hukum dan berbagai bentuk kekejian (kebiadaban). (Imam KH, 2007)

Islam misalnya sebagai agama rahmatan lil-alamin sudah menggariskan secara umum, bahwa pola hidup seseorang di tengah masyarakat haruslah yang berkadar bisa memberikan “rahmat” bagi kehidupan manusia lainnya.  Peran-peran yang dimainkannya harus mencerminkan kalau dirinya adalah pelaku sejarah yang bertugas memakmurkan bumi dan sesama, yang diantaranya terealisasi dalam bentuk menjaga kedamaian, keamanan, dan ketenangan hidup sesamanya. Dan peran diantaranya menjadi “alat” dakwah bil-qalam yang diidealkan melindungi masyarakat dari kemungkinan menjadi korban instan dan berlanjut.

Ketenangan dan kedamaian hidup sesama itu dapat dijaga dengan cara mewujudkan silaturahim, merajut dan membina hubungan baik, saling bertukar dan menyebarkan informasi yang bermanfaat, saling menghormati, mengasihi, dan menyayangi sesamanya, atau memerdekakaan sesama dari beban yang menghimpit dan mencengkeramnya..

Rasulullah SAW bersabda, bahwa yang paling cepat dapat mendatangkan kebaikan adalah balasan (pahala) orang yang berbuat kebajikan dan menyambungkan tali silaturahim, sedangkan yang paling cepat mendatangkan kejahatan ialah balasan orang yang berbuat jahat dan memutuskan hubungan kekeluargaan.

Putusnya silaturahim memang berpeluang direkayasa oleh orang-orang tertentu untuk melahirkan dan menyuburkan kejahatan. Renggangnya  atau merekahnya persaudaraan merupakan bibit awal atau ”pintu pembuka” yang membuat orang atau kelompok lain bisa menjadikannya sebagai tameng untuk mengantarkan dan merealisasikan ambisi-ambisi jahatnya. Kejahatan tak akan pernah menjadi ”supremasi” dan tak layak jadi common enemy yang  merampas kemerdekaan, kalau sejak dini setiap elemen sosial, diantaranya media, mampu memainkan peran dakwah bil-qalam-nya  yang memerdekaan dari kemungkinan menjadi korban berbagai bentuk virus yang mengenainya.

Jika masyarakat mau memahami makna 'menyambungkan' (merelasikan) adalah suatu proses aktif dari sesuatu yang asalnya tidak tersambung, tentulah apa yang namanya kriminalitas bisa didekonstruksi lewat informasi yang saling sambung menyambung. Rasulullah SAW bersabda, yang disebut bersilaturahim itu bukanlah seseorang yang membalas kunjungan atau pemberian, melainkan bersilaturahim itu ialah menyambungkan apa yang terputus.

Saudara yang terputus harus dicari, kawan yang memusuhi harus diupayakan islah, kawan yang pendendam harus dicarikan resep penyelesaiannya,  seseorang atau masyarakat yang buta informasi harus ”disapa”, atau pihak lain yang sibuk konflik  dan bertikai, harus dicarikan obat yang bisa mencairkannya menuju persaudaraan dan harmonisasi, bukan dibiarkan makin menuju kerentanan, kerapuhan dan kehancuran akibat terkoyak oleh kriminalitas.

Begitu pentingnya silaturahim ini, dalam sebuah hadis disebutkan, 'barangsiapa senang untuk dipanjangkan umurnya (dimerdekakan dari kejahatan yang mengakibatkan kematian) dan diluaskan rezekinya serta dihindarkan dari kematian yang buruk, maka hendaklah ia bertakwa kepada Allah dan menyambung silaturahim.

Hadis tersebut bermakna edukatif, mendidik kita supaya menegakkan dan memperluas silaturahim. Ketika silaturahim ini memberdaya dan mengikat erat diri kita, maka  niscaya berbagai bentuk penyakit sosial  semacam kejahatan yang sebenarnya bisa terjadi kapan saja dan meledak  dimana saja atau menjadi ancaman yang membahayakan ketahanan  masyarakat bisa dicegah sejak dini. (*/Malangpostonline.com)

Editor : oci
Uploader : slatem
Penulis : ist
Fotografer : ist

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU