Lebih Ramping

  • 20-08-2019 / 22:17 WIB
  • Kategori:Opini
Lebih Ramping

Surprise!. Kejutan itu bahkan sudah Anda terima sebelum membaca catatan saya. Karena kejutan itu begitu nyata, langsung dapat Anda lihat dan rasakan saat menerima korane arek Malang ini di tangan.

Ukuran Malang Post berubah, lebih ramping. Lebih mudah dibawa dan dibaca. Bahkan saat Anda membuka halaman per halaman dalam kendaraan menuju ke tempat wisata hari ini.

Perubahan ini tidak tiba-tiba. Sudah melalui pemikiran dan pertimbangan yang matang. Ukuran koran Malang Post adalah 33,5 cm x 55 cm. Dengan ukuran tersebut, halaman Malang Post dibagi menjadi tujuh kolom dengan ukuran per kolomnya 4,2 cm.

Soal kolom ini, banyak pembaca dan pemasang iklan yang seringkali masih bingung. Mereka bertanya saat mendapatkan penawaran iklan yang biasa dibahasakan per milimeter/kolom: “Apa sih kolom itu?”. Gampangnya, kolom itu lajur berita. Meski dalam praktiknya para layouter tidak melulu berpatokan membuat satu kolom 4,2 cm, bisa lebih tapi tak bisa kurang. Sesuai kebutuhan bagaimana bagusnya menata halaman.

Edisi minggu, 18 Agustus 2019 ini, ukuran Malang Post menjadi 26 cm x 32 cm. Dibagi lima kolom dengan ukuran yang juga berubah. Tak lagi 4,2 cm tapi 4,6 cm per kolom. Harga jualnya tetap. “Wah, saya rugi dong” mungkin ada yang komentar begitu. Jangan keburu protes pembaca. Kami sama sekali tidak mengurangi hak Anda. Meski ukuran lebih ramping, jumlah halaman bertambah. Menjadi 24 halaman.

Dengan konsep ini sebenarnya tugas redaksi lebih berat. Wartawan dan fotografer harus menyiapkan berita dan foto lebih bagus secara kualitas. Sebab jumlah headline dan foto A menyesuaikan jumlah halaman. Lebih banyak. Pun begitu dengan tugas layouter. Halaman yang harus didesain bagus dan serius naik dua kali lipat.

Maka untuk mempersiapkan edisi ini, deadline redaksi maju dua jam dibanding hari-hari biasa. Karena percetakan juga memajukan deadline kirim halaman. Tugas mereka untuk memotong kertas bertambah dibanding edisi normal. Saat Malang Post menyampaikan ingin mengubah ukuran cetak koran, bahkan percetakan meminta waktu untuk melakukan trial internal terlebih dahulu. Supaya mereka lebih siap, sehingga hasil cetak maksimal.

Nah, kalau prosesnya lebih ribet, kenapa Malang Post harus cetak dengan ukuran ini?.

Kreativitas. Kami ingin memberikan pengalaman baru kepada Anda dan seluruh masyarakat yang setia menemani perjalanan Malang Post selama ini. Sesuatu yang berbeda, yang belum pernah dilakukan oleh media cetak lain, khususnya di Malang Raya.  Bahwa untuk menghasilkan kreativitas itu dibutuhkan kerja yang lebih keras, itu adalah konsekuensi. Proses yang harus dilewati.

11 Maret 2019 lalu, Malang Post kedatangan tamu. Band asal Belanda, namanya DeWolff. Mereka terdiri dari tiga personel, Pablo Petrus Andreas Van De Poel, Luka Hendrikus Ramon Van De Poel dan Robin Piso. Mereka mampir ke Malang Post karena akan tampil untuk konser perdana di Malang. Diantar oleh Pusat Kebudayaan Belanda di Jakarta, Erasmus Huis.

Katanya, tidak afdhol masuk Malang kalau tidak bertamu ke korane arek Malang ini. Mereka, khas anak millenial yang santai. Tidak jaim. Cuek dan blak-blakan. Termasuk saat menikmati onde-onde dan molen. Kudapan yang kami sajikan sore itu. Mereka suka sekali. Khususnya kakak-beradik Pablo dan Luka. Dalam obrolan ringan, saya bertanya ke mereka. Masih kah mereka membaca koran di negaranya.

“Masih dong. Setiap hari baca koran, kami juga berlangganan koran di rumah,” kata Pablo. “Tapi koran kami not as big as yours, ukurannya lebih kecil,” katanya.

Menurutnya, dengan ukuran koran yang lebih kecil ala tabloid, memudahkan untuk membawa koran dan membacanya di manapun. Misalnya saat di bus maupun di kereta. “Saat membuka koran, tidak akan mengganggu orang yang ada di samping kita, karena ukurannya tidak terlalu besar,” jelasnya. Make sense.

Saya tidak tahu Pablo dan Luka berlangganan koran apa karena memang tidak saya tanyakan waktu itu. Tapi salah satu koran dengan oplah terbesar di Belanda, De Telegraaf yang terbit sejak 1 Januari 1893 dicetak dalam format tabloid. Masih banyak lagi koran terbitan negara-negara di Eropa yang dicetak ala tabloid. Alasannya, praktis. Seperti yang disampaikan Pablo tadi.

Selain kreativitas, praktis memang menjadi pertimbangan kami saat memutuskan untuk mengubah ukuran Malang Post. Selain Anda warga bhumi Arema, banyaknya wisatawan yang masuk Malang di weekend membuat mereka membeli korane arek Malang ini. Untuk tahu peristiwa yang sedang hits dan yang baru saja terjadi di Malang Raya. Ukuran yang simpel memudahkan wisawatan membawa Malang Post pulang. 

Pemilihan minggu ini untuk terbit perdana koran ukuran baru juga istimewa. Masih nuansa kemerdekaan. Spirit kemerdekaan menginspirasi kita untuk selalu mampu berkarya lebih baik untuk bangsa. Slogan SDM Unggul Indonesia Maju pun sangat tepat menggambarkan perjuangan awak redaksi Malang Post. Bahwa kami ingin menjadi bagian SDM unggul itu, untuk ikut membangun Indonesia lebih maju lewat media massa.

Oia pembaca, ukuran simpel ini hanya kami terbitkan di hari minggu. Malang Post di weekdays akan terbit dengan ukuran seperti biasanya. Saya sangat ingin mendengar feedback dari Anda. Silakan kirimkan komentar Anda ke nomor WA ini: 08123356850.

Selamat berkumpul bersama keluarga, selamat menikmati Malang Post yang lebih ramping. Happy Weekend! . (*/Malangpostonline.com)

Editor : Dewi Yuhana
Uploader : slatem
Penulis : hana
Fotografer : hana

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU