Menuju Arema "The Best Suporter"

  • 05-09-2019 / 22:16 WIB
  • Kategori:Opini
Menuju Arema "The Best Suporter"

Menuju Arema sebagai pahlawan, kampiun menuju “The Golden Tim” dan “The Best Suporter”, di negeri ini sungguh menjadi suatu kebanggaan para suporter aremania dan aremanita yang fanatisme di Malang Raya dan seluruh Indonesia. Perlu dipahami bahwa suporter itu artinya adalah orang yang memberikan dukungan, terlepas kalah atau menang suporter yang baik tentunya harus tetap mendukung klub yang didukungnya. Bukannya besar kepala, jika tim yang didukung menang tentunya jangan jadi merendahkan tim lawan. Wajar di saat tim yang didukung kalah, suporter pasti kesal dan sedih tapi bukan berarti meluapkan kemarahan brutal yang bisa berbuat onar untuk melampiaskan kekecewaan hingga anarkis.

Menjadi suporter fanatik tidak masalah selama itu masih dalam taraf kewajaran justru menjadi kearifan lokal jika dapat ditauladani. Tetapi yang disayangkan adalah ketika suporter mendukung secara berlebihan bahkan membabi buta dimana rela melakukan apa saja demi mendukung klub walaupun harus melanggar hukum dan norma sekalipun. Dalam mendukung klubnya jika bermain di luar kandang, maka atas nama fanatisme ada yang menumpang atap kereta tanpa membayar karcis, masuk stadion secara ilegal tanpa tiket dan lebih parah pulangnya pertandingan menjarah pedagang di pertokoan. Membela tim yang didukung adalah suatu kewajaran, yang tak wajar adalah ketika mengolok-olok tim lain dengan kata-kata kasar, dan ada pula yang saling hina dengan kata-kata melecehkan.

Potret buram di atas haruslah ditinggalkan, sebaliknya jadilah suporter yang sportif dan positif sebagaimana yang telah dibumikan Arema untuk menjadi supporter terbaik di tanah air. Akankan di tahun 2019 ini Aremania dapat menggapai menuju “The Best Suporter”? Kondisi ini haruslah dievaluasi diri sembari membumikan menjadi suporter teladan. Kondisi di lapangan menunjukkan bahwa akhir-akhir ini sanksi dari Komisi Disiplin PSSI kembali dijatuhkan kepada Arema FC. Tim berjuluk Singo Edan itu harus membayar denda sebesar Rp150 juta karena tingkah laku buruk suporternya. Aremania sudah menyebabkan tiga sanksi turun dari Komdis PSSI di Shopee Liga 1 2019.  Komisi Disiplin Komisi Disiplin mengantongi bukti pelanggaran yang dilakukan Aremania saat pertandingan melawan Tira Persikabo di Stadion Gajayana, Malang, pada 29 Juni lalu. Saat itu, Aremania menyalakan flare dan petasan di tribune utara serta melempar botol ke dalam lapangan (Bola.com, 29/6/2019).

Korban itu ya manusia juga, anak dari seseorang, kakak dari seseorang, adik atau saudara dari seseorang yang akan merasa terpukul dan kehilangan dengan kejadian ini. Kalau hal tersebut terjadi kepada kita bagaimana perasaan kita. Jadi mari lebih berpikir panjang dan ingat yang terpenting bahwa apapun atau sekecil apapun yang kita lakukan kelak akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat.  Arema harus dapat menjadikan suporter yang bermartabat yang patut dicontoh sebagaimana telah ditanamkan para pendiri Arema.

 

Menjadi Suporter Positif

Menjadi suporter yang mendukung tim kesayangan  saat pertandingan tingkat nasional seperti di Shopee Liga 1 2019 dapat membantu para fans menemukan ikatan komunitas yang kuat. Berkaitan dengan semaraknya kontroversi suporter yang menyisakan permusuhan atau friksi yang berdampak pada korban nyawa dan pengrusakan material, maka kiat jitu yang dapat ditempuh supporter Arema menuju “The Best Suporter” adalah sebagai berikut.

Pertama,  Tumbuhkan sikap saling menghargai dimana respect, sebuah kata yang sering digaungkan dalam pertandingan sepak bola nyatanya juga harus berlaku dalam lingkungan suporter sepak bola. Rasa saling menghargai harus ditumbuhkan dan disebarkan secara besar-besaran agar mengikis yang namanya sebuah fanatisme buta.

Kedua, Perbanyak ilmu dan khazanah tentang dunia sepak bola, artinya ketika menjadi suporter sepak bola, suporter harus tahu tentang sejarah tim yang didukung, hingga paham bagaimana sebuah siklus yang ada di dalam dunia sepak bola. Timbulnya sifat anarkis dalam diri seorang suporter sering dipicu kurangnya khazanah pengetahuan mengenai makna sepakbola itu sendiri.

Ketiga, Buang ego berlebihan, artinya adalah hal paling besar mengapa seorang suporter bisa berlaku keji terhadap orang lain. Ketika suporter mampu mengontrol ego, maka itu adalah sebuah pencapaian tertinggi dari seorang suporter berkelas. Jika suporter masih tidak mampu menghapus egonya yang hanya mendewakan tim yang didukung, tentu bukanlah suporter sepak bola yang bijaksana.

Keempat, Pahami bahwa sepak bola hanya sebuah pertandingan, bukan ajang gladiator artinya sepak bola hanyalah sepak bola. Sebuah pertandingan selama sembilan puluh menit. Sepak bola bukan ajang pamer kekerasan dan layaknya ajang gladiator. Jadi, ketika suporter mendukung sebuah tim sepak bola, pahami bahwa suporter hanya sebagai komponen pendukung karena kecintaannya terhadap klub dan berikan sesuatuyang  positif bukannya tindakan yang negatif.

Kelima, Memahami kembali makna sejati menjadi suporter sepak bola. Artinya adalah suporter  mencoba memahami kembali makna suporter sepak bola sejatinya seperti apa. Nyatanya menjadi seorang suporter adalah sebuah pilihan, dimana di dalamnya juga memiliki kaidah-kaidah kebaikan. Mendukung tim kesayangan dan memberikan kesan positif kepada suporter sepakbola yang lainnya adalah kunci menjadi seorang suporter sepakbola sejati.

Kiat jitu tersebut paling tidak harus dibumikan sebagai modal kedewasaan Aremania untuk senantiasa  sadar bahwa sikap respect itu penting. Filterisasi adalah penting untuk mencegah terjadinya bentrok antar suporter dan dendam berkepanjangan yang semua itu harus dicegah. Selain itu kiat lain yang harus dilakukan adalah melakukan koordinasi para suporter dengan kepolisian dengan memberikan data base, relationship antar kelompok suporter dan pengamanan Kepolisian dengan metode pendekatan indirect serta pemanfaatan teknologi pengawasan. Pada akhirnya, jika kiat ini dilakukan penuh konsisten oleh supporter Aremania,  maka “The Best Suporter” di negeri ini akan dapat diraih menuju citra Arema jaya selamanya. (*/Malangpostonline.com)

Editor : oci
Uploader : slatem
Penulis : ist
Fotografer : ist

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU