Kemacetan Kota Malang Tanggung Jawab Siapa?

  • 10-09-2019 / 01:49 WIB
  • Kategori:Opini
Kemacetan Kota Malang Tanggung Jawab Siapa?

Selamat datang Mahasiswa Baru di Kota Malang. Sebuah banner ucapan selamat datang ini terpampang hampir di setiap sudut universitas di Kota Malang. Karena bulan Agustus – September menjadi awal tahun akademik bagi sebagian besar kampus di Kota Malang. Kota yang juga dijuluki sebagai kota pendidikan, karena memiliki kampus ternama ini selalu akan kedatangan banyak perantau dari berbagai daerah untuk mengenyam pendidikan di kota ini. Ekonomi berkembang pesat, berbagai bisnis kuliner, maupun jasa bertumbuh dengan baik di kota yang menjadi kota pendidikan. Banyaknya mahasiswa yang berdatangan di kota Malang juga menjadi salah satu faktor penyebab kemacetan di Kota Malang.

Penambahan jumlah mahasiswa yang tiap tahun semakin bertambah selalu menjadi faktor penyumbang kemacetan. Terutama di wilayah jalan sekitar kampus, yang kebanyakan ruas jalannya kurang lebar. Maka, kemacetan tidak bisa dihindari lagi. Selalu terjadi hampir tiap hari, di pagi hari maupun di sore hari. Selain banyaknya pendatang, penyebab kemacetan tidak lain dikarenakan jumlah kendaraan yang hampir separuh jumlah penduduk Kota Malang. Hal ini menjadi faktor kemacetan utama sebagaimana disebutkan oleh Hoeve (1990) yang mengatakan bahwa Kemacetan merupakan masalah yang timbul akibat pertumbuhan dan kepadatan penduduk sehingga arus kendaraan bergerak sangat lambat.Bergkamp (2011) menjelaskan bahwa kemacetan lalu lintas memberikan dampak negatif yang sangat besar bagi penduduk, seperti pemborosan bahan bakar, terbuangnya waktu secara percuma, dan kerusakan lingkungan akibat polusi udara yang dikeluarkan oleh kendaraan bermotor.

Pernyataan akademisi Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya (FEB UB), Nurkholis yang dimuat dalam republika.co.id April lalu menyatakan bahwa 10 hingga 15 tahun lagi Kota Malang akan menjadi kota yang tidak nyaman karena kemacetan yang luar biasa. Jika, tidak dimulai langkah-langkah untuk mengatasinya. Ruas jalan yang tidak sebanding dengan jumlah kendaraan yang ada saat ini, perlu dicarikan solusinya. Wali kota Malang Sutiaji mengemukakan, jumlah kendaraan di Kota Malang terus bertambah sejak tahun 2012. Pada tahun 2012, jumlah kendaraan mencapai 858.666 unit. Pada 2013 meningkat menjadi 895.556 unit, pada 2014 bertambah menjadi 898.556 unit, dan 2015 menjadi 943.156 unit, serta 1.045.380 pada 2016. Tentu saja, langkah-langkah sebagai solusi dari permasalahan kemacetan Kota Malang perlu adanya sinergi antar stakeholder, baik pemerintah, akademisi, swasta juga masyarakat.

Faktor lainnya yang juga menyumbang kemacetan di jalan-jalan lokal adalah adanya parkir kendaraan yang memakan ruas jalan. Sehingga hal ini juga berdampak mempersempit jalan dan membuat kemacetan terjadi. Dari berbagai faktor kemacetan yang bisa di analisis diatas, maka alternatif solusinya adalah; Pertama, adanya regulasi pembatasan kendaraan. Regulasi pembatasan kendaraan adalah salah satu alternatif solusi untuk mengurangi jumlah kendaraan yang terus menerus bertambah. Ketimpangan antara ruas jalan dan jumlah volume kendaraan inilah yang menyebabkan kemacetan terjadi dimana-mana. Maka, regulasi pembatasan jumlah kendaraan bisa dilakukan dengan cara menerapkan sistem pajak yang tinggi, menerapkan sistem 1:4 yang artinya dalam satu mobil wajib di isi oleh 4 orang. Sebagai contoh di Singapura diterapkan sistem pajak yang tinggi guna mengurangi jumlah kendaraan. Pajak yang tinggi membuat masyarakat akan berpikir panjang untuk membeli atau menambah jumlah kendaraan yang dimilikinya.

Alternatif solusi yang kedua yaitu, Pelebaran jalan di ruas-ruas kemacetan. Daerah kemacetan Kota Malang, selain jalan raya, juga jalan-jalan sekitar kampus yang lebar jalannya masih tergolong sempit. Seperti sekitar Dinoyo, Jalan Gajahyana, dan sekitaran kampus lainnya. Maka pelebaran jalan diharapkan dapat mengurai kemacetan yang terjadi di area tersebut. Ketiga, tersedianya sarana transportasi umum yang aman, nyaman dan murah. Alasan utama masyarakat lebih memilih menggunakan kendaraan pribadinya adalah sarana transportasi yang ada tidak bisa digunakan dengan aman dan nyaman. Apalagi saat ini adanya kemudahan transportasi online harusnya membuat masyarakat memilih untuk tidak menggunakan kendaraan pribadinya, dan lebih baik lagi jika menggunakan fitur sharing tempat duduk yang beberapa transportasi online juga memilikinya. Sehingga hal ini dapat mengurangi jumlah kendaraan dan bisa mengurai kemacetan dengan bertahap.

Keempat, Perguruan tinggi perlu mengimbau dan memberikan peraturan bagi mahasiswa untuk tidak membawa mobil pribadi ke kampus. Himbauan menggunakan transportasi umum bagi mahasiswa akan memberikan dampak signifikan jika dijalankan. Mengingat jumlah mahasiswa Kota Malang yang begitu besar, apalagi jika satu mahasiswa membawa kendaraan pribadi, tentu akan semakin membuat jalanan Kota Malang padat dan penuh sesak. Maka edukasi kesadaran untuk berjalan kaki jika kos ke kampus jaraknya dekat, kemudian memilih moda transportasi umum, dan memastikan penumpang lebih dari 3 bagi mereka yang membawa mobil pribadi, tentu akan memberikan dampak mengurai kepadatan jalanan Kota Malang khususnya di area sekitar kampus.

Kelima, Perlu adanya imbauan kepada masyarakat yang tidak memiliki garasi untuk tidak memiliki kendaraan, atau larangan untuk tidak parkir di ruas jalan. Karena kesadaran dalam berkontribusi untuk mengurangi kemacetan menjadi hal penting yang harus dilakukan oleh seluruh stakeholder, baik pemilik kendaraan, masyarakat pengguna jalan, maupun pemerintah. Maka perlu adanya kesepakatan-kesepakatan yang dibuat di lingkup RW/ Kelurahan dan Kecamatan sehingga dapat mengajak seluruh masyarakat turut andil dalam mengurai kemacetan dengan berbagai solusi alternatif di atas. Masalah kemacetan memang menjadi masalah pembangunan yang selalu timbul di wilayah perkotaan. Karenanya, masalah kemacetan tidak serta merta dapat diselesaikan jika masyarakat sendiri tidak memiliki kesadaran bahwa setiap masyarakat memiliki tanggungjawab yang sama agar kemacetan tidak terjadi. Seperti tidak melanggar marka jalan, tidak parkir sembarang tempat, dan berbagai perilaku yang menambah kemacetan. Karena sebenarnya setiap orang tidak ingin kena macet, maka menjadi pribadi yang tidak menyebabkan terjadinya kemacetan adalah sebuah solusi praktis yang bisa dilakukan setiap orang. (*/Malangpostonline.com)

Editor : oci
Uploader : slatem
Penulis : ist
Fotografer : ist

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU