Bahasa, Buku dan Penulis

  • 08-10-2019 / 08:43 WIB
  • Kategori:Opini
Bahasa, Buku dan Penulis

AKU Indonesia, Aku Berbahasa Indonesia. Pesan singkat dan menarik yang ditulis seseorang dalam beranda blog-nya yang ditemukan dan dibaca penulis saat berselancar di dunia maya beberapa waktu lalu.

Pesan itu kian memiliki makna dan menemukan momentumnya takkala berada di bulan Oktober, yang sekaligus menjadi peringatan bersejarah, yakni: Sumpah Pemuda dan Bulan Bahasa. 

Bagi Bangsa Indonesia, bulan Oktober adalah lahir dan bangkitnya kesadaran nasionalisme, yang dipelopori oleh 8 tokoh anak-anak muda yang akhirnya mendorong terjadinya Kongres II Pemuda, tahun 1928 silam. Kongres itu pula yang melahirkan “sihir” kebangsaan, yang selalu dikenang dan dijadikan cermin bagi bangsa Indonesia, yaitu: Sumpah Pemuda. 

Sumpah Pemuda meninggalkan benih nasionalisme yang tak lapuk oleh waktu dan gerak modernisme. Nafas nasionalisme Sumpah Pemuda tersebut hingga kini masih kuat aura dan gaungnya. 

Sumpah Pemuda tidak sekadar nasionalisme. Namun sudah menjelma menjadi ikrar dalam jiwa anak-anak muda untuk menyelamatkan negeri ini dari keterpurukan dan tekanan eksternal.

Ikrar itu secara tegas dan tidak ada penawaran sedikitpun. Mengaku bertumpah darah yang satu, tanah Indonesia. Mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia. Menjunjung Bahasa Persatuan, Bahasa Indonesia

Satu dari tiga ikrar tersebut, yakni menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia sebagai pengikat nasionalisme. 

Memaknai Bulan Bahasa dengan mengesampingkan sejarah Sumpah Pemuda sesungguhnya hanya sebatas membunyikan ikrar tanpa dijiwai nasionalisme yang utuh. 

Sumpah Pemuda bukan sekadar ikrar biasa. Ikrarnya melibatkan nasionalisme dengan makna yang luas. Ikrar tersebut jika dikaitkan dengan data dan fakta tersembul realitas objektif yang tidak bisa diabaikan dan dipungkiri. Bangsa Indonesia terbentuk dari beragam suku dan bahasa.

Peta Bahasa Negara Kesatuan Republik Indonesia pada periode 2008 hingga 2016 telah diidentifikasi dan tercatat ada 442 bahasa daerah di Indonesia. Belum lagi bila ditambah aksennya. Data terbaru menyebutkan jumlah bahasa daerah di Indonesia mencapai 652 bahasa. (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2017).

Data lain menguraikan bahwa bangsa Indonesia terbentuk dari beragam suku dan bahasa. Badan Pengembangan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, yang mendasarkan Summer Institute of Linguistics menyebutkan bahwa jumlah bahasa di Indonesia sejumlah 719 bahasa daerah. 707 diantaranya masih aktif dituturkan. Sedangkan, Unesco mencatat setidaknya ada 143 bahasa daerah di Indonesia berdasarkan status vitalitas atau daya hidup bahasa. 

Bahasa Indonesia dikukuhkan kali pertama sebagai bahasa nasional pada Oktober 1928. Sedangkan, 18 Agustus 1945, Bahasa Indonesia ditetapkan sebagai Bahasa Negara, bersamaan Undang-Undang Dasar 1945 disahkan sebagai Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia. 

Undang-Undang Dasar 1945 menyebutkan bahwa Bahasa Negara ialah Bahasa Indonesia (Bab XV, Pasal 36).

Runtutan sejarah itu mempertegas bahwa Bahasa Indonesia memiliki kekuatan konstitusional. Kondisi hal inilah yang mempengaruhi dinamika perkembangan Bahasa Indonesia menyebar pesat ditengah lapisan masyarakat. 

Karena itu, peringatan Bulan Bahasa adalah momentum untuk merawat Bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia yang seharusnya dijunjung kini semakin tergerus. Maraknya kosa kata asing yang menyusup dan menjejal dalam ejaan dan komunikasi sehari-hari dalam derap kehidupan masyarakat. Belum lagi, makin merebak bahasa sosialita dalam jejaring media sosial. Istilah “alay” dalam kamus remaja masa kini makin dan terus meningkat. 

Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan di ruang publik makin digerus tanpa disadari banyak kalangan. 

Kondisi tersebut masih memperbincangkan fenomena penggunaan bahasa Indonesia sebagai media komunikasi. Apabila bahasa Indonesia dalam kepentingan teks dan kalimat dalam bentuk buku, ditemukan fakta yang lebih menarik. Fakta teks dan kalimat memiliki implikasi dalam tradisi membaca masyarakat. 

Dengan menggunakan perbandingan jumlah buku yang diwajibkan dibaca siswa SMA di 13 negara, termasuk Indonesia. Tergambar bahwa di Amerika Serikat, jumlah buku yang wajib dibaca sebanyak 32 judul buku. Belanda 30 judul buku. Perancis sebanyak 30 judul buku. Jepang sejumlah 22 judul buku. Swiss sebesar 15 judul buku. Kanada sebanyak 13 judul buku. Rusia sejumlah 12 judul buku. Brunei yaitu 7 judul buku. Singapura adalah 6 judul buku. Thailand sebanyak 5 judul buku. Sedangkan, Indonesia sebesar 0,8 judul buku. Angka itu menggambarkan rata-rata nol koma, tidak sampai satu judul buku! Padahal Toko buku di Indonesia sebanyak 2.802 buah dalam kurun waktu 17 tahun

Modal Pengetahuan adalah budaya. Modal itu sebagai dasar bagi pengambilan keputusan, terkait dengan ekonomi maka menjadi dasar untuk melakukan transaksi. 

Kapital pengetahuan seperti halnya kapital budaya membentuk kelas sosial, artinya tidak setiap orang dapat memahami sebuah peristiwa (event) ataupun produk (goods) budaya. Mereka mengapresiasi peristiwa dan produk budaya sesuai dengan tingkat edukasi, pekerjaan, penghasilan, dan kebiasaan (Richard, 1996). Karena itu, modal budaya adalah bersifat akumulatif dan tersedimentasi dari generasi ke generasi.

Tradisi membaca yang rendah karena dipicu jumlah buku dan bacaan yang dibaca rendah berimplikasi serius pada kemampuan menulis pun akan menjadi rendah.  

Menulis adalah kegiatan membuat huruf (angka) menggunakan alat tulis di suatu sarana atau media penulisan, mengungkapkan ide, pikiran, perasaan melalui kegiatan menulis, atau menciptakan suatu karangan dalam bentuk tulisan.

Bagi seorang penulis, tiga keterampilan dasar senantiasa harus dimiliki, antara lain: pertama, keterampilan berbahasa dalam merekam bentuk lisan ke tulisan, termasuk kemampuan menggunakan ejaan, tanda baca, dan pemilihan kata.

Kedua, keterampilan penyajian, seperti pengembangan paragraf, merinci pokok bahasa menjadi sub bahasan pokok, dan susunan secara sistematis.

Ketiga, keterampilan perwajahan, termasuk kemampuan pengaturan tipografi seperti penyusunan format, jenis huruf, kertas, tabel dan lain sebagainya.

Bacaan rendah. Daya tulis rendah. Seolah ironi yang tidak pernah diperhatikan serius. Kondisi yang terjadi, diungkapkan secara gamblang oleh Fernando Baez, dalam bukunya yang bertajuk Penghancuran Buku, dari masa ke masa, seolah menjadi pintu reflektif dalam memaknai Bulan Bahasa kali ini. 

Idealisme adalah sumber perubahan. Perubahan terjadi karena tidak adanya kepuasan terhadap kondisi terkini, perubahan terjadi karena ada “kesalahan” atas suatu hal, perubahan dapat dilakukan hanya bila ada keberanian, dan keberanian untuk melakukan perubahan merupakan implementasi nyata dari idealisme.

Idealisme tumbuh secara perlahan dalam jiwa seseorang, dan termanifestasi-kan dalam bentuk perilaku, sikap, ide ataupun cara berpikir. Pengaruh idealisme tidak hanya terbatas pada tingkat individu. 

Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang dalam masyarakat dan dari sejarah. (*)

Editor : bua
Uploader : irawan
Penulis : ist
Fotografer : ist

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU