Radikalisme dan Ujaran Kebencian Sama Dengan Kudeta

  • 17-10-2019 / 20:15 WIB
  • Kategori:Opini
Radikalisme dan Ujaran Kebencian Sama Dengan Kudeta

Perjuangan Bangsa Indonesia yang ditandai dengan titik kulminasi pada tanggal 17 Agustus 1945, telah diproklamirkan NKRI dengan dasar negara Pancasila, sekaligus sebagai Falsafah kehidupan Bangsa Indonesia.

Hal ini merupakan dasar fundamental kepribadian Bangsa Indonesia, secara langsung harus sesuai dengan lima asas Pancasila yang sudah diakui secara filsafat kehidupan Bangsa Indonesia selaras, serasi, dan seimbang. Diharapkan segala aspek kehidupan berbangsa dan bernegara mengacu pada nilai-nilai luhur yang terkandung dalam Pancasila.

Para pendiri Negara berharap, dengan landasan Pancasila akan terwujud kehidupan Berbangsa dan Bernegara yang asah, asih, dan asuh. Artinya, antara rakyat yang dipimpin dan pemerintah yang memimpin terjadi satu sinergitas yang solid sehingga Indonesia akan menjadi negara yang besar.

Namun pada kenyataanya pasca reformasi dimana cita-cita reformasi ingin meluruskan sesuatu yang berkelok-kelok, sehingga terjadi satu kebobrokan peradaban di Bumi NKRI oleh rezim Orde Baru. Bisa diarahkan menuju rel-Konstitusi yang benar dan konsesus nasional yang terarah.

Namun, pada kenyataanya reformasi bukan dijadikan barometer menuju kearah yang bijak dalam menghalau penyimpangan yang dilakukan oleh oknum pemerintah. Melainkan malah dijadikan ajang penyampaian aspirasi di luar batas kewajaran. Bahkan, secara vulgar menghujat dengan cara mengembangkan ujaran kebencian melalui media sosial.

Tentunya peluang ini sangat rentan ditunggangi oleh oknum maupun pihak yang ingin menghancurkan NKRI, bahkan ingin merubah Pancasila sebagai dasar negara.

Hal ini pernah terjadi di era 1940-1960, yaitu adanya gerakan Partai Komunis Indonesia yang mampu dituntaskan habis setelah partai itu mengadakan gerakan kudeta yang dikenal dengan Gestapu. Peristiwa itu mampu dengan mudah diatasi oleh Bangsa Indonesia, dengan di larangnya PKI tumbuh dan berkembang di Indonesia. Karena sangat jelas PKI adalah partai yang berpaham Komunis dan seringkali dianggap Anti-Agama. Sehingga sangat jelas untuk memilah dan memilih di dalam menentukan siapa yang berpaham Komunis, maka tidak akan boleh berkembang di bumi NKRI.

Berbeda dengan kondisi saat ini, paham Komunis, paham Khilafah, dan paham lainnya yang anti-Pancasila dan ingin menghancurkan NKRI. Untuk menyelamatkan diri dan menutupi diri, mereka berkedok sebagai Pejuang-Reformasi bahkan bertopeng agama.

Hal ini sangat menyulitkan bagi Bangsa Indonesia apabila cara-cara radikalisme, anarkisme, termasuk ujaran kebencian kepada pemerintah dibiarkan, sama halnya membiarkan duri-duri yang siap menghujam juga menghancurkan NKRI dan Pancasila.

Untuk itu, kita sebagai Bangsa Indonesia harusnya menyikapi semua kebebasan berpendapat yang mengarah pada anarkisme, radikalisme, dan ujaran kebencian. Dengan hati dingin dan berusaha agar tidak mudah percaya dengan berita-berita hoaks yang mengancam persatuan dan kesatuan bangsa.

Sebagai seorang negarawan, harus bersikap dan bertutur bahasa yang arif dan bijaksana sesuai marwah dan ilmu kenegaraan serta pemerintahan. Begitu juga sebagai figure ulama atau tokoh agama hendaknya bertutur bahasa dan berdakwah yang rahmatan lil alaamiin.

Jangan pernah mencampur adukkan urusan negara dan agama apalagi sampai terjadi indoktrinisasi yang begitu menguat pada yang menerima doktrin tersebut. Hal ini sudah terjadi dengan adanya pelaku terorisme yang rela mengorbankan dirinya melalui bom bunuh diri, tidak sadar bahwa akibat dari perbuatan itu berdampak mencelakakan bahkan menghilangkan nyawa orang lain yang tidak berdosa.

Apakah hal ini yang diharapkan di era reformasi ini ? hendaknya kita lebih kuat dalam menyikapi reformasi, sebagai alat pemersatu bangsa, kontrol pemerintah, dan mengembangkan Indonesia menuju negara yang besar. Dibarengi era globalisasi yang menuntut kecerdasan dan kecerdikan berpikir, bangsa kita harus pandai-pandai memfilter mana yang baik dan mana yang buruk.

Bahaya laten PKI yang di kobarkan di era Orde Baru, sekarang muncul bahaya Khilafah di era reformasi. Semua harus kita cegah, jangan sampai Pancasila dihilangkan dan mari kita sepakat bahwa “NKRI HARGA MATI”.

Terlebih, kita menyadari  laten komunis  menandai kebangkitan Partai Komunis Indonesia (PKI) di tanah air bukanlah isapan jempol belaka. Berbagai peristiwa sejarah membuktikan,  paham komunisme  sampai sekarang masih eksis di tengah masyarakat.

Sehingga kita  harus selalu waspada dan jangan terjebak dengan berbagai manipulasi dan fitnah yang dilakukan PKI. Termasuk melalui penerbitan  buku dan berbagai atribut PKI sebagai bentuk  propaganda  dalam upaya membangkitkan kembali PKI.

Diamankannya ratusan judul buku  berpaham komunis  di berbagai daerah beberapa waktu lalu,  semakin membuktikan  bahaya laten  komunis selalu tetap ada  dan menuntut kita semua  jangan sampai lengah. Terlebih, sesuai  TAP MPRS Nomor 25 tahun 1966, paham komunisme di Indonesia sudah secara  resmi dilarang.

Oleh sebab itu, segala hal yang berbau paham komunis  termasuk penyebaran melalui buku-buku, merupakan hal terlarang.

Kita juga menyaksikan begitu masifnya upaya-upaya dari pihak  tertentu, untuk membenturkan sesama anak bangsa.  Termasuk dengan membenturkan masalah keagamaan, kesukuan dan lain-lain yang sangat berpotensi merobek-robek  persatuan dan kesatuan bangsa Indonsia dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan sesanti Bhinneka Tunggal Ika.

Jajaran TNI dan Polri sebagai alat negara terdepan menjaga pertahananan dan keamanan NKRI, tentu tidak rela menyaksikan hal tersebut. Sehingga  mereka  tetap solid menjaga kondistensi integritas untuk tetap menjaga dan mempertahankan NKRI dari  berbagai ancaman. Termasuk bahaya laten komunis yang bukan isapan jempol belaka. Tapi hingga sekarang selalu ada secara nyata di tengah-tengah  kita.

Sejarah  membuktikan, aparat  keamanan  senantiasa mendarmabaktikan diri, rela mengorbankan nyawanya  dalam membela NKRI dari segala bentuk ancaman.Termasuk dari ancaman serius bahaya laten komunis. 

Kewajiban dari aparat keamanan  untuk selalu mendukung pemerintah  tidak ragu menindak pihak yang berseberangan dengan Pancasila. Diantaranya adalah  komunis. Sejarah  juga telah membuktikan bahwa ideologi komunis yang bertentangan dengan Pancasila tidak akan pernah dapat hidup di Indonesia dan  sebagai bahaya laten harus dijadikan musuh bersama oleh bangsa. 

Terlebih kita juga sangat menyadari bahwa masih ada  pihak-pihak tertentu yang ingin menghidupkan dan membangkitkan  kembali PKI. Serta, secara terus menerus dan sistematis menyebarkan  propaganda dalam upaya membangkitkan kembali PKI diantaranya melalui buku, atribut maupun media sosial.

Kita  tidak menginginkan hal tersebut terus  berlarut-larut  apalagi berkepanjangan. Kita ingin masyarakat Indonesia  selalu  mempererat persatuan dan kesatuan dalam bingkai NKRI Harga Mati dan Pancasila Sudah Final. (*/Malangpostonline.com)

Editor : oci
Uploader : slatem
Penulis : ist
Fotografer : ist

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU