Generasi Literasi Lahirkan Antologi Cerpen

  • 19-10-2019 / 21:24 WIB
  • Kategori:Opini
Generasi Literasi Lahirkan Antologi Cerpen

Budaya literasi kini sudah mulai menggema hampir di seluruh wilayah nusantara, terutama di sekolah-sekolah. Tak hanya itu, sekarang ini literasi menjadi gerakan yang terus disosialisasikan pada setiap lapisan masyarakat.

Di masa sekarang, gerakan literasi gencar dilakukan oleh para praktisi pendidikan untuk mencetak individu yang tidak hanya cerdas dalam bidang akademik, namun juga memiliki pola pikir kritis dan logis. Praktiknya tentu saja tidak harus terpaku pada pembelajaran di sekolah. Orang tua di rumah pun perlu turut andil dalam menanamkan pendidikan literasi pada anak-anak mereka mulai dari usia prasekolah.

Gerakan literasi di sekolah diwujudkan melalui upaya mendekatkan buku dan siswa

dengan adanya lingkungan kaya literasi dengan hadirnya pojok baca di setiap kelas, dan revitalisasi perpustakaan dengan beragam kegiatan penunjang pembelajaran. Sekolah juga didorong untuk mengembangkan berbagai kegiatan literasi sesuai dengan kondisi dan kebutuhan.

Kegiatan literasi  ini tidak hanya membaca, tetapi  juga  dilengkapi  dengan  kegiatan menulis  yang  harus  dilandasi   dengan  ketrampilan  atau  kiat untuk  mengubah, meringkas, memodifikasi, menceritakan kembali dan seterusnya.

Mengapa Menulis? Saat ini sering kita tahu, banyak orang yang gemar membaca, namun enggan menulis. Lebih aneh lagi orang yang mengaku gemar menulis, tetapi tidak pernah membaca. Jadi, mengapa anak harus menulis selagi terus membaca? Karena memang tidak ada tulisan berkualitas yang lahir tanpa membaca termasuk menulis kisah fantasi.

Membaca berarti mengenalkan anak pada dunia baru yang dapat menginspirasinya untuk menciptakan dunianya sendiri. Dunia tersebut benar-benar tercipta setelah anak menuangkan gagasannya dengan menulis. Lewat tulisan, anak belajar memilih dan menyusun kata-katanya sendiri.

Menurut sebuah penelitian, saat ini ketangkasan anak SD dalam memegang pensil sudah berkurang. Kedekatan anak terhadap gadget saat ini membuat motoriknya kurang diasah. Bila motoriknya kurang diasah dapat menjadi penghambat untuk memproses apa yang ada di pikiran anak. Kecenderungan generasi  sekarang ini  yang   sangat fasih dan multi tasking dengan berbagai  perangkat teknologi canggih  menjadi  sebuah corak tantangan baru dalam upaya  menyuburkan budaya literasi. 

Bertebarannya  media sosial, kebisingan  berbagai  viral  media  yang  mampu mengalihkan perhatian dan  menghentak-hentak kesadaran, berjubelnya game-game, tontonan Youtube, tayangan  televisi  tanpa filterisasi yang mumpuni seakan  seperti magnet yang saling tarik  menarik mempengaruhi setiap derap langkah pertumbuhan generasi abad  ini.

Oleh karena itu membaca dan menulis sangatlah penting, karena proses menulis dapat melatih kemampuan banyak hal. Menulis juga melatih kemampuan komunikasi non verbal.

Mari kita tengok SD Islam Sabilillah Malang dalam membudayakan literasi. Lewat pembiasaan membaca berbagai macam buku yang dikemas dalam program DEAR (drop everything and read) membuat siswanya gemar membaca, terbiasa membaca, dan menjadikan membaca sebagai kebutuhan sehingga tercipta budaya membaca pada masing-masing siswa baik di lingkungan sekolah maupun di rumah.

Penanaman literasi yang  terus diakrabkan sejak dini oleh  para  guru, belum lagi melimpahnya  buku bacaan  dan bertebarannya pojok pustaka di setiap kelas, menjadi sebuah  pendorong  untuk  menyuburkan  literasi, yang kini telah memberikan dampak positif luar biasa. Kegiatan literasi ini berlangsung tiap pagi hari, sebelum mata pelajaran utama dimulai.

Guru memandu kegiatan dengan mempersiapkan buku-buku bacaan yang menarik yang diletakkan di pojok pustaka kelas. Masing-masing anak boleh memilih satu buku untuk dibaca dalam waktu 15 menit. Tak hanya siswa, guru pun wajib membaca buku saat kegiatan berlangsung.

Setelah selesai membaca, siswa diajak untuk menuliskan resensi harian berupa resume singkat dari halaman yang telah dibacanya pada hari itu. Secara berpasangan, siswa juga diminta saling menceritakan buku yang telah selesai mereka baca. Setiap hari, biasanya siswa mampu membaca 1-3 halaman buku bacaan. Selanjutnya, halaman yang dibaca tadi dituangkan dalam resume harian secara singkat, begitu seterusnya hingga siswa mampu menyelesaikan satu buku.

Berkat pembiasaan literasi ini, siswa SD Islam Sabilillah Malang mulai mahir menulis cerita. Pencapaian ini tidak membuat guru berpuas diri. Sebaliknya, dengan menggunakan pendekatan yang kreatif, guru terus mendorong kemampuan menulis anak didiknya.  Salah satunya, dengan memberikan tantangan menulis prosa dengan tema tertentu.  Lewat tulisan inilah, anak-anak bebas berselancar melalui imajinasinya sendiri. Imajinasi adalah ruang tanpa batas.

Segala hal yang kreatif dan inovatif muncul pada ruang-ruang imajinasi. Melalui pembiasaan ini, siswa SD Islam Sabilillah Malang kelas IV dan V berhasil membuat beragam cerpen dengan tema bebas sesuai dengan dunia anak, yang kemudian dibukukan dalam sebuah antologi cerita pendek yang bertema “Kehidupan anak-anak”, dan didaftarkan ke Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) untuk mendapatkan ISBN.

Buku yang diberi judul Kumpulan Cerpen Anak “Percakapan Alat Tulis dalam Tas”  merupakan buku perdana yang berhasil terbit dan akan dilaunching pada akhir bulan Oktober 2019 dan bisa dinikmati oleh siswa, orang tua, dan kalangan masyarakat .

Dari kumpulan buku karya siswa SD Islam sabilillah Malang ini pembaca dapat menyelami betapa luas gambaran kehidupan anak-anak yang masih polos dan begitu mengagumi keindahan ciptaan-Nya. Dengan buku ini pembaca akan lebih dekat mengenal bagaimana dunia anak-anak, subur dan bebas dalam mengekspresikan keindahan alam semesta ini. Dunia anak-anak yang lebih awas, lebih peka, lebih sensitive, lebih responsive, dan masih orisinal.

Mari membangun bangsa lewat budaya membaca dan menulis. Dengan pembiasaan membaca dan menulis  kita membiasakan  mereka  berekspresi, melatih ingatan, menumbuhkan  kreatifitas  berkarya, memberikan  mereka  ruang-ruang  untuk  merefleksi, membangun  imajinasi, mencerahkan  dan  mencerdaskan dengan berbagai  warna  pemahaman  logis  dalam  dunia  kecil mereka. 

Dengan Membaca dan menulis sesorang menjadi cerdas dan berpengaruh pada kepribadian dan kemampuannya untuk berinteraksi sehingga menjadikan manusia yang siap menjadi inti dari kemajuan bangsa dan negaranya. (*/Malangpostonline.com)

Editor : oci
Uploader : slatem
Penulis : ist
Fotografer : ist

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU