Papan Ucapan

  • 21-10-2019 / 19:30 WIB
  • Kategori:Opini
Papan Ucapan

Catatan Stenly Rehardson

Akhirnya saya menulis catatan lagi. Setelah beberapa waktu, satu dua orang rekan di kantor, mencoba mengingatkan untuk menulis catatan. Untold story, yang tak mudah dijelaskan dalam sebuah berita.

Baiklah, saat menulis ini saya berada di dalam pesawat dari Samarinda menuju Jakarta. Penerbangan yang lumayan lama, nyaris dua jam. Belum lagi delay yang sempat terjadi, nyaris membuat saya bosan. Di pesawat sembari menanti datangnya ngantuk, saya tulis ini.

Midtown Hotel, 20 Oktober 2019. Kira-kira jam 12 siang, saya baru pulang dari ibadah. Saya tertarik mengambil foto, foto pendukung tulisan ini. Papan ucapan pernikahan yang berada di depan hotel.

Saya senang karena ada pernikahan di hari itu. Mungkin sama, dengan pasangan dan keluarga mereka yang sedang berbahagia. Tapi, dua hari ini saya senang, bersemangat, menanti laga Arema melawan Persipura, setelah melihat adanya aktivitas pernikahan di sana.

Ya, saya senyum-senyum saja dan mencoba memercayai mitos yang berlaku pada tim Arema. Bila Arema menginap di hotel yang sedang ada pernikahan, Arema tidak akan kalah. Saya sudah menyaksikannya, lebih dari sekali, sebelumnya. Yang paling saya ingat, saat Arema menang atas Bhayangkara FC, di perempat final Piala Presiden 2019 lalu. 

Saya ingat berbincang dengan coach Singgih Pitono, asisten pelatih Arema. Waktu itu, nyaris sama dengan kemarin, selama dua hari berturut-turut, hotel sedang diliputi kebahagiaan. Dan akhirnya menular ke Arema. Arema menang 4-0 atas Bhayangkara FC.

Balik lagi pada keputusan saya mengambil foto di Midtown. Ya, itu mau saya jadikan bukti saja. Dan dalam hati saya bilang, kalau Arema nggak kalah, saya akan buat catatan. Lagi. Sebaliknya, kalau kalah, ya sudah foto itu tidak berarti.

Waktu pertandingan tiba. Saya penasaran ingin membuktikan mitos tadi. Ehhh, selama pertandingan, saya nyaris tidak happy. Arema ketinggalan dua gol, sampai menit 73. Saat jeda pertandingan, saya ogah-ogahan dan sudah berpikir. Arema kalah. Mitos tak terbukti.

Lantas, ketika saya bergeser ke sisi utara, ke belakang gawang Persipura, pertandingan mulai berbalik. Arema terus menerus menyerang. Aremania yang sempat terdiam, kini mulai bersuara lagi.

Akhirnya gol.. Di menit 74. Tendangan dari luar kotak penalti Makan Konate menjebol gawang Dede Sulaiman. Skor jadi 2-1. Arema masih terus menyerang. 

"Beneran ini berbalik arah permainannya?," saya coba meyakinkan hal tersebut pada Dony, rekan wartawan dari Kaltim Post yang berada di samping saya, juga sedang memotret.

Ya begitulah kenyataannya. Malahan, rekannya, saya lupa bertanya namanya, menyampaikan hal yang menyejukkan. "Persipura bisa kalah ini kalau terus menerus diserang," sahut rekan tersebut.

Saya tentu saja senang. Karena, seandainya saja kalah, perjalanan pulang tak akan mengenakkan. Dari Stadion Aji Imbut di Tenggarong, menuju Hotel Midtown di Samarida bakal sepi. Sesepi hutan-hutan yang harus dilewati. Apalagi, waktu tempuhnya nyaris satu jam. Tidak. Jangan sampai itu terjadi.

Bahasa kerennya gabut. Atau bahasa guyonannya krik-krik. Guyonan ketika sepi, dan hanya suara jangkrik yang terdengar. 

Kondisi itu terjadi beberapa hari sebelumnya, ketika Arema kalah dari PSM Makassar. Saya tidak mengalaminya langsung. Karena saat pulang dari Stadion Andi Mattalatta, saya memutuskan naik taksi online. Kebetulan, waktu itu saya juga ingin menikati Coto Gagak, yang buka 24 jam di Makassar. Tapi, cerita dari Mas Deli, official tim, begitulah adanya.

Baiklah, kembali ke pertandingan, akhirnya si anak muda Jayus Hariono mencetak gol. Menyamakan kedudukan. Skor 2-2 di menit 82. Masih ada delapan menit, plus tambahan waktu. Saya masih belum tenang. Sampai wasit meniup peluit panjang.

Lega. Tuah orang hajatan itu nyata. Arema lagi-lagi tidak kalah saat menjalani away, dan di hotel dimana Arema menginap, sedang ada pernikahan. 

Tuah hajatan itu, juga diperbincangkan tim Arema. Saat perjalanan dari hotel, menuju Bandara APT Pranoto. Pelakunya, Kuncoro, Hendro Siswanto, dan Utam Rusdiana. Sementara, Ikhfanul Alam dan Jayus asyik menjadi pendengar. Saya sesekali saya mencuri dengar.

"Ya nanti kalau away nyari hotelnya yang ada orang menikah saja," tutur Kuncoro.

"Atau mbak Diana suruh nyari hotel, suruh tanya dulu sama orang hotelnya. Ada nikahan atau nggak," sahut Utam.

Gelak tawa menyusul kemudian. Oh ya, Mbak Diana itu orang dibalik layar Arema. Dia staf kantor, yang biasa memesan tiket, hotel dan mengurusi akomodasi. Women fighter, menurut saya.

Anyway, suasana Arema kian kondusif. Perjalanan ke Bogor, sudah sangat cair. Jauh berbeda dengan saat tim menuju Samarinda, dari Makasaar. Semoga, di Bogor nanti ada acara pernikahan juga ya di hotel.

Lalu, Arema nggak sekadar bermain seri, tetapi menang atas Tira Persikabo. Semoga saja. (ley/Malangpostonline.com)

Editor : ley
Uploader : slatem
Penulis : ley
Fotografer : ley

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU