Mendikbud Dijabat Eks Bos Gojek, Digitalisasi dan Revolusi 4.0 Jadi Tantangan

  • 23-10-2019 / 15:35 WIB
  • Kategori:Opini
Mendikbud Dijabat Eks Bos Gojek, Digitalisasi dan Revolusi 4.0 Jadi Tantangan

Pendiri dan eks CEO statup Gojek, Nadiem Anwar Makarim (35), resmi ditunjuk Presiden Jokowi menjabat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) periode 2019-2024. Di tengah tuntutan dan tantangan digitalisasi dunia pendidikan kini, apakah pilihan Presiden Jokowi ini sudah tepat?

Ya, terlepas tepat tidaknya, beberapa tahun terakhir gaung pembelajaran Abad 21 dan Revolusi Industri 4.0, selalu dicekokkan kepada stakeholder dan praktisi pendidikan. Mindset pelayanan dan penyelenggaraan pendidikan kerap diorientasikan pada digitalisasi dan pemanfaatan teknologi informasi (IT).

Berbagai sosialisasi maupun orientasi teknis tentang digitalisasi pendidikan sudah diberikan selama setidaknya lima tahun terakhir. Belum secara merata memang, dan lebih banyak diterapkan pada lingkup pengelolaan pendidikan.

Sebut saja, pengelolaan dana BOS yang sudah menerapkan sistem informasi manajemen tersendiri. Atau platform database dalam data pokok pendidikan (dapodik) dan, yang baru mulai diterapkan, sistem zonasi mutu pendidikan.

Dalam perspektif percepatan pelayanan dan efektivitas pengelolaan, maka digitalisasi pendidikan sangat urgen dilakukan. Nah, konteks percepatan pengelolaan secara merata, dengan sistem informasi berbasis digital menyeluruh ini, barangkali jadi alasan pas menempatkan sosok Mendikbud Nadiem Makarim ini.

Dengan pengalaman Nadiem Makarim membangun jaringan bisnis decacorn pertama di Go-Jek, tantangan digitalisasi pendidikan di Indonesia sangat mungkin terjawab. Go-Jek yang awalnya hanya dikelola 15 pekerja dan memiliki 450 driver ojek online pada 2010 lalu, kini mampu menjadi raksasa bisnis dengan total valuasi lebih dari 10 miliar dollar AS.

Nyatanya, keberadaan bisnis gojek plus layanan aplikasi online lainnya ini, banyak juga menyerap kalangan mahasiswa, atau bahkan guru, yang mencari tambahan penghasilan dengan menjadi driver online.

Dalam beberapa kali pernyataan yang mengemuka, pendidikan butuh terobosan siginifikan agar sumberdaya manusia Indonesia tidak tertinggal. Lokus lebih spesifik coba digambarkan Presiden Jokowi. Yakni, terobosan signifikan dalam menyiapkan SDM yang siap kerja, dengan link and match pendidikan ke Industri.

Harapan Jokowi ini agar angkatan kerja Indonesia memiliki pendidikan dan kompetensi yang cukup untuk menghadapi dunia kerja. Atau, ini bisa diterjemahkan lain, dengan membentuk SDM andal, dengan kemampuan kerja dan usaha mandiri dengan keahlian yang dimiliki.

 

Pendidikan Berkeadaban versus Percepatan Impersonal

Menyiapkan sistem pengelolaan pendidikan berbasis digital secara cepat, bahkan murah, rasanya mudah bagi Mendikbud Nadiem Makarim. Akan tetapi, menggarap SDM tentunya tidak terlepas sebelumnya dari adanya sistem, pranata, perangkat dan kinerja profesional yang tepat dan andal.

Menghadapi peserta didik, tidak sekadar transfer pengetahuan dan pengalaman terbaik dari pendidik atau bahkan teman sebaya. Namun juga harus diperhatikan aspek penguatan personalnya, dengan berbagai kemampuan softskill yang terwadahi dengan baik. 

Dalam konteks pembelajaran, pendidikan akan banyak menghadapi anak didik di dalam kelas. Dengan beberapa kompetensi yang harus dimiliki, mengajar juga harus memahami pengelolaan kelas dan psikologi pembelajaran yang tepat.

Era digitalisasi dan pembelajaran Abad 21, memang butuh kecepatan respon dan adaptasi perkembangan teknologi dan informasi yang bisa diterapkan saat pembelajaran. Namun, pembelajaran tetap harus berkeadaban dan tidak memunculkan praktik dehumanisasi personal.

Dengan terobosan digital, tidak lantas dilakukan secara instan dan berdampak menjadikan guru atau siswa menjadi impersonal, tergantikan oleh kerja robotik teknologi digital.

Era Mendikbud lama, Muhajir Effendy, yang kini menjadi Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, sudah memulai beberapa terobosan. Dalam beberapa kesempatan, Muhajir juga kerap menyatakan, menitip disain program jangka panjang yang sudah digulirkannya, jika tak lagi menjabat Mendikbud.

Program zonasi mutu, atau akselerasi sistem pembelajaran Abad 21 melalui platform rumahbelajar sudah dibangun Mendikbud lama. Termasuk, penguatan pendidikan karakter yang tidak boleh diabaikan begitu saja sebagai bagian pembangunan peradaban manusia.

Kini, tinggal keandalan dan kepandaian Mendikbud Nadiem Makarim yang juga lulusan S2 Harvard University, untuk bagaimana mampu membuat terobosan-terobosan signifikan dan meluas, untuk mengangkat daya saing bangsa Indonesia kelak.

Terlebih, pendidikan juga harus diselamatkan dari libelarisasi dan pragmatisme yang justru bisa merugikan bangsa Indonesia. Akan menjadi tugas berat Mendikbud baru untuk bisa membentengi potensi liberalisasi ini.

Wallahua'lam bisshawab! Selamat bertugas Mendikbud baru, Bapak Nadiem Anwar Makarim. [*/Malangpostonline.com]

Editor : amn
Uploader : slatem
Penulis : amn
Fotografer : ist

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU