Menengok Nasib Biodiversitas Iringi Pemindahan Ibu Kota

  • 10-11-2019 / 00:09 WIB
  • Kategori:Opini
Menengok Nasib Biodiversitas Iringi Pemindahan Ibu Kota

Indonesia dikenal sebagai negara yang memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi. Kekayaan alam Indonesia baik yang berada di daratan dan lautan menjadikan Indonesia berada di peringkat tertingi di dunia sebagai negara yang kaya akan biodiversitasnya. Pulau Kalimantan merupakan salah satu Pulau di Indonesia yang memiliki keanekaraganan hayati yang tinggi dengan keunikan ekosistemnya.  Selain itu, Pulau Kalimatan terkenal dengan hutan hujan tropisnya yang ditumbuhi berbagai jenis pohon besar serta flora dan fauna yang khas didalamnya. Keanekaragaman hayati ini lebih dari sekadar keingintahuan akademis, manusia bergantung padanya. Misalnya pasokan makanan yang stabil dan sumber obat-obatan merupakan beberapa manfaat dari keanekarahaman hayati. Kehidupan tanaman di hutan dapat mengurangi dampak pemanasaan global dengan menyerap karbon dioksida. Kondisi hutan yang demikian disebabkan keadaan iklim yang tropis dan berada di garis khatulistiwa. Ironisnya, dengan biodiversitas tertinggi tersebut, Indonesia juga sebagai negara keenam dengan kepunahan biodiversitas alam terbanyak di dunia.

Saat ini pemerintah Indonesia tengah disibukkan dengan rencana pemindahan ibu kota negara di Kalimantan Timur. Lokasi ibu kota baru terletak di sebagian Kabupaten Penajam Paser Utara dan sebagian Kabupaten Kutai Kertanegara. Berbagai macam aspek perlu dipertimbangkan dengan seksama dan harus dikaji secara komprehensif dan serius. Selain aspek ekonomi, sosial, budaya, salah satu aspek yang harus diperhatikan dalam pemindahan ibu kota adalah aspek lingkungan. Pemindahan ibukota akan mempengaruhi kelestarian hutan Kalimantan yang mempunyai keanekaragaman akan flora dan fauna yang tinggi dan sekaligus akan berdampak menambah peringkat kepunahan Indonesia.

Pemindahan ibukota harus memiliki konsep yang matang dan perencanaan yang benar. Pembangunan infrastruktur, penyediaan transportasi, jasa publik, dan sebagainya untuk ibu kota baru mengharuskan membuka lahan baru yang akan mengancam biodiversitas hutan. Kepunahan flora dan fauna hutan Kalimantan bisa berakibat karena pembukaan jalan hutan yang berpengaruh terhadap kelestarian dan masa depan hutan, termasuk keanekaragaman hayati.  Pembukaan hutan di hutan hujan tropis Kalimantan biasanya akan diikuti dengan perburuan satwa liar meningkat dan penggalian bahan mineral. Selain itu serangan pemangsa meningkat dan rantai makanan terganggu. Bencana longsor dan potensi banjir akan terjadi jika pembukaan jalan tidak dilakukan dengan perencanaan jangka panjang. Selain itu akan mendorong konversi alih fungsi hutan untuk peruntukan lainnya.

Hutan hujan tropis Kalimantan telah menciptakan kestabilan mikroklimat dan sistem ekologis. Ribuan spesies tergantung dan hidup dalam kondisi yang telah diciptakan hutan karena hutan menyediakan naungan bagi kehidupan bermacam-macam spesies yang rentan terhadap dampak pembukaan hutan. Biodiversitas hutan akan terancam misalnya populasi orang utan,  gajah, reptil, burung dan jenis-jenis primata lainnya akan punah.

Selain kelestraian hutan akan tertanggu, pembukaan hutan juga akan menyebabkan ancaman terhadap fisik bentang alam. Curah hujan yang intensif ditambah dengan sisten drainase yang buruk akan meningkatkan erosi dan aliran air permukaan (run-off). Bentang aliran air akan berubah akibat proses sedimentasi karena pergerakan aliran air. Selanjutnya fauna-fauna di perairan akan terganggu habitatnya.

Beberapa usaha yang bisa dilakukan para ahli biologi adalah melakukan perkembangbiakan hewan dan tanaman jika masih memungkinkan untuk mencegah kepunahan. Namun para peneliti biologi dalam melakukan eksperimen juga terkendala aturan dan kode etik yang harus dipenuhi untuk meneliti dan mengembangbiakkan. Pendataan jumlah biodiversiatas flora dan fauna Indonesia untuk masing-masing spesies perlu dilakukan untuk mengetahui kekayaan Indonesia dan statusnya untuk masing-masing spesies sehingga bisa  menemukan solusinya.

Di sisi lain,  pembukaan lahan baru di daerah Kalimantan yang dominan gambut dengan karakteristik unik harus tetap terjaga dengan baik karena selama ini lahan gambut tersebut berfungsi sebagai penyimpan karbon, sumber air dan mencegah pemanasan global. Efek pemindahan ibu kota sebaiknya menghindari rusaknya ekosistem dengan membiarkan menjadi hutan gambut.

Kebakaran hutan dan lahan gambut untuk pembangunan infrastruktur sebagai fasilitas ibukota baru menjadi ancamam bagi Kalimantan. Tantangan ibukota Kalimantan adalah sulitnya menghindari gambut yang rentan terbakar. Pemerintah harus membatasi eksploitasi jika lahan Kalimantan akan dijadikan lahan bisnis dan industri. Rehabilitasi, revegetasi dan reklamasi harus diterapkan.

Pembukaan hutan yang memiliki tingkat konservasi tinggi (High Concervation Value Forest), cagar alam dan taman nasional, hutan lindung dan kawasan-kawasan penting lainnya harus dikelola dengan prinsip kehati-hatian dan menjadi prioritas bagi pengambil kebijakan. Pemerintah harus menyelaraskan pembukaan hutan dengan upaya tetap melindungi hutan. Bencana ekologis sebaiknya perlu diwapadai yang sudah pasti akan berdampak pada lingkungan. Kebutuhan material untuk pembangunan infrastruktur menyebabkan lebih banyak hutan dimusnahkan sehingga timbul kerusakan dan pencemaran di sekitar wilayah pembukaan tersebut. Biaya pemulihan ekologi hutan akan menyebabkan pembengkakan anggaran negara. Kegiatan pembukaan hutan ini sangat ironi dengan komitmen pemerintah untuk menjaga kelestarian hutan dan menekan laju perubahan iklim dengan menurunkan emisi karbon.(*/ Malangpostonline.com)

Editor : bua
Uploader : slatem
Penulis : ist
Fotografer : ist

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU