Jangan Biarkan Menyakitinya

  • 15-11-2019 / 21:03 WIB
  • Kategori:Opini
Jangan Biarkan Menyakitinya

Salah satu problem yang bisa dibilang di setiap tahun terjadi, minimal ada penangkapan atau pembongkaran, adalah masalah radikalisme dan terorisme. Terorisme identik sebagai penyakit yang sel-selnya tidak pernah mati. Selalu bermunculan wajah baru atau kader-lader yang tiba-tiba menciptakan horor di tengah masyarakat.

Negara ini kuat, atau tidak sampai kalah, minimal tidak dibuat “mainan” oleh para teroris jika kita bersama-sama tidak membiarkan teroris menyakitinya. Kalau bom atau kekerasan lain masih saja sering terjadi, ini mengindikasikan bahwa teroris sengaja “mempermaikan” negara ini.

Produsen teror (teroris) di negeri ini berhasrat mendapatkan pengakuan dari publik, bahwa negara telah gagal melindungi warganya. Melalui teror yang dilakukan, para pelaku bermaksud menunjukkan pada public, bahwa negara ini tidak benar-benar serus dalam memedulikan keselamatan warganya.

Oleh para pelaku teror, negara diposisikan sebagai subyek yang gagal, karena tidak mampu menghadapi berbagai bentuk kekerasan atau distatuskan sedang  gagal mewujudkan atmosfir yang mendamaikan dan menyelamatkan warganya..

Mereka (penyebar  atau produsen teror) itu menginginkan supaya negara di mata rakyatnya bukanlah organisasi  yang kuat dan dicintainya, tetapi sebagai organisasi yang lemah dan mementingkan dirinya sendiri.

Kalau negara sampai dibenci oleh rakyatnya, maka negara ini bisa tak ubahnya suatu bangunan, meski secara ragawi masih masih menjulang tinggi, namun sebenarnya kropos. Negara ini ditunjukkan oleh para pelaku teror terbatas sebagai organisasi yang eksklusif dan mementingkan dirinya sendiri

Menyikapi kondisi (potensi) yang berelasi dengan kasus teror  yang identik menyakiti rakyat, negara dan masyarakat (pemeluk agama) berkewajiban mendisain sikap kooperatif yang serius dalam melawan segala bentuk teror. Sikap kooperatif ini akan menjadi benteng yang sangat kuat dalam menghadapi atau mengalahkan setiap pelaku teror.

Pelaku teror tidak akan terus bermunculan atau mengembangkan “kreatifitasnya” dalam memproduksi dan melnggengkan berbagai terornya, bilamana para pemeluk agama mengembangkan pemahaman tentang kebermaknaan kesetiakawanan dalam keragaman dan keragaman dalam kesetiakawanan.

Selain itu, negara juga berkewajiban terus aktif mendampingi dan melindungi aktivitas sosial dan ritualitas yang dijalankan dan dikembangkan oleh masing-masing pemeluk agama.  Kalau negara terus melakukan aktivitas demikian, para pelaku teror yang berusaha mengganggunya, niscaya tidak akan meneruskannya.

Negara dan rakyat itu harus paham pesan Cicero yang menyebutkan, bahwa  kebaikan bagi orang banyak adalah hukum tertinggi.  Siapa saja elemen negara atau pemeluk agama yang berlomba berbuat baik, adalah identik  dengan melaksanakan hukum tertinggi dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

Cicero itu identik dengan mengajak setiap subyek sosial untuk menyebarkan dan menyuburkan kebajikan di tengah masyarakat. Kalau kebajikan  berhasil membumi, otomatis konstruksi kehidupan bernegara menjadi kuat, pasalnya setiap suyek sosialnya “terbuai” dalam kesibukan menjalankan nilai-nilai kebaikan.

Selain itu Cicero juga secara tidak langsung mengajak pada setiap subyek sosial untuk memusuhi siapapun dan segolongan orang dari kelompok manapun yang suka mempermainkan kebajikan. Cicero ini berarti membenci orang-orang yang terseret dalam praktik pembenaran kebiadaban atau praktik-praktik dehumanisme seperti yang dilakukan oleh teroris.

Supaya kita termasuk sekumpulan orang yang melaksanakan dan mengembangkan hukum tertinggi (kebaikan) seperti minimal yang didoktrinkan Cicero, maka selain sekelompok orang yang memproduksi teror, haruslah kita lawan bersama-sama. Kinerja Mahfud MD selaku “orang penting” di ranah ini ditunggu untuk terus mengajak atau “memimpin”  setap institusi sosial, keagamaan, politik, dan lainnya guna menyebarkan kebajikan berbasis kemanusiaan, mengembangkan kesantunan atau kesalehan dalam kebinekaan dan  multikulturalisme.

Itu menuntut konskuensi, bahwa setiap pemeluk agama atau pengikut budaya dan politik apapun, wajib mencerdaskan dirinya, bahwa berbuat baik kepada orang lain merupakan “ibadah universal” yang bisa menghadirkan kebahagiaan dalam keragaman.  Tidak boleh terjadi, karena keragaman dan “perbedaan” visi dengan negara atau dimensi teologis dengan pemeluk agama tertentu,  lantas teror diberikan kesempatan secara liberal untuk menghancurkan.

Pernyataan Luqman Hakim (2015) membenarkan, bahwa kelompok eksklusif dan radikalis beragama  tidak menyukai  kalau antar pemeluk agama yang berbineka di negeri ini bisa menjalani kehidupan dalam ranah kedamaian. Mereka menginginkan supaya tidak hidup saling berdampingan dalam kedamaian dan persaudaraan.

Tesis yang ditulis Luqman itu menunjukkan pada kita, bahwa pelaku teror  itu “predator” sejati dalam menciptakan disharmonisasi antar pemelukagama. Mereka tidak menginginkan suatu pemeluk agama menerima dan mengakui eksistensi pemeluk agama lainnya.

Bisa jadi dalam skenario pelaku teroris,  antara pemeluk Islam dengan Kristen dan pemeluk agama lain misalnya dihadapkan pada kondisi vis a vis  secara berkelanjutan supaya diantara mereka menjadi kekuatan soaial yang saling bermusuhan dan menghancurkan atau saling menghabisi.

Para pelaku itu tidak  sebatas berkeinginan mendestruksi kedamaian beragama umat tertentu, tetapi punya misi besar dalam menciptakan konflik serius antara pemeluk agama di Indonesia supaya kebinekaan umat beragama terkoyak, atau kehidupan bermasyarakat dan bernegara lebih menampakkan atmosfir kekacauan (chaos).

Kita pernah diingatkan  Napoleon Banoparte, bahwa di tengah suasana masyarakat yang kacau, hanya kaum “bajinganlah” yang beruntung. Para bajingan bisa memproduksi politik teror  atau meneror kehidupan masyarakat untuk mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya.

Mereka yang berniat melakukan kriminalitas atau mencari keuntungan, bisa menjalankan modus operandinya dengan lebih mudah ketika teror sedang atau pada saat konstruksi kehidupan bermasyarakat dan bernegara berkondisi “tereksaminasi” akibat keragaman dan seringnya kekacauan terjadi.

Para produsen teror bisa melakukan rekayasa dalam mengolah sedikit atau beberapa kelemahan elemen masyarakat, yang kemudian kelemahan ini dikelola atau dikembangkan untuk menjadi “amunisi”  dalam menciptakan dan mengembangkan teror supaya lebih cepat diterimanya (masyarakat). Yang terpenting lagi, bagaimana mengelola modal sosial bangsa pluralistik ini menjadi kekuatan yang bisa sama-sama mewujudkan negeri ini rahmatan lil-alamin. (*/Malangpostonline.com)

Editor : oci
Uploader : irawan
Penulis : ist
Fotografer : ist

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU