Polemik Sukmawati Edisi Terbaru

  • 21-11-2019 / 05:07 WIB
  • Kategori:Opini
Polemik Sukmawati Edisi Terbaru

Hingga hari ini, Sukmawati masih menjadi perbincangan hangat di pelbagai media, bahkan menjadi trending topic di salah satu media sosial. Beberapa waktu  lalu, Sukmawati mendadak menjadi penyair kontroversial, yang di dalam puisinya membicarakan antara budaya dan agama.

Kemudian beberapa hari kemarin, Sukmawati mendadak menjadi da'i yang menanyakan kepada peserta tentang lebih bagus Mana Alquran dan Pancasila serta yang berjuang di abad 20 itu Nabi Muhammad atau Insinyur Soekarno dalam hal kemerdekaan?

Kasus edisi terbaru ini yang videonya telah beredar kemana-mana, kemudian langsung dilaporkan oleh salah satu anggota Koordinator Laporan Bela Islam (Korlabi) yang bernama Ratih Puspa Nusanti. Ia beranggapan bahwa perkataan Sukmawati telah menista karena membandingkan Nabi Muhammad SAW dan Insinyur Soekarno. Kejadian tersebut bagi beberapa orang Islam merasa dirugikan, bahkan telah menyakitinya.

Sedangkan Sukmawati sendiri telah membantah bahwa ia tidak berniat untuk menista nabi Muhammad SAW. Karena, dalam hal ini ia berbicara dengan konteks sejarah kemerdekaan Indonesia. Namun, lagi-lagi beberapa masyarakat Indonesia masih keberatan dengan perkataan yang mengomparasikan Nabi Muhammad SAW dengan Insinyur Soekarno.

Reeksaminasi Pertanyaan Sukmawati

Pertanyaan yang dilontarkan di dalam forum yang bertemakan "Bangkitkan Nasionalisme, Bersama Kita Tangkal Radikalisme, dan Berantas Terorisme", di gedung Tribrata, Darmawangsa, Jakarta Selatan, Senin 11 November 2019 lalu, menjadi heboh. Pasalnya, apakah pertanyaan tersebut layak untuk dipertanyakan atau tidak sepatutnya pertanyaan itu muncul di dalam forum besar itu.

Kita perlu melihat, bagaimana konteks pembicaraan di dalam forum tersebut dan apa motifnya sehingga pertanyaan itu muncul. Dalam hal ini, Sukmawati mendapatkan informasi bahwa di salah satu kelompok Islam yang dianggap radikalis, sering membahas lebih penting mana Alquran dan Pancasila. Dari kondisi tersebut, mungkin Sukmawati memiliki kekhawatiran tersendiri dalam berkehidupan di negara Indonesia yang memiliki ideologi Pancasila.

Bisa jadi dengan banyaknya doktrin bahwa Alquran itu penting dan harus menjadi pegangan hidup sedangkan Pancasila itu tidak penting, sehingga dari hal kecil itu dapat menyakinkan kepada masyarakat Indonesia bahwa Khilafah Islam harus ditegakkan. Ketakutan-ketakutan ini, membuat salah satu motif Ibu Sukmawati dengan lantang mempertanyakan siapa yang berjuang di abad 20 dalam hal kemerdekaan.

Bukan hanya kekhawatiran atau ketakutan yang dialami oleh Sukmawati, tapi juga, mungkin ia sudah sangat kesal dengan sekelompok Islam yang terlalu kaku dengan Alquran dan Hadist, serta beberapa kelompok yang menginginkan sistem Khilafah Islam ditegakkan. Maka Sukmawati berbicara panjang terkait dengan memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dan para pendiri yang merumuskan ideologi Pancasila dalam menyakinkan kepada peserta bahwa Pancasila itu harus kita rawat dan dijaga dengan baik.

Namun, banyak orang termasuk penulis sangat menyesalkan terhadap pertanyaan yang membandingkan Nabi Muhammad dengan Soekarno. Tidak pantas bila pertanyaan itu muncul, sebab Nabi Muhammad bukan sembarang makhluk dan tidak ada makhluk yang dapat menandinginya. Kemudian tidak tepat dan sangat tidak sopan bila Sukmawati menganggap bahwa kemerdekaan Indonesia dilakukan oleh soekarno dan Nabi Muhammad bukan siapa-siapa.

Dalam hal ini, pertanyaan Sukmawati pada forum Focus Group Discussion (FGD) Divisi Humas Polri tersebut tidak ada manfaatnya sama sekali. Seharusnya bukan Nabi Muhammad yang menjadi perbandingan, karena tidak apple to apple. Nabi Muhammad merupakan utusan Allah yang telah membawa banyak perubahan di dunia ini sekaligus menjadi penyelamat di akhirat.

Sedangkan Ir. soekarno hanya menjadi salah satu tokoh dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Maka tidak heran bila banyak orang yang masih merasa keberatan perihal pertanyaan Sukmawati yang telah tersebar ke berbagai media sosial.

Umat dan Edisi Selanjutnya

Pelaporan Sukmawati ke Polda Metro Jaya menjadi hak warga negara dan sah secara konstitusional. Namun, yang perlu diperhatikan, biarkan laporan itu berproses dengan sendirinya. Jangan kemudian kejadian ini terus diperbesar, sehingga membuat kondisi umat Islam semakin gaduh. Apalagi memperkeruh keadaan Negara Kesatuan Republik Indonesia ini.

Cukup dengan saling memaafkan pernyataan Sukmawati yang mungkin tidak ada niat buruk untuk menista Nabi Muhammad SAW. Sebab, segala sesuatu itu dilihat dari niat, bila Sukmawati telah mengatakan bahwa ia tidak berniat untuk merendahkan nabi, maka tentu sikap saling memaafkan itu perlu dilakukan. Namun, lagi-lagi kita masih belum terbiasa dengan sikap saling memaafkan bila terdapat beberapa hal yang melukai hati umat Islam. Karena isu agama itu merupakan isu yang sangat sensitif.

Apalagi, ada kabar apabila kasus ini tidak dapat diselesaikan dengan hukum, maka sekelompok umat Islam akan turun ke jalan untuk menuntut keadilan. Hal inilah yang perlu kita perhatikan kembali, mengingat bahwa negara Indonesia ini perlu ketenangan dan kedamaian agar tidak terjadi perpecahan dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Jangan kemudian dengan adanya kasus ini, menjadi kesempatan untuk memecah belah negara Indonesia. Sebab, beberapa waktu yang lalu, di Indonesia ada beberapa kelompok yang berupaya untuk memecah belah negara Indonesia, walau hingga kini belum jelas siapa kelompok tersebut.

Maka, umat Islam di Indonesia jangan mudah terprovokasi. Beberapa permasalahan seperti yang dilakukan oleh Sukmawati itu sebaiknya kita memaafkannya. Karena hal itu menjadi langkah untuk tetap menjaga persatuan dan kesatuan negara Indonesia. Dan kepada Ibu Sukmawati bila sudah melakukan kesalahan dan terbukti salah dalam hukum, maka patuhilah peraturan yang ada, agar keadilan tetap berjalan di negara ini. (*/Malangpostonline.com)

Editor : oci
Uploader : slatem
Penulis : ist
Fotografer : ist

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU