Milenial Dalam Pusaran Istana

  • 23-11-2019 / 19:40 WIB
  • Kategori:Opini
Milenial Dalam Pusaran Istana

Dalam sebuah video yang viral di WhatsApp, Suharto, presiden Indonesia kedua itu menyampaikan bahwa pemuda pada tahun 2020 akan menjadi benteng dalam memertahankan kelangsungan hidup negara dan bangsa. Pidato “Bapak Pembangunan” itu seperti klop dengan apa yang sedang dipersiapkan Presiden Jokowi dengan mengangkat tujuh pemuda generasi milenial untuk masuk dalam pusaran istana, menjadi staf khusus presiden.

Jokowi mengangkat sejumlah staf khususnya dari kaum milenial. Mereka berusia antara 23 hingga 36 tahun dari beragam keahlian dan latar belakang. Mereka adalah Adamas Belva Syah Devara (29), pendiri aplikasi belajar Ruang Guru, Putri Indahsari Tanjung (23), CEO Creativepreneur, Andi Taufan Garuda Putra (32), CEO Lembaga Keuangan Mikro, Ayu Kartika Dewi (36), aktivis kegiatan perdamaian, Gracia Billy Mambrasar (31), CEO Kitong Bisa, Angkie Yudhistira (32), seorang Sosiopreneur dan penyandang disabilitas, dan Aminuddin Ma’ruf (32), mantan Ketua Umum PMII.

Perhatian Jokowi pada kelompok milenial ini memang cukup besar. Jokowi juga cukup mengagetkan sebelumnya dengan mengangkat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim yang tergolong milenial karena baru berusia 35 tahun. Seperti dalam pidato Suharto yang disampaikan sekitar November 1995 itu bahwa tahun 2020 saatnya pemuda memimpin dan didengar ide-ide dan sejumlah gagasannya. Pidato Suharto yang disampaikan 24 tahun silam itu cukup relevan dengan situasi saat ini.

 

Milenial dan Perubahan

Seperti yang disampaikan Rhenald Kasali saat ini adalah era disrupsi (perubahan). Munculnya era perubahan ini salah satu pemicunya adalah karena lahirnya internet. Benar apa yang dikatakan Marshall Mc Luhan bahwa lahirnya media baru (new media) berwujud internet akan merubah cara orang berkomunikasi. Tak hanya itu, dengan internet cara orang menjalani hidup, menjalankan pekerjaan, berbisnis, berinteraksi, dan beragam kegiatan lain kini telah berubah gegara teknologi internet.

Disrupsi yang terjadi kini menjadi sebuah keniscayaan. Semua pihak dituntut mampu beradaptasi dalam situasi perubahan ini. Kata kuncinya harus mampu beradaptasi (adapt) dan kalau tidak maka akan mati (die). Diantara yang mampu beradaptasi menyesuaikan diri dalam era disrupsi saat ini adalah kelompok muda.

Para pemuda atau generasi milenial yang menjadi pemain utama (key player) dalam percaturan masa disrupsi atau era industri 4.0 ini. Munculnya tokoh-tokoh milenial yang terbukti berhasil melakukan perubahan di era industri 4.0 ini menjadi bukti sejumlah pemuda mampu menjawab tantangan zaman saat ini.

Era disrupsi (disruption) juga ditandai dengan perubahan platform dan cara orang mengonsumsi media. Kalau zaman dulu banyak orang hanya bergantung pada konsumsi media massa konvensional, kini telah berganti pada media online dan media sosial (medsos). Lahirnya beragam platform media baru ini cukup merubah banyak hal terkait banyak persoalan, termasuk sejumlah permasalahan yang harus dijawab oleh pemerintah. Beragam persoalan sosial, kemiskinan, ketenagakerjaan, pendidikan, sumber daya manusia, dan segudang permasalahan bangsa yang lain coba dijawab dengan menggunakan teknologi dan media baru.

Media massa telah mengalami mediamorphosis. Kata Roger Fidler (2013), mediamorphoses merupakan evolusi teknologi komunikasi. Perubahan media komunikasi ini sangat penting direspon dengan memahami karakter lahirnya media baru hasil evolusi tersebut. Selain itu, menyiapkan pelaku pengguna media yang mampu beradaptasi pada evolusi media baru juga menjadi hal penting.

Kelompok milenial adalah orang yang selama ini banyak terlibat dan menggunakan media baru ini. Disinilah urgensinya menggandeng kaum milenial sebagai pemain penting dalam turut mengisi pembangunan bangsa ini.

Memberi kesempatan pada kaum milenial dengan beragam gagasan segar dan inovatif  bisa jadi cara jitu dalam mencari solusi sejumlah permasalahan bangsa saat ini. Cara-cara di luar kebiasaan yang umum (out of the box) memang harus selalu dilakukan dalam mengendalikan laju pemerintahan saat ini. Sejumlah milenial yang sengaja direkrut Presiden Jokowi sebagai staf khususnya diharapkan mampu memberi masukan dan ide-ide segar yang sesuai dengan perubahan zaman.

Cara-cara lama yang in the box memang harus dirombak. Ini memang tak mudah. Mindset dan cara berfikir gaya lama biasanya membelenggu orang dalam menjawab era disrupsi ini. Kelompok muda, kaum milenial bisa menjadi tumpuan yang bisa diharapkan mampu mendobrak kebuntuhan ini.

Sentuhan teknologi dan penggunaan media baru bisa menjadi perangkat yang bisa disinergikan dalam setiap upaya melakukan perubahan ke arah yang lebih baik, demi Indonesia yang lebih maju.

 

Menunggu Pembuktian

Penunjukkan sejumlah milenial sebagai staf khusus Presiden Jokowi tentu bukan tanpa alasan. Penentuan pada ketujuh anak muda ini tentu sudah melalui proses seleksi dan pertimbangan yang sangat matang. Keputusan untuk mengangkat staf khusus dari kaum milenial ini semoga bukan tipuan (gimmick) semata. Ini kesempatan bagi kelompok milenial terpilih untuk membuktikan bahwa sentuhan milenial merupakan hal yang bisa membawa perubahan dalam mencari solusi persoalan bangsa ini.

Sejumlah harapan dari masyarakat tertumpu pada peran nyata para staf khusus presiden dari kaum milenial maupun staf dari kelompok tua. Besar harapan para staf presiden milenial ini dapat mewarnai dengan ide-ide dan inovasinya. Yang tak diharapkan semoga kelompok milenial ini tak terseret arus pada kepentingan politik tertentu. Kalau itu yang terjadi tentu tak ada bedanya milenial atau bukan. Karena para staf khusus ini bukan orang partai politik, maka tentunya lebih leluasa bekerja tanpa beban politik.

Para milenial staf khusus Presiden Jokowi adalah orang terpilih. Mereka semua menjadi personifikasi kelompok milenial secara umum. Ketujuh pemuda pilihan ini punya beban cukup berat untuk membuktikan kepada semua orang termasuk kepada kelompoknya bahwa pemuda mampu membawa perubahan dan dapat berkontribusi bagi pembangunan bangsa.

Sejumlah milenial di luar sana tentu dapat termotivasi dari para milenial staf khusus presiden. Kalau ini bisa terjadi, tentu penunjukkan ketujuh pemuda akan punya multi player efek yang bagus dalam turut menggerakkan para milenial yang lain dalam turut mengisi pembangunan.

Masukknya tujuh pemuda terbaik bangsa menjadi staf khusus Presiden Jokowi memang menjadikan lingkaran dalam pusaran istana menjadi gemuk. Alat kelengkapan lembaga negara menjadi cukup besar. Semoga ini tak justru membebani istana dan menyulitkan ruang gerak para staf khusus presiden itu. Para milenial istana semoga dapat melakukan akselerasi, mobilisasi, dan orkestrasi dengan baik demi Indonesia yang lebih maju. Selamat bekerja para milenial. (*/Malangpostonline.com)

Editor : oci
Uploader : slatem
Penulis : ist
Fotografer : ist

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU