Guru Itu Harus Radikal!

  • 24-11-2019 / 19:58 WIB
  • Kategori:Opini
Guru Itu Harus Radikal!

Hari Guru adalah hadiah istimewa untuk Indonesia setiap November. Lebih istimewa lagi jika setiap guru menjadi guru radikal. Lho!?

Kata “Guru” berasal dari dua kata bahasa sanskerta yang saling berlawanan, “Gu” yang berarti kegelapan dan “Ru” yang berarti terang. Inilah titik awal tugas mulia seorang guru, yaitu menuntun anak-anak keluar dari kegelapan menuju terang. Tugas mulia ini bukan sekadar profesi yang bisa pensiun dini melainkan identitas yang melekat tanpa batas.

Kemendikbud dengan menteri milenialnya mengawali kerja dengan prioritas: de-regulasi pendidikan, pembelajaran anak, penyisiran anggaran, pemanfaatan teknologi, dan revolusi mental. Prioritas kemendikbud mesti menjadi prioritas kerja guru sebagai ujung tombak pendidikan.

De-regulasi pendidikan. Menteri-menteri pendidikan pada kabinet sebelumnya adalah orang-orang pendidikan tinggi. Sejak era reformasi, kursi mendikbud diisi akademisi seperti Muhammad Nuh, Anies Baswedan, dan Muhajir Effendy. Tak mengherankan apabila kebijakan-kebijakan yang digulirkanpun terlalu ‘tinggi’. Akibatnya, kurikulum yang mereka gagas adalah kurikulum langit yang sulit dijangkau para guru yang berpijak di bumi.

Banyak kerumitan pendidikan bersumber dari regulasi. Maka regulasi yang saling bertabrakan harus segera dihapus. Pun dengan regulasi-regulasi yang tumpang tindih harus segera diselaraskan agar penerapannya saling melengkapi. Kemendikbud perlu lebih luas berkolaborasi lintas kementerian merancang regulasi-regulasi yang berjalan seiring seirama. 

Pendidikan anak. Pendidikan anak usia dini harus dibebaskan dari pemaksaan calistung. Bukan berarti calistung-nya tidak penting, namun ada yang lebih mendasar untuk ditanamkan sejak dini yaitu pendidikan karakter. Pendidikan karakter ini bukan nama mata pelajaran, bukan nama ekskul, bukan pula nama kurikulum.

Pendidikan karakter adalah keseluruhan aktivitas mulai dari berpikir, berkata, bertindak, bermain, dan bersosialisasi yang di dalamnya terkandung kesempatan bagi anak untuk mengukuhkan nilai-nilai utama kehidupan. Ini adalah perjalanan marathon, bukan adu sprint. Tentu saja di sepanjang perjalanannya ada jalan mendaki dan berkelok. Yang pasti tidak ada jalan pintas mencapai garis finish.

Meski telah ada Surat Edaran Dikdasmen nomor 1839/C.C2/TU/2009 yang menghimbau calistung diajarkan tidak sebagai pelajaran terpisah, banyak institusi pendidikan justru menjadikan calistung sebagai keunggulan. Parahnya, tak sedikit orangtua yang bangga apabila anaknya jago calistung. Semakin cepat menguasai calistung, semakin banggalah guru dan sekolahnya. Ironis bin miris. 

Pengutamaan pendidikan karakter pada pendidikan usia dini membutuhkan kesamaan paradigma antara sekolah dan keluarga. Kebanggaan semu orang tua harus dibongkar dan ditata ulang menjadi kebanggaan sejati yang utuh. Pun dengan guru yang harus membongkar dan menata ulang keunggulan dan nilai –nilai yang dikembangkan sekolah.

Karakter lebih penting ketimbang kognitif, namun tak banyak yang menerjemahkannya ke dalam kegiatan konkrit seperti tertib antri, toleransi, menghargai perbedaan, mengakui kesalahan, dan memaafkan. Ini bukan domain guru TK-SD semata. Pembelajaran anak adalah tanggung jawab kolektif guru dan orangtua serta sekolah dan masyarakat. 

Penyisiran anggaran. Dana pendidikan sebesar 20% APBN rupanya belum mendarat tepat sasaran. Banyak pos anggaran pendidikan belum menyentuh esensi pendidikan. Perdebatan tentang anggaran hanya berkutat pada besaran gaji guru. Saya meyakini pengucuran tunjangan profesi pendidik tidak banyak berpengaruh pada kualitas layanan pendidikan. TPP lebih banyak dimanfaatkan mendongkrak gaya hidup, bukan untuk pengembangan diri. 

Salah satu anggaran yang menghabiskan biaya besar tapi tidak berdampak adalah pelatihan,  perancangan, dan pembuatan RPP beserta syarat administratif lainnya. Ada benarnya apabila Mas Mentari Nadiem mempertanyakan korelasi antara syarat administratif dengan prestasi murid dan efektivitas pembelajaran. Untuk apakah RPP puluhan halaman per pertemuan yang hanya tersimpan rapi di meja tanpa diimpementasikan di kelas?

Perangkat pembelajaran perlu diubah ke bentuk sederhana tapi bermakna. Bersama guru-guru di sekolah, saya merancang RPP yang poin utamanya adalah tujuan pembelajaran dan aktivitas siswa. KI dan KD cukup termuat pada program tahunan dan program semester. RPP per pertemuan tidak lebih dari satu halaman. Jadi, guru bisa merancang RPP dengan sederhana sekaligus menerapkannya dengan baik.

Pemanfaatan teknologi. Kecanggihan teknologi terbukti menggeser banyak pekerjaan seperti penjaga tol, operator telepon dan juru ketik. Teknologi mesti dilihat sebagai perangkat untuk meningkatkan kapasitas guru, bukan menggantikan guru. Maka guru jangan lagi mengajar dengan gaya penjaga tol yang hanya minta uang tanpa menanyakan tujuan. Jangan seperti operator telepon yang hanya berbicara apabila ada yang mengajak bicara. Jangan hanya jadi juru ketik yang hanya copy-paste gagasan orang lain tapi tak pernah punya gagasan sendiri.

Ada pekerjaan yang hampir pasti tak akan tergantikan teknologi, yaitu konselor dan seniman. Keduanya membutuhkan kreativitas, gemar mencari cara baru, dan intens membangun interaksi humanis. Maka supaya tak tergantikan, guru perlu melengkapi diri dengan perangkat lunak konselor dan seniman.

Guru kenselor adalah guru yang memaknai tugasnya sebagai pendamping bagi anak-anak mengenali keunikan diri. Anak-anak mesti diletakkan pada garis naturalnya sebagai homo ludens yang suka bermain, homo educandum yang gemar berpikir dan berkarya, homo sapiens yang bijak mengambil keputusan, dan homo religius yang berjalin takwa dengan Sang Pencipta.

Guru seniman adalah guru yang tak terpaku pada aturan baku. Bukan berarti guru boleh melanggar aturan melainkan senantiasa mencari cara baru. Kurikulum baru dilihat sebagai tantangan baru sebagai ladang berkarya. Guru seniman memandang setiap anak sebagai seniman yang  berhak mengekspresikan keunikan,  mengungkapkan gagasan, dan merayakan perbedaan.

Revolusi mental. Tantangan besar bagi Mas Menteri Nadiem dan terutama guru sebagai garda terdepan pendidikan adalah mewujudkan revolusi mental lewat konten pembelajaran. Revolusi mental hanya bisa dikerjakan oleh orang-orang yang berani merevolusi mentalnya. Nah, pada tataran inilah guru punya hak istimewa untuk berperan serta mewujudkan revolusi mental lewat konten pembelajaran.

Guru yang bersedia menjadikan dirinya sebagai teladan revolusi mental harus berani berpikir sekaligus bertindak radikal. Radikal? Iya, radikal! Ini bukan salah ketik. Sekali lagi, guru harus radikal. Jangan gagal paham dulu, mari cermati lebih dalam makna radikal.

KBBI versi online menjabarkan kata ‘radikal’ sebagai pronomina dengan arti: secara mendasar (sampai kepada hal yang prinsip); maju dalam berpikir dan bertindak. Kata ‘radikal’ tumbuh dari tunas kata bahasa Latin ‘radix’ yang berarti ‘asal mula’, ‘sumber’, atau ‘akar’. Makna ini bisa diperluas menjadi segala sesuatu yang bersifat mendasar,  prinsipil, substansial, atau pokok.

Jadi, guru radikal adalah guru yang berani berubah dan mengubah hal mendasar yang menghalangi tercapainya tujuan pendidikan nasional mencerdaskan kehidupan bangsa. Guru radikal membongkar akar-akar permasalahan lalu hadir menawarkan solusi. Perubahan guru radikal bukanlah perubahan permukaan melainkan perubahan substansial.

Selamat Hari Guru. (*)

Editor : oci
Uploader : slatem
Penulis : ist
Fotografer : ist

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU