Menulis Tanpa Kompetensi

  • 01-12-2019 / 00:16 WIB
  • Kategori:Opini
Menulis Tanpa Kompetensi

Tulisan adalah salah satu cara untuk menyampaikan pendapat di muka publik. Lewat tulisan maka gagasan  dari seorang penulis dapat dibaca dan dimengerti oleh orang lain bahkan gagasan seorang penulis dappat merubah pola pikir dan pola sikap pembaca. Tulisan dari seorang penulis memiliki energi yang sangat kuat dan luas. Jika seseorang melalui tangannya hanya mampu menarik satu dua orang saja namun dengan tulisannya maka seorang penulis dapat menarik puluhan, ratusan bahkan jutaan orang.

Rata-rata orang-orang hebat di dunia lahir dan besar karena tulisannya. Presiden Jokowi pun sebelum terpilih menjadi Presiden pernah menulis disalah satu Koran nasional pada tanggal 10 Mei 2014 tentang revolusi mental. Kekuatan tulisan juga telah digambarkan oleh tokoh-tokoh besar terdahulu seperti Imam Al ghazali dan Imam Al Ghazali menyatakan bahwa apabila sesorang dilahirkan bukan dari seorang raja, bangsawan dan menteri maka jadilah penulis.

Kalimat ini seakan menyatakan bahwa orang yang tidak memiliki trah kerajaan atau bangsawan dapat menjadi raja atau bahkan tokoh besar apabila mau menjadi penulis. Lebih dasyat lagi, Kitab tanfighul wa filin manyatakan bahwa tinta seorang penulis lebih berharga dari darah seorang syuhadak.

Dalam kehidupan modern, aktifitas menulis kemudian diformalkan dengan dijadikan sebagai syarat wajib memperoleh gelar akademik. Seorang mahasiswa dapat memperoleh gelar sarjana apabila telah menulis skripsi, dapat memperoleh gelar magister apabila menulis tesis dan dapat memperoleh gelar doktor apabila telah menulis disertasi.

Lebih praktis lagi, tulisan juga dapat dijadikan sebagai sumber penghasilan yang sangat menjanjikan. Hal ini tidak lepas dari berbagai keuntungan finansial yang akan diterima oleh seorang penulis. Bahkan tulisan dapat menjadi sumber film yang best seller dan menghasilkan keuntungan yang berlipat ganda. Sebut saja film ayat-ayat cinta yang fenomenal. Film tersebut berasal dari Novel karya Habiburrahman el Shirazy atau film yang sangat diganrungi anak-anak galau berjudul Dilan. Film Dilan merupakan adaptasi dari Novel karya Pidi Baiq.

Namun, hal yang sangat perlu diperhatikan dalam tulisan adalah kompetensi dari penulisnya. Kompetensi seorang penulis sangat dibutuhkan untuk memastikan bahwa tulisan yang dibaca oleh seorang pembaca merupakan pendapat orang yang pakar dibidangnya. Kepakaran seorang penulis sangat dibutuhkan sebab apabila suatu tulisan ditulis oleh bukan pakarnya maka hampir dipastikan suatu tulisan tidak memiliki landasan kesahihan yang dapat dipertangungjawabkan.

Parameter kompetensi seorang penulis sangat mudah untuk di ukur. Semisal, seseorang yang memiliki latar belakang pendidikan hukum kemudian menulis isu hukum maka tulisan tentang isu hukum tersebut dapat dikatakan merupakan tulisan yang ditulis oleh orang yang kompeten. Sebaliknya, apabila seorang yang memiliki latar belakang pendidikan hukum kemudian menulis tentang cara melakukan tindakan operasi terhadap seorang pasien maka dapat dipastikan bahwa tulisan tersebut merupakan tulisan yang ditulis oleh orang yang tidak memiliki kompetensi.

Persoalan kompetensi seorang penulis terhadap tulisan yang akan di publish bukan berarti larangan bagi seseorang untuk menjadi penulis. Persoalan kompetensi penulis wajib diperhatikan demi manjamin bahwa suatu tulisan tidak akan melahirkan “kecelakaan” atau kesesatan pemahaman terhadap suatu objek.

Risiko dari tulisan yang ditulis oleh orang yang tidak kompeten tentu sangatlah bahaya semisal seorang sarjana pendidikan membuat tulisan tentang suatu rancang bangunan yang merupakan kompetensi teknik sipil maka dapat dipastikan bangunan tersebut akan roboh atau bermasalah.

Oleh karenanya, kompetensi seorang penulis sangatlah penting. Dalam dinamika dunia kepenulisan, kompetensi penulis tidak lagi begitu diperhatikan bahkan dalam dunia akademik sekalipun.

Semisal ada Dosen yang menulis tentang berbagai isu yang lagi aktual padahal bukan kepakarannya. Hal ini sama dengan orang mengajari orang lain cara mengendarai mobil sementara dirinya sendiri tidak bisa mengedarai mobil.

Biasanya,  penulis yang mengesampingkan tentang kompetensi dirinya adalah penulis yang tidak memikirkan efek dari tulisannya terhadap pembaca. Ia tidak peduli apakah tulisannya tersebut dapat merugikan ornag lain atau tidak. Yang ada dalam benaknya hanyalah popularitas dan finansial belaka.

Sebenarnya, upaya untuk mencegah tulisan yang ditulis oleh orang yang tidak kompeten telah dilakukan. Dalam dunia akademik misalnya, karya seorang dosen akan bernilai kum atau memiliki point untuk digunakan sebagai dasar kenaikan pangkat apabila tulisannya sesuai/linear dengan kompetensi keilmuan atau keahliannnya. Namun upaya ini tidak mampu membendung kebiasaan penulis yang biasa menulis tanpa kompetensi.

Penulis yang tidak memiliki kompetensi memilki “ego” dan keyakinan bahwa dirinya menguasai semua bidang atau “pakar serba bisa”. Sebab, ia mampu menulis banyak isu yang tidak in line dengan latar belakang akademiknya walaupun tulisannya hanya daur ulang dari internet dan tidak memiliki gagasan yang baru dan orisinil.

Seorang penulis yang tidak memiliki kompetensi acapkali bersandarkan kepada hak asasi manusia (HAM) dimana aktifitas menulis dianggap sebagai bagian dari HAM sehingga tidak perlu dibatasi. Alasan ini tentu merupakan alas an yang tidak dapat disalahkan seutuhnya akan tetapi yang harus difahami bahwa seseorang harus menulis berdasarkan kompetensinya ialah bahwa dalam rangka untuk mencegah pembaca supaya tidak menjadikan tulisan dari orang yang tidak memiliki keahlian sebagai pijakan atau suatu kebenaran.

Bayangkan saja apabila seorang guru yang membaca karya orang yang tidak memiliki keahlian atau asal nulis saja kemudian hasil tulisannya dijadikan sebagai landasan untuk menjelaskan terhadap murid-muridnya di kelas. Artinya, menulis harus didasarkan pada kompetensi penulisnya adalah dalam rangka untuk mencegah agar orang lain tidak menjadi korban dari tulisannya yang asal nulis.

Bukankah mencegah harus didahulukan dari mengambil manfaat (dar ul mafasid muqoddamun ala jalbul masol). Semakin tinggi penddidikan seseorang maka bidang ilmunya akan semakin dalam bukan luas. (*/Malangpostonline.com)

Editor : oci
Uploader : slatem
Penulis : ist
Fotografer : ist

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU