Cara Pancasila Membendung Khilafah

  • 04-12-2019 / 19:55 WIB
  • Kategori:Opini
Cara Pancasila Membendung Khilafah

Oleh: Abdul Wahid

Pengajar Program Pascasarjana Universitas Islam Malang dan pengurus AP-HTN/HAN

 

Banyak kiriman “share” belakangan yang menunjukkan bahwa ada “kekuatan tertentu” yang bermaksud menjadikan paham khilafah sebagai solusinya, termasuk solusi dalam mengganti Pancasila.

Terlepas benar tidaknya berita soal paham khilafah yang “diindikasikan” itu, yang jelas di sejumlah perguruan tinggi (PT) di negeri ini  telah memproduk kebijakan yang berisi larangan aktivitas.  Seperti cara berpakaian atau penggunaan atribut yang bertemakan penyebaran atau pengakuan paham khilafah.

Langkah itu sebenarnya sebagai jawaban (reaksi) terhadap munculnya aktivitas atau gaya berpakaian sekelompok mahasiswa yang dalam momen tertentu berafiliasi pada pengakuan seperti deklarasi paham khilafah, sementara paham atau ideologi yang lain termasuk Pancasila sebagai hal yang menyesatkan.

Memang membaca dan menyiapkan langkah dini, terutama penguatan ideologis adalah hal yang tepat. Daripada nantinya, secara gradualitas ternyata paham khilafah menjadi tumbuh subur dan makin massif di kampus, maka sudah seharusnya para “manajer” PT secepatnya membaca dan menelorkan kebijakan yang berbasis pemenangan ideologis (Pancasila).

Para pendiri republik ini,  secara historis telah menyepakati bahwa Pancasila merupakan ideologi kehidupan berbangsa dan bernegara. Sebagai ideologi, tentunya, setiap elemen bangsa berkewajiban bukan hanya melindungi Pancasila dari perilaku manusia-manusia yang bermaksud mengaburkan dan “menguburkan”-nya (mengganti ideologi), tetapi juga berkewajiban mengamalkannya.

Mengamalkan Pancasila berarti menerapkan dan menegakkan norma-norma yang terkandung dalam setiap sila yang mengeksistensi dalam konstruksi Pancasila. Dalam setiap silanya, terdapat doktrin sakral atau dogma suci, yang mewajibkan setiap anggota masyarakat dan elemen bangsa ini untuk mengamalkannya. 

Dalam realitas sejarah telah menunjukkan, bahwa eksaminasi ideologi Pancasila  tidaklah ringan, pasalnya ada saja pihak-pihak yang berkeinginan atau menunjukkan perilaku berpola “menganibalisasinya”. Mereka sejatinya paham kalau Pancasila adalah “kitab suci” berbangsa dan bernegara, akan tetapi mereka lebih menjatuhkan opsi yang berlawanan dengannya.

Fakta terbaca, bahwa dalam perjalanan ideologi Pancasila, tidak sedikit model perilaku manusia Indonesia, baik secara individual maupun kolektif, yang menunjukkan pola berfikir, bersikap, dan berperilaku yang bergelora (bersemangat) meninggalkan atau menguliti doktrin Pancasila. Bahkan membahayakan negara kesatuan republik Indonesia (NKRI).  Akibatnya, ideologi Pancasila seperti menjadi sebuah ideologi yang kosong tanpa makna (meaningless) yang gagal melaksanakan tugasnya guna membangun dan merajut setiap elemen bangsa dalam suatu bangunan negara yang kuat, bukan sebagai negara yang lembek (soft state).

Untaian kata indah Sila-sila Pancasila sebagaimana tercantum dalam Pembukaan UUD 1945, dalam perjalanan sejarah bangsa ini telah mengalami reduksi kebermakaan sakralitasnya akibat “diadaptasi” atau “diinterpretasi” secara sekuleristik sesuai dengan kepentingan eksklusif politik rezim yang berkuasa.

Pancasila telah sekian kali digunakan sebagai instrumen untuk memaksa rakyat setia kepada pemerintah yang berkuasa dengan menempatkan Pancasila sebagai satu-satunya asas dan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Praktik ”pelukaan” terhadap Pancasila terjadi dimana-mana, khususnya dari komunitas elitnya, yang sikap dan sepak terjangnya tidak berbeda dengan kaum barbar yang tidak berpendidikan. Mereka nikmati ”penganibalan” Sila-sila dalam Pancasila, yang ditunjukkan atau didemonstrasikan dalam kehidupan kesehariannya yang tidak nasionalistik, suka merampok hak publik,  atau tidak sungguh-sungguh menjaga Indonesia sebagai ”rumah bersama”.

Pancasila yang secara substansial menggariskan prinsip ketuhanan, kemanusiaan, keadilan, persatuan, dan penyejahteraan rakyat, sekedar dihafal dan digunakan oleh elemen strategis negara itu sebagai sekumpulan dalil apologis politis, dan bukan sebagai ruh moral-spiritual dalam kinerjanya.

Mereka itu terbaca  merasa malu kalau harus mengimplementasikan Pancasila. Terbukti, mereka dilanda ketakutan kehilangan investasi besar bagi keluarga, kolega, parpol, atau neo-koncoisme-nya, bilamana harus menegakkan doktrin keadilan, kejujuran, tranparansi, humanisasi, keadaban dan supremasi kebertuhanan.

Deskripsi pola hidup atau berkedudukan kontra Pancasila itulah diantaranya yang menjadi akar kriminogen di sebagaian subyek beragama, khususnya anak-anak muda yang tergelincir menjatuhkan pilihan pada pham khilafah.

Di kampus memang digalakkan perlawanan edukasi dengan mengajarkan tentang ketidakbenaran dan kegagalan sistem atau paham khilafah. Lewat kurikulum pendidikan agama atau Pancasila, mereka kita beri informasi dan kita ajak diskusi tentang kegagalan khilafah dan kesaktian Pancasila.

Kita ajak mahasiswa atau anak muda membaca, bahwa di tengah masyarakat atau komunitas tertentu seperti PT, muncul keberanian sikap atau pilihan berbeda, meskipun itu bergesekan atau bahkan berlawanan dengan konstitusi. Mereka melakukan ini, bisa saja dengan menggunakan logika HAM atau adanya keinginan yang kuat berlatar asumsi, bahwa sistem atau paham khilafah yang diajukannya sebagai kekuatan utama yang menentukan kuatnya konstruksi ketatanegaraan, yang didalilkan dengan opsi penggantian Pancasila.

Mahfud MD pernah mengingatkan juga, bahwa semua sistem khilafah, selain pernah melahirkan penguasa yang bagus, sering pula melahirkan pemerintah yang korup dan sewenang-wenang.Kalaulah dikatakan bahwa di dalam sistem khilafah ada substansi ajaran moral dan etika pemerintahan yang tinggi, maka di dalam sistem Pancasila pun ada nilai-nilai moral dan etika yang luhur. Masalahnya, pada soal implementasi.

Pemikiran itu setidaknya memberi pelajaran kita, bahwa Pancasila akan tetap lebih sakti dibandingkan dengan paham atau sistem khilafah, jika implementasinya ditunjukkan dengan sungguh-sungguh, bukan kamuflase. Pancasila tidak akan pernah mampu digeser, apalagi diganti “hanya” oleh paham atau sistem khilafah, jika elitisnya gencar memberikan keteladan keteguhan atau militansi dalam pengamalannya.

Sebaliknya, suatu kemungkinan bisa terjadi, bahwa anak-anak muda akan lebih tergiur mengikitu politik atau budaya bereksperimen dalam  menjatuhkan pilihan ideologis atau sistem seperti khilafah ketika yang dijadikan sumber keteladanan lebih arogan menunjukkan demonstrasi pola hidup kontra Pancasila.

Khilafah bisa tidak lebih dari ”zat-zat adiktif” atau narkoba yang dijadikan sebagai pelampiasan oleh anak muda yang merasa bosan dan dikecewakan oleh ulah ”orang tua” yang belum mau bercerai dengan berbagai ragam cengkeraman praktik peyalahgunaan kekuasaan yang sering menggunakan baju kebesaran Pancasila. (*/Malangpostonline.com)

Editor : oci
Uploader : slatem
Penulis : ist
Fotografer : ist

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU