Urgensi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Halal

  • 06-12-2019 / 20:07 WIB
  • Kategori:Opini
Urgensi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Halal

Oleh: Rahmad Hakim

 

Dalam rangka pengembangan industri halal, telah berhembus wacana seputar kawasan industri khusus halal atau disebut dengan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Halal. Latar belakang dari kemunculan wacana ini adalah dalam upaya untuk meningkatkan peringkat dan pengarusutamaan halal sebagai gaya hidup (lifestyle) secara lebih terstruktur, sistematif dan massif (TSM).

Secara alami Indonesia telah memiliki modal penting dalam pengembangan industri halal yaitu jumlah populasi Muslim yang terbesar di dunia (219 juta penduduk) setara dengan 12,6% dari total populasi Muslim dunia. Hal ini setara dengan 87,2% dari total populasi warga negara Indonesia (PewResearch Center, 2019)

Faktor lainnya adalah fenomena global yang sedang ‘demam’ halal disebabkan oleh dua faktor penting, yaitu faktor ekonomi dan ideologi. Berdasarkan rilis dalam stateofthe global economy Report 2018/2019, dinyatakan bahwa jumlah transaksi industri halal pada tahun 2023 diproyeksikan mencapai $3,007 Triliun. Ditambah lagi dengan meningkatnya jumlah kelas menengah (middle class economy)  dunia, sehingga hal ini meningkatkan jumlah wisatawan Muslim Global sebesar 3 juta jiwa pada tahun 2019, sementara Indonesia telah dikunjungi oleh 3,5 juta wisawatan sepanjang tahun 2019.

Di sisi lain, kesadaran ummat Muslim akan halal mulai meningkat, berdasarkan rilis dari Center of Halal Lifestyle and Consumer Studies (CHCS), dinyatakan bahwa 72,5% konsumen Muslim memiliki kesadaran akan pentingnya konsumsi makanan halal. Hal ini menjadi landasan ideologis, mengapa halal menjadi tren beberapa tahun terakhir.

Upaya Indonesia dalam mengembangkan industri halal terus dilakukan, bukti konkritnya adalah dengan naiknya peringkat negara kita dalam Global Islamic Economy Index (GIEI) yang dirilis oleh Thomson Reuters. Berbanding dengan tahun sebelumnya. Peringkat Indonesia meningkat dalam beberapa bidang, diantaranya adalah; Indonesia mencapai peringkat pertama (1) dalam kategori Muslim Food. Peringkat ketiga (3) dalam kategori Muslim Apparel. Peringkat kelima (5) dalam kategori Muslim Travel. Serta peringkat keenam (6) dalam kategori Muslim Media.

Pencapaian di atas tentu merupakan hal yang patut untuk di apresiasi dan disyukuri. Selain juga sebagai modal penting untuk peningkatan dimasa mendatang.

Indikator Kawasan Halal

Hal yang paling mendasar yang patut dikemukakan adalah, bagaimanakah indikator yang harus dipenuhi guna mencapai maqam dari kawasan industri halal bagi sebuah daerah. Sebab tanpa keberadaan kongkrit indikator ini, tentu industri halal hanyalah akan menjadi sebuah ‘stempel’ halal, tanpa mengindahkan konsep esensi (essential concept) dari halal itu sendiri.

Konsep esensi halal yaitu menghindari kemusyrikan, kemaksiatan, kemafsadatan, tabdzir atau israf, serta menciptakan kemaslahatan dan kemanfaatan baik secara material maupun spiritual. (MUI, 2016).

Jika demikian, setidaknya terdapat beberapa konsep yang ditawarkan oleh para cendekiawan yang telah mengajukan konsepsi seputar indkator halal dari sebuah kawasan.

Dalam rilis yang dikeluarkan oleh Global Muslim Traveler Index (GMTI), beberapa indikator dari kawasan halal adalah Keberadaan akses (acces), adanya jalur komunikasi (communication), kondisi lingkungan (environtment), serta keberadaan layanan (services). Keempat kriteria tersebut dapat disingkat dengan ACES (2016).

Menurut Standler (2018) secara lebih rinci, beberapa parameter yang dirilis oleh Perusahaan Cape Town dalam pemenuhan pariwisata halal adalah; (1) keberadaan bandara (airport), terminal dan pelabuhan yang memiliki fasilitas ramah wisatawan muslim. (2) Ketersediaan hotel atau resort yang menyediakan fasilitas halal, (3) Ketersediaan restoran atau gerai makanan halal, (4) Ketersediaan tempat perbelanjaan halal, (5) keberadaan pusat informasi penunjang kebutuhan wisatawan muslim, (6) keberadaan agen pariwisata dan pendamping wisata (tourguides) ramah wisatawan muslim, (7) ketersediaan taman (ruang terbuka hijau) atau destinasi wisata ramah wisatawan halal, (8) serta, ketersediaan tempat konferensi acara, (9) ketersediaan tempat pertandingan untuk olahraga, disertai fasilitas penunjang, seperti: gerai makanan, ruang beribadah dan lain sebagainya, (10) ketersediaan layanan spa dan terapi ramah wisatawan muslim.

Selain itu, beberapa hal perlu diperhatikandalam rangka menunjang Inovasi bagi wisatawan, yaitu; ketersediaan akomodasi, pasar, paket perjalanan, regulasi Halal (Tresna, et.al, 2016).

Peran Sinergis Stakeholder

Dengan mempertimbangkan faktor indikator di atas, beberapa hal yang penting adalah peran serta perguruan tinggi di daerah. Hal ini penting untuk dilakukan sebab peningkatan industri halal tidak bisa lepas dari peran perguruan tinggi, khususnya dalam penelitian dan pengembangan halal melalui Pusat Kajian Halal (PKH) dan sertifikasi Produk Halal melalui Lembaga Penyelia Halal (LPH).

Selain itu, peran pemerintah daerah dan kota juga perlu untuk diperhatikan, sebab dengan peran aktif pemerintah, keberadaan regulasi terkait industri halal akan turut serta meningkatkan industri halal.  Selain itu juga akan memberikan kemudah bagi para stakeholder terkait, dan juga memberikan ketenangan bagi para pengguna (user) halal, terutama wisatawan muslim.

Di sisi lain, beberapa penelitian menunjukkan bahwa tingkat literasi masyarakat (konsumen dan produsen) terhadap halal, sertifikasi halal dan logo halal masih rendah. Dengan demikian, diperlukan upaya sinergis antara pemerintah, perguruan tinggi dan stakeholder dalam meningkatkan literasi halal bagi masyarakat.

Dengan demikian, wacana terkait Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Halal sangat mungkin untuk dilakukan dalam rangka pengembangan industri halal di Indonesia. Hanya saja diperlukan peran sinergis para stakeholder baik di tingkat pusat maupun daerah dalam penyediaan infrastuktur halal maupun peningkatan literasi halal bagi masyarakat. Bukankan sinergitas merupakan tonggak awal dari sebuah kesuksesan? (al-ittihaduasasunnajah). Wallahua’lam.(*/ Malangpostonline.com)

Editor : oci
Uploader : slatem
Penulis : ist
Fotografer : ist

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU