ASN Versus AI

  • 10-12-2019 / 20:14 WIB
  • Kategori:Opini
ASN Versus AI

Oleh: Sugeng Winarno

Pegiat Literasi Media, Dosen Ilmu Komunikasi FISIP UMM

 

Presiden Joko Widodo (Jokowi) berencana mengganti Aparatur Sipil Negara (ASN) eselon III dan IV dengan robot. Penggantian tenaga manusia menjadi teknologi Artificial Intelligence (AI) berupa robot ini bertujuan agar proses birokrasi berjalan cepat. Beragam pekerjaan yang sifatnya rutinitas yang selama ini dilakukan oleh ASN akan digantikan robot AI. ASN versus AI menjadi pembahasan yang seru. Akankah penggantian ASN dengan teknologi akan menjadi solusi jitu, ataukah justru bakal memunculkan persoalan baru?

Sektor pekerjaan dengan sistem padat karya yang menggunakan banyak tenaga manusia itu kini tak lagi relevan. Ini adalah tuntutan zaman, pekerjaan manusia bisa digantikan robot. Ini adalah tantangan bagi manusia agar selalu meningkatkan kemampuannya. Kompetitor manusia kini tak hanya sesama manusia, namun manusia harus berhadapan melawan robot.

Kehadiran teknologi AI kini menjadi sebuah keniscayaan. Aplikasi penggunaan AI dalam pemerintahan misalnya, diprediksi bakal  meningkatkan dan mempercepat pelayanan birokrasi. 

Menurut data dari Badan Kepegawaian Negara dan Bank Dunia, saat ini jumlah ASN pada tingkat eselon III dan IV sebesar 238.000. Rinciannya, ASN eselon III sebanyak 52 ribu orang dan eselon IV sebanyak 186 ribu orang. Sedangkan jumlah ASN eselon I dan II mencapai 9.686 orang. Rinciannya, 286 ASN eselon I dan 9.400 ASN eselon II.

Kalau memang benar ASN eselon III dan IV akan digantikan robot maka efisiensi anggaran, kecepatan dan kualitas layanan birokrasi akan lebih terjamin. Perubahan budaya kerja ASN juga akan terjadi dengan pemakaian robot AI ini.

 

Artificial Intelligence (AI)

Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi memang sebuah keniscayaan. Tak ada yang bisa membendung laju percepatannya. Kemajuan teknologi telah melahirkan kecerdasan buatan atau biasa dikenal Artificial Intelligence (AI). Melalui AI sesuatu yang semula tak mungkin kini bisa menjadi kenyataan. AI telah menjawab segala ketidakmungkinan menjadi mungkin, AI merubah impossible menjadi possible.

Rhenald Kasali (2019) menyebut untuk sukses di era teknologi saat ini perlu enam pilar yang perlu dikuasai yakni super apps, artificial intelligence (AI), big data, IOT, cloud, dan broadband network. Keenam pilar yang dikemukakan Rhenald Kasali ini semua terkait dengan perkembangan dan penggunaan teknologi komunikasi. Kesuksesan seseorang, perusahaan, atau instansi pemerintah sangat ditentukan oleh peranan teknologi sebagai perangkat keras (hardware) dan Sumber Daya Manusia (SDM) sebagai perangkat lunaknya (software).

AI adalah simulasi menggunakan mesin yang meniru kecerdasan manusia. Ketika kita berbicara tentang AI senantiasa identik dengan robot. Seperti banyak diceritakan dalam novel-novel dan berbagai film fiksi robotlah wujud fisik yang kecerdasannya bisa di cloning layaknya manusia. Robot bisa menjalankan tugas, fungsi, dan peran layaknya manusia. Robot bisa seperti layaknya manusia walau tak bernyawa.

Ketika temuan teknologi AI digunakan untuk keperluan dan kepentingan yang dapat membantu kerja manusia, sesungguhya kehadirannya sangat bermanfaat. Namun kemunculan AI tak menutup kemungkinan digunakan untuk aktivitas kejahatan. Ini tentu berbahaya. Karena teknologi apapun itu sebenarnya sifatnya netral. Semua sangat tergantung pada orang yang menggunakannya. People behind the gun, orang dibalik teknologi itu yang berpengaruh.

Sejumlah pihak mengawatirkan kemunculan AI bisa digunakan untuk kepentingan jahat. Hal-hal yang bersifat merusak bisa saja dilakukan dengan bantuan teknologi AI. Seperti yang terjadi saat ini, teknologi perang telah berkembang sangat pesat dengan menggunakan teknologi canggih. Perang yang dahulu membutuhkan peralatan dan persenjataan konvensional, saat ini telah bisa digantikan oleh mesin.

                Munculnya gagasan menggantikan sejumlah pekerjaan ASN dengan robot AI mengarah pada tujuan kebaikan. Kehadiran teknologi AI dalam pekerjaan manusia adalah untuk bersinergi dan berkolaborasi dengan manusia. Artinya, kehadiran teknologi AI dapat diarahkan untuk memberi kemanfaatan pada kehidupan manusia. Munculnya para ASN versi AI akan menjadi tantangan bagi manusia untuk selalu meningkatkan kemampuannya.

 

Menggantikan Manusia?

Robot memang bukan manusia. Manusia adalah makhluk Tuhan yang paling sempurna. Manusia dikaruniahi akal pikiran. Manusia punya kecerdasan akal dan napsu yang menjadikannya berbeda dengan makhluk lain. Manusia berbeda dengan malaikat, pun manusia juga tak sama dengan binatang. Kalau kini muncul robot yang punya kemampuan mirip manusia, akankan kehadirannya bisa menggantikan manusia?

Di sejumlah pabrik dan industri, beberapa pekerjaan yang semula dilakukan manusia memang telah tergantikan mesin dan robot. Melalui perangkat non manusia, pekerjaan terbukti lebih efektif dan efisien. Hasil produksi bisa berlipatganda dan kualitas juga bisa stabil. Pekerjaan yang menggunakan robot juga punya kecenderungan minim kecelakaan kerja. Di sejumlah pabrik perakitan mobil di Tangerang misalnya, telah lama menggunakan teknologi robot sehingga industri mobil itu tak butuh banyak tenaga kerja manusia.

Dalam penggunaan mesin dan robot di industri posisi manusia lebih pada pengoperasian komputer untuk pemrograman agar sejumlah mesin dan robot berjalan sesuai yang diharapkan. Dengan menggunakan mesin dan robot, ongkos produksi bisa ditekan karena tak perlu banyak pengeluaran untuk menggaji karyawan. Penggunaan mesin telah memotong serangkaian proses produksi menjadi lebih efisien.

Dari sejumlah kenyataan ini jelas bahwa kehadiran robot dalam konteks industri memang terbukti telah mampu menggantikan peran manusia. Konsep pekerjaan yang menekankan pada padat karya dengan menggunakan banyak tenaga manusia telah berubah menjadi padat modal. Situasi inilah yang menjadi tantangan bagi manusia untuk selalu meningkatkan skill-nya agat tak tersingkirkan oleh robot.

Robot adalah bikinan manusia. Maka sang pembuatnya tentu tak boleh kalah dengan apa yang diciptakannya. Kehadiran AI bakal membawa perubahan yang sangat berarti terutama dalam menunjang pekerjaan manusia. Di samping itu, munculnya bermacam robot pintar juga berpeluang memunculkan kekhawatiran akan penyalagunaan teknologi untuk kepentingan kejahatan.

Untuk itu skill terkait dengan teknologi AI ini harus selalu ditingkatkan. Ekosistem dan kultur penggunaan AI perlu terus dibudayakan.

Kemunculan robot mengganti ASN tentu akan menjadi tantangan serius bagi manusia. Robot AI memang bukan manusia, namun kalau robot nyatanya bisa menggantikan sejumlah peran manusia itu artinya ancaman bagi manusia. Untuk itu kekhawatiran atas hadirnya AI mengganti pekerjaan manusia harus mampu dijawab manusia itu sendiri. Manusia harus terus membuktikan bahwa dirinya lebih unggul dari robot tak bernyawa itu. (*/Malangpostonline.com)

Editor : oci
Uploader : slatem
Penulis : ist
Fotografer : ist

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU