Nomophobia Serang Generasi Milenial

  • 17-12-2019 / 14:49 WIB
  • Kategori:Opini
Nomophobia Serang Generasi Milenial

Oleh: Bella Rindie Ramadhanti

 

Di era digital seperti ini semua hal bersifat manual dan bergerak dengan cepat. Mulai dari informasi,layanan jasa, sampai belanja pun sekarang serba manual dan cepat di era ini. Pada era ini suatu sindrom besar sedang menyerang generasi milenial. No mobile phone phobia atau pada era ini sering disebut dengan nomophobia merupakan sebuah rasa cemas berlebih ketika menjalani hidup tanpa alat elektronik. Seperti, merasa cemas ketika baterai ponsel lemah, tidak ada jaringan ,tidak ada pulsa, merasa tidak nyaman ketika jauh dari ponselnya, sering mengecek ponselnya hanya untuk melihat update di media sosial.  Maka dari itu nomophobia akan memaksa pecandunya untuk terus menerus melihat ponselnya. Serangan nomophobia ini banyak dialami oleh generasi-generasi milenial yang saat ini sedang gila dengan gadget. Bahkan gadget bagi mereka adalah sesuatu yang sangat berharga daripada hidup bersosial dengan kawan sebayanya. Mereka lebih memilih menghabiskan waktu untuk hidup sosial melalui gadget daripada bersosialisasi secara langsung dengan kawan sebayanya. Maka tak heran jika pada era milenial ini banyak para remaja yang tak bisa bersosialisasi dengan lingkungan sekitarnya.

Memang benar adanya bahwa smartphone sangat membantu serta menjadi pendukung para generasi milenial dalam melakukan aktivitas dengan aplikasi-aplikasi yang disuguhkan pada smartphone tersebut. Dengan smartphone mereka bisa menyelesaikan tugas atau aktivitas mereka lebih cepat. Tak hanya itu, mereka juga dapat berkominikasi dengan teman sebayanya lebih cepat.  Bahan beberapa dari generasi milenial ini memiliki kebiasaan menempatkan smartphonenya tak jauh dari jangkauan mereka agar mereka dapat melihat informasi yang masuk dalam smartphone nya setap saat. Seiring berjalannya waktu ketergantungan pada smartphone berdampak pada kehidupan sosial mereka. Suatu penelitian menyebutkan bahwa, kebanyakan pelajar memulai harinya dengan mengecek jejaring sosialnya. Rata-rata jejaring sosial diakses selama 5 jam perhari.

Nomophobia terjadi akibat para remaja saat ini cenderung asik dengan kehidupan sosial dunia maya daripada dunia nyata. Bahkan , komunikasi mereka cenderung lebih sering melalui akun media sosialnya dibandingkan kominikasi secara langsung. Perilaku ini membuat remaja milenial tidak begitu peduli dengan langsungan sekitarnya. Tingkat kecanduan pada nomophobia diakibatkan oleh adanya faktor internal , yaitu faktor yang berkaitan dengan karakteristik individu, faktor situasional, faktor yang berkaitan dengan psikologis individu, faktor eksternal , yaitu daya tarik ponsel seperti daya tarik promosi dalam smartphone yang menimbulkan rasa ingin, dan faktor yang terakhir yaitu faktor sosial, berhubungan dengan cara interaksi sosial setiap individu.

Nomophobia dapat berakibat fatal bagi generasi milenial , karena jika para generasi milenial kecanduan akan smartphone terus menerus hal tersebut akan membuat mereka semakin acuh terhadap lingkungan sekitarnya, dan akan susah untuk berinteraksi sosial dengan lingkungan sekitarnya. Tak hanya itu para generasi milenial juga akan kehilangan fokus yang baik dalam dirinya. Kualitas tidur pun juga akan menurun jika mereka dalam keadaan kecanduan smartphone. Tanpa disadari dampak-dampak negatif juga akan muncul pada psikologis mereka. Seperti hal nya , apabila terjadi sesuatu dengan smartphone nya maka emosi mereka bisa menjadi tidak stabil. Akibat emosi yang tidak stabil tersebut juga dapat merugikan orang lain, karena bisa jadi ketika pada keadaan tersebut orang yang awam akan mendapat getah dari ketidak stabilan emosi tersebut.

Maka dari itu, untuk mengurangi dampak-dampak tersebut generasi milenial harus sering-sering bersosialisasi dengan lingkungan sekitarnya. Mereka juga harus mempunyai waktu yang perlu di jadwalkan untuk mematikan smartphonenya, memberi perhatian besar pada kehidupan nyata daripada dunia maya. Apabila mereka tidak mencoba mengurangi penggunaan smartphone yang terus menerus tersebut, mereka akan terjebak dalam sindrom besar ini yang dapat menimbulkan akibat fatal bagi kehidupan mereka selanjutnya. (*/Malangpostonline.com)

Editor : bua
Uploader : slatem
Penulis : ist
Fotografer : ist

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU