Edukasi Direnggut Para Tikus Berdasi

  • 18-12-2019 / 21:43 WIB
  • Kategori:Opini
Edukasi Direnggut Para Tikus Berdasi

Oleh: Nova Laela Andrian

 

Awal ketika mengenal huruf dan angka, alangkah senangnya bisa mengetahui bentuk dan jenis huruf dan angka, serta bisa menulis lalu membacanya. Pertama kali masuk sekolah dasar, dengan bangga bisa berhitung dan membacanya dengan lancar. Sejak itu, mulai timbul rasa keinginan dan cita-cita.

Dari berbagai jenis cita-cita dan potensi muncul dipikiran dan ada keinginan untuk mewujudkannya. Itu karena sudah mengetahui dan mengenal angka dan aksara. Hal ini merupakan dasar pengetahuan yang terpenting untuk menguakkan pikiran seseorang.

Ilmu pengetahuan dasar akan berkembang jika mengikuti pola pikir yang semakin ditumbuhkan dari pendidikan yang banyak diperoleh seseorang. Tidak hanya di sekolah, pendidikan juga bisa didapatkan dari lingkungan keluarga dan lingkunga masyarakat. Ini adalah awal mula dari pengembangan pendidikan serta perjuangan untuk meraih cita-cita.

Pepatah mengatakan, "Gapailah cita-citamu setinggi bintang di langit". Bahwa, jarak antara bumi dan bintang itu tak terhingga,  begitupun cita-cita yang kita impikan begitu besar. Cita-cita tidak akan berhasil tanpa adanya perjuangan dan usaha yang maksimal. Pendidikan yang dimaksud disini adalah pendidikan dalam bidang ilmu pengetahuan maupun bidang moral.

Pendidikan menjadi modal utama dalam segala hal dan pendidikan menjadi harga mati bagi perjuangan seseorang untuk menggapai cita-cita.

Dalam Undang-Undang Negara Republik Indonesia No. 12 Tahun 2012 sudah dijelaskan, bahwa Pemerintah Indonesia mengusahakan untuk menyelenggarakan sistem pendidikan nasional untuk memajukan IPTEK serta peradaban dan kesejahteraan manusia. Itu merupakan cita-cita yang berdasar pendidikan.

Masa depan setiap orang itu dari pendidikan yang tercantum dalam pembukaan UUD 1945. Tidak sedikit yang mengatakan bahwa pendidikan itu mahal, pendidikan itu susah untuk didapatkan. Namun, banyak juga yang berpendapat tidak semua masyarakat pribumi yang bisa mendapatkan pendidikan sebagaimana mestinya mereka rasakan.

Bukan sekedar teori, itu merupakan fakta yang benar-benar nyata. Jika kita bandingkan dengan daerah kota, masih banyak di pelosok daerah yang belum atau bahkan tidak sama sekali mengenal pendidikan dan apa tujuan dari pendidikan tersebut. Bisa kita sebut mereka belum merasakan kemerdekaan di negaranya sendiri.

Biaya pendidikan yang mahal, kurangnya tenaga pendidikan yang berkualitas menjadi faktor utama yang menyebabkan banyaknya masyarakat yang belum mengenal apa itu pendidikan.

Dalam mengembangkan pendidikan, pemerintah Indonesia belum sepenuhnya memberi dukungan dan upayanya. Dilihat dari banyaknya gedung sekolah yang hancur dan tidak layak untuk dipakai juga beberapa daerah yang bahkan tidak memiliki gedung sekolah sebagai tempat untuk menuntut ilmu.

Kondisi yang sangat memprihatinkan jika daerah kota begitu banyak gedung sekolah yang nyaman, besar, dan megah, sedangkan di daerah pedalaman fasilitas pendidikan tidak memadai.

Muncul banyak pertanyaan, bagaimana masyarakat di berbagai daerah pelosok yang bisa mengenal pendidikan dan mengembangkan pikirannya untuk mencapai cita-citanya? Bagaimana bisa sejahtera jika masyarakatnya buta akan huruf? Apakah pemerintah Indonesia benar-benar akan mengembangkan pendidikan?

Saat ini, program pemerintah di bidang pendidikan belum terjangkau ke pelosok daerah. Banyak masyarakat yang tidak yakin dengan pengembangan pendidikan yang ada di Indonesia. Penyebab utama terhambatnya program pemerintah ini adalah masih banyaknya tindakan korupsi yang dilakukan oleh para oknum tidak bertanggung jawab dengan memangkas biaya pendidikan ke berbagai daerah kota sehingga masyarakat yang ada dipedalaman tidak bisa merasakan program pendidikan yang seharusnya mereka dapatkan.

Tindakan korupsi merugikan banyak orang dan menyebabkan banyak pihak bawah yang semakin terbawah. Kemiskinan yang kerap kali mereka rasakan tanpa adanya perubahan akibat dari oknum-oknum yang harusnya dihukum dengan seadil-adilnya.

Minimnya tenaga pendidikan yang berkualitas juga disebabkan karena kurangnya minat dari masyarakat yang lulus dari perguruan tinggi. Alasannya adalah rendahnya penghargaan dari pemerintah terhadap kaum pendidik. Sedangkan pengembangan pendidikan tidak hanya tentang pendidikannya, tetapi juga pendidiknya yang menjadi utama sebagai pencerdas kehidupan bangsa.

Kurangnya minat para guru untuk mendidik dan mengajar di daerah pelosok yang juga menjadi penghambat minimnya tenaga pendidik yang berkualitas. Sebagai generasi penerus bangsa,kita sudah banyak makan asam garamnya pendidikan seharusnya bersedia mendukung program pemerintah dalam mengembangkan pendidikan di negeri tercinta ini.

Masa depan kita cerah dengan adanya pendidikan didalamnya. Dan dengan pendidikan, kita bisa mengubah dunia. Mari kita saling mendukung dalam mengembangkan pendidikan, di mulai dari diri sendiri menjauhkan tindakan korupsi agar Indonesia menjadi lebih maju ditangan orang yang tepat dan berpendidikan. (*/Malangpostonline.com)

Editor : bua
Uploader : slatem
Penulis : ist
Fotografer : ist

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU