Jaringan Terorisme Kontemporer

  • 23-12-2019 / 20:52 WIB
  • Kategori:Opini
Jaringan Terorisme Kontemporer

Oleh: Abdul Wahid

Pengajar Program Pascasarjana Universitas Islam Malang dan pengurus AP-HTN/HAN

 

Terorisme kontemporer di dunia, termasuk Indonesia disinyalir makin berkembang atau setidaknya masih gentayangan. Terbukti, Densus 88 berhasil menetapkan tersangka tak kurang dari 46 orang pasca bom Mapolresta Medan. Mereka ditangkap di Sumatera, Jawa, dan Kalimantan. Menurut Brigjen Dedi Prasetyo, dari jumlah ini, ada 23 tersangka yang ditangkap di Sumatera Utara dan Aceh. Mereka adalah kelompok Jamaah Ansharut Daulah (JAD).

Kita bisa membaca, bahwa JAD termasuk salah satu organisasi teroris kontemporer yang berjaringan luas. Misalnya tiap wilayah memiliki pimpinan. Contoh, untuk wilayah Sumatera Utara JAD dipimpin atau di bawah Amir berini¬sial Y. Jaringannya meliputi Sumatera Utara dan Aceh.

Dari salah satu bacaan Densus 88 menunjukkan kalau JAD berupaya atau merancang dalam menciptakan ragam terror di tengah masyarakat.  Densus 88 misalnya berhasil menyita barang bukti berupa bahan pembuat bom seperti pupuk urea hingga black border. Ba¬han-bahan ini diduga akan digunakan para tersangka un¬tuk merakit bom low explosive.

Selain itu, Tim Densus juga menang¬kap 22 teroris dari Banten hingga Kalimantan Timur. Para tersangka diciduk di Jakarta (3), Jateng (9), Jabar (6), dan Kalimantan Timur (1). Mereka ini diindikasikan sebagai bagian dari jaringan JAD.

Kerja Densus 88 itu menunjukkan bahwa, dari waktu ke waktu sepertinya masyarakat akan terbebas dari horor yang diproduk teroris. Padahal,  jika melihat atau membaca jaringan yang begitu luas dari Aceh, Sumut, Jabar, Jakarta, Jateng, hingga Kalimantan Timur, ternyata memperlihatkan mereka masih be¬nar-benar eksis.

Masifnya sel-sel teroris juga dapat terbaca dari kinerja Densus 88 yang mengidentikkan  kalau di tengah masyarakat ini “sangat” mudah menemukan atau membongkar jaringan teroris, atau gampangnya kelompok JAD mengepakkan sayapnya.

Potesi menjalar atau meluasnya JAD di Indonesia ini tentu saja tidak cukup hanya dihentikan dengan UU Teroris atau sanksi khusus seperti pencabutan kewarganegaraan bagi yang bergabung dengan JAD. Tetapi juga pelemahan informasi menyesatkan kepada para anak muda yang berdampak mendestruksi daya pikir dan keyakinannya, khususnya di lini keagamaannya.

Dalam “Surat Ke Surga” yang ditulis Azzumarwan Hadi (2013) disebutkan, bahwa para pencetus dan pembangun gerakan radikalisme dan ekstrimisme, selalu mengampanyekan dan meyakinkan kepada setiap kader tentang beberapa hal. Yakni, esensi mati demi ajaran suci dan hidup abadi dalam sistem doktrinisasi klaim kebenaran, serta hidup damai berdampingan dengan Tuhan di kemudian hari.

Pikiran itu mengingatkan tentang dahsyatnya pengaruh informasi dalam membentuk nalar dan mental kader. Mental pembela atau elemen JAD tidak takut digempur oleh kekuatan manapun, mengindikasikan bahwa doktrin yang diyakini dan dibelanya disikapinya sebagai kebenaran mutlak.

Ada hasil riset yang menengarai, bahwa teroris bisa berkembang di Indonesia. Negeri ini memiliki toleransi yang tinggi terhadap kebebasan beragama. Sejatinya toleransi ini baik karena memperlihatkan Indonesia sebagai negara yang mencintai kedamaian atau menjunjung tinggi demokratisasi beragam. Namun ini juga bisa sekaligus menjadi peluang atau “dimanfaatkan”oleh jaringan JAD untuk menumbuhkan atau memasifikasi bibit-bibit gerakan yang membahayakan.

Temuan lain menunjukkan, bahwa minimnya pengetahuan dan informasi masyarakat mengenai agama atau kepercayaan justru menyeretnya ingin berbuat ekstrim supaya dikesankan atau terbaca publik sebagai “orang beragama”. Ini dibuktikan dengan tidak sedikitnya anak  muda, yang memilih bergabung dengan aliran-aliran tertentu. Termasuk JAD guna mewujudkan gerakan jihad dan pembenaran “daulah Islamiyah”. Padahal informasi tentang makna teks ayat suci yang diterimanya masihlah sedikit dan dangkal.

Memang ada indikasi disampaikan oleh beberapa pengamat atau periset masalah teroris. Bahwa sebenarnya JAD itu merupakan bagian dari sayap kuatnya ISIS yang dijadikan sebagai organisasi pelapis. Yang bisa diandalkan untuk memecah pikiran publik internasional dalam membaca “diversifikasi” gerakan-gerakannya.

Radikalisme dalam JAD itulah yang “dikampanyekan” ke seluruh dunia, khususnya di Indonesia. Mereka terus memproduksi banyak jebakan atau ranjau-ranjau yang dapat “menyadarkan” (membelokkan) jalan pikiran sel-sel. Diantaranya dengan logika kalau negara sudah tersesat jalan cukup jauh dalam meninggalkan atau “mempermainkan” kitab suci.

Para sel itu “diedukasikan” dengan berbagai contoh tentang keragaman kesalahan negara atau ketersesatan subyek agama dalam mengimani agamanya. Yang kemudian mereka didaulat menjadi hakim yang diberi hak atau kewenangan melakukan pola-pola eksekusi sesuai dengan bentuk kesalahan atau kejahatan yang sudah dirumuskannya.

JAD membuktikan dirinya sebagai produsen teror yang bisa melakukan rekayasa dalam mengolah sedikit atau beberapa kelemahan elemen masyarakat. Kemudian kelemahan ini dikelola atau dikembangkan untuk menjadi “amunisi”  dalam menciptakan dan mengembangkan teror supaya lebih cepat diterima masyarakat.

JAD juga rajin menabur informasi yang berkarakteristik disintegratif, pasalnya mereka menyebarkan ragam “peta’ kalau antar pemeluk agama yang berbhineka di negeri ini tidak akan bisa menjalani kehidupan dalam ranah harmonisasi, pluralisasi,  atau saling berdampingan dalam kedamaian dan persaudaraan.  Pemeluk agama minoritas misalnya, disudutkan sebagai komunitas yang telah sukses merampas sumberdaya strategis yang semestinya menjadi hak milik pemeluk agama mayoritas.

Kalau sudah masuk menjadi anggota JAD, sulit sekali mengembalikannya ke jalan yang benar. Pasalnya dari beberapa testinomi, mereka merasa dalam orgasasi ini mendapatkan “rumah demokratis” dan berkebebasan untuk mengembangkan dan memilitansikan dirinya. Khususnya dalam mewujudkan berbagai bentuk aksi radikalistiknya.

Untuk melemahkan gerakan akselerasi JAD itu, idealitasnya harus dilawan secara terintegratif antara pemerintah (negara), lembaga pendidikan, dengan elemen keluarga. Dengan cara menyebarkan informasi (mendakwahkan) nilai-nilai keagamaan secara terus menerus, demokratis, inklusif,  dan rasional. Mulai dari soal kepemimpinan, keadilan, dan urgensinya hidup saling memaafkan, melindungi, atau menjauhkan diri dari pola-pola dehumanisasi. Hingga ke soal dampak “gaya” beragama yang menyakiti sesama manusia. 

Langkah preventif edukatif itu akan bermakna dalam membentuk banyak sel anti radikalisme. Sel-sel ini kita idealisasikan menjadi bagian dari penutup “ruang” akar kriminogen yang dipropagandakan  oleh “orang-orang” JAD. JAD selalu menginginkan supaya negara ini di mata rakyatnya bukanlah organisasi  yang kuat dan dicintainya. Propaganda demikian dibutuhkan sel-sel yang diedukasikan secara empirik dan futuristic untuk melawannya sepanjang masa. (*/Malangpostonline.com)

Editor : oci
Uploader : slatem
Penulis : ist
Fotografer : ist

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU