Menceritakan Data

  • 25-12-2019 / 01:31 WIB
  • Kategori:Opini
Menceritakan Data

Oleh: Ardi Wina Saputra

 

Literasi dan numerasi merupakan dua hal yang sangat diperhatikan oleh Menteri Pendidikan Indonesia. Literasi bukan sekadar membaca, menulis, atau menghafal tapi memahami dan numerasi bukan sekedar menghitung tapi memaknai data. Pergeseran paradigma pembelajaran dari menghafal dan menghitung juga menjadi poin penting karena anak-anak Indonesia mulai diajak untuk memiliki kemampuan literasi yang disesuaikan dengan standard PISA.

Soal-soal dalam PISA memang cenderung bukan hafalan, melainkan pemahaman dan pemaknaan. Dibutuhkan konektifitas yang kompleks dalam berpikir ketika memahami dan memaknai sebuah data. Kecepatan teknologi informasi yang semakin pesat membuat kemampuan menghafal dan menghitung bukan lagi menjadi kemampuan utama melainkan sarana.

Kecakapan yang dibutuhkan anak Indonesia untuk menyongsong masa depan adalah kecakapan berpikir kritis bukan lagi sekadar teknis. Untuk sampai pada tataran tersebut diperlukan kecakapan literasi dan numerasi yang baik. Salah satu cara yang dapat diberikan pada anak untuk menngasah kecakapan literasi dan numerasi adalah bercerita dengan menggunakan data.

 

 

Sepuluh Tahapan

Berita dan cerita merupakan dua hal yang sulit untuk dilepaskan dari kehidupan manusia. Kebutuhan pada berita dan cerita seolah menjadi kebutuhan utama pada era maha data ini. Itulah sebabnya, kemampuan bercerita menggunakan data merupakan kemampuan abad 21 yang harus dimiliki oleh generasi muda.

Pakar analisis data, Cole Nussbaumer Knaflic dalam bukunya berjudul Storytelling with Data (2015) mencetuskan sepuluh langkah jitu yang dapat dilakukan oleh pembelajar untuk belajar bercerita menggunakan data.

Langkah pertama adalah mengetahui pentingnya konteks. Keberagaman data akan dapat terbaca apabila terdapat benang merah yang padu atau bisa disebut dengan konteks. Konteks merupakan instrumen utama yang digunakan untuk memilah data hingga menentukan jalur penampilan/ penceritaan seperti apa yang diinginkan oleh pencerita.

Langkah kedua yaitu memilih tampilan yang efektif. Efektif berarti kewajaran dalam hal teks, tabel, pilihan bentuk diagram, pemetaan, garis lurus, garis melengkung hingga pertimbangan untuk keperluan menggunakan tampilan dua atau tiga dimensi.

Langkah ketiga adalah identifikasi dan eliminasilah segala hal yang membuat tampilan data terlihat kusut. Pada langkah ini, pencerita data harus mampu mengurai data yang berbelit hingga memotong data yang tidak perlu sehingga mudah dipahami ketika disajikan. Langkah keempat adalah fokus pada perhatian penyimak. Pemahaman untuk mengetahui siapa penyimaknya, berapa jumlahnya, kapan disampaikan dan di mana tempatnya merupakan pemahaman yang utama.

Pencerita harus tahu betul kondisi penyimaknya agar data yang disampaikan dapat berterima bagi mereka. Bila perlu sajikan juga kondisi-kondisi yang terbaru atau kondisi kontekstual untuk memberikan efek kedekatan psikologis ketika data disampaiakan.

Langkah kelima adalah berpikir seperti desainer. Berpikir seperti desainer berarti jeli dalam melihat tampilan data dari berbagai sudut pandang. Ketajaman dan insting artistik diperlukan di sini agar data benar-benar nyaman untuk disajikan. Desainer pasti akan memeriksa dengan jeli desainya sebelum disajikan pada khalayak, begitu pula pencerita data. Ia akan memastikan betul detil-detil tampilan, mulai dari ukuran hingga tipografi huruf, latar belakang, gambar yang digunakan, dan efek visual yang disajikan.

Tahap keenam adalah membedah model visualnya. Tahap ini berkaitan dengan tahap kelima. Pada tahap kali ini, pencerita dapat membandingkan dua atau lebih tiga tampilan kemudian mengkombinasikannya untuk menjadi sebuah tampilan yang sempurna. Diskusi, kritik, masukan, dan saran dari rekan sejawat diperlukan sehingga kemampuan berkolaborasi merupakan kemampuan utama pada tahap ini.

Langkah ketujuh adalah belajar bercerita. Agar dapat berbicara, data yang ditampilkan perlu diceritakan. Pada tahap ini, pencerita harus mulai belajar bercerita layaknya mendongengkan sebuah cerita. Tiga bagian utama dalam cerita yaitu pembuka, konflik, dan penutup harus dikemas sedemikian rupa agar menarik.

Pencerita yang lihai akan menggunakan objek data sebagai tokoh utama dan lokasi dalam data sebagai latar. Permasalahan yang disajikan juga dapat diangkat sebagai konflik utama sehingga dapat memberikan rangsangan pada imajinasi penyimak untuk mengetahui dampak dari kalkulasi data yang disajikan, sekaligus dapat menstimulus penyimak untuk mencari solusinya.

Langkah kedelapan adalah menarik semua elemen secara bersama-sama. Langkah ini merupakan gabungan dari tujuh langkah sebelumnya. Pada langkah kedelapan, pencerita data dapat melakukan simulasi menyajikan sambil menceritakan data. Keterkaitan dengan konteks merupakan hal yang diutamakan. Kecenderungan yang terjadi adalah cerita yang disampaikan terlalu melebar dan tidak fokus pada tema utama.

Langkah kesembilan adalah studi kasus. Langkah ini dilakukan untuk mengantisipasi kasus-kasus yang terjadi di lapangan seperti suara yang bising atau warna layar yang terlalu cerah/gelap hingga kondisi situasi lapangan. Kasus-kasus yang menjadi kendala diidentifikasi kemudian dibuat skala prioritas untuk ditangani. Kemungkinan terburuk tetap harus diantisipasi agar dalam menceritakan data, kendala teknis maupun non teknis dapat teratasi sejak awal.

Langkah kesepuluh adalah sentuhan akhir. Pada intinya, menceritakan sebuah data merupakan proses menggabungkan sains dan seni. Data-data ilmiah disajikan dan dikemas dengan menggunakan pendekatan seni visual dan seni sastra (bercerita). Ketimpangan salah satu bagian merupakan hal yang tidak dianjurkan.

Data terlalu kering tanpa sentuhan seni akan membosankan, begitu pula dengan seni tampilan yang terlalu heboh dan tidak sesuai dengan data maka pesan akan terabaikan. Pada tahapan akhir ini, pencerita perlu membuat semua elemen tersebut menjadi proporsional. (*/Malangpostonline.com)

Editor : oci
Uploader : slatem
Penulis : ist
Fotografer : ist

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU