Kemiskinan vs Pengangguran Kota Malang

  • 25-12-2019 / 19:38 WIB
  • Kategori:Opini
Kemiskinan vs Pengangguran Kota Malang

Oleh: Satria Candra Wibawa

 

Berdasarkan rilis terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) tingkat kemiskinan di Kota Malang pada 2019 mengalami penurunan 0,03 persen poin menjadi 4,07 persen. Dibandingkan dengan kabupaten/kota lain di Jawa Timur, tingkat kemiskinan Kota Malang menduduki peringkat terendah kedua setelah Kota Batu.

Namun menjadi sebuah ironi manakala capaian gemilang tersebut tidak diikuti oleh angka pengangguran. Tingkat pengangguran terbuka di Kota Malang pada Tahun 2019 sebesar 6,04 persen dan menduduki peringkat tertinggi di Jawa Timur.

Jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Kota Malang mengalami penurunan 0,75 persen poin dari 6,79 persen pada Tahun 2018 menjadi 6,04 persen pada Tahun 2019. Penurunan ini tidak mengubah posisi Kota Malang sebagai kota dengan pengangguran tertinggi di Jawa Timur.

Pada tahun yang sama TPT Jawa Timur sebesar 3,92 persen dan TPT nasional sebesar 5,28 persen. Sedangkan untuk kota besar lainnya di Jawa Timur seperti Surabaya tingkat kemiskinannya 4,51 persen dan tingkat penganggurannya sebesar 5,87 persen.

Tingkat kemiskinan dan pengangguran terbuka merupakan data strategis yang dinanti oleh pemerintah daerah sebagai bahan evaluasi sekaligus untuk perencanaan program pembangunan. Berdasarkan data dari BPS hasil pendataan Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas), jumlah penduduk miskin di Kota Malang dalam kurun waktu 2018-2019 mengalami penurunan. Tahun 2019 terdapat 35,39 ribu penduduk miskin, turun sebesar 100 orang jika dibandingkan Tahun 2018 yang mencapai 35,49 ribu orang.

Pada periode Tahun 2018–2019 garis kemiskinan Kota Malang meningkat 7,26 persen dari Rp 507.144 perkapita per bulan menjadi Rp 543.966 per kapita per bulan. Garis kemiskinan merupakan harga yang dibayar oleh penduduk untuk mencukupi kebutuhan dasar makanan dan non makanan. Kebutuhan dasar makanan setara dengan 2.100 kkal/kapita/hari dan kebutuhan dasar non-makanan seperti perumahan, sandang, kesehatan, pendidikan, transportasi, dan lainnya. Penduduk dengan pengeluaran di bawah garis kemiskinan dikategorikan sebagai penduduk miskin.

Jika diamati dalam beberapa tahun terakhir, penurunan kemiskinan di Kota Malang semakin melambat. Hal ini mengindikasikan bahwa penduduk miskin di Kota Malang yang ada saat ini masuk kategori kemiskinan kronis/hardcore poverty.

Salah satu ciri kemiskinan kronis adalah rendahnya kapablitas sehingga sulit untuk diberdayakan secara ekonomi. Penanganannya lebih banyak dengan memberikan aneka bantuan sosial untuk memenuhi kebutuhan dasarnya.

Kondisi kemiskinan di Kota Malang tidak sejalan dengan tingkat pengangguran di Kota Malang. Pada Tahun 2019 jumlah pengangguran di Kota Malang sebanyak 27.664 jiwa. Jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya mengalami penurunan sebanyak 3.234 jiwa. Tingginya pengangguran ini dikarenakan lapangan pekerjaan yang tersedia tidak mampu menampung jumlah angkatan kerja yang terus meningkat setiap tahun.

Jumlah angkatan kerja di Kota Malang pada tahun 2019 sebanyak 458.216 orang, atau meningkat 3.367 orang dalam setahun terakhir. Dirinci menurut tingkat pendidikannya, angkatan kerja di Kota Malang terdiri dari 22,28 persen lulusan SD/dibawahnya, 12,43 persen lulusan SMP, 18,90 persen lulusan SMA Umum, 20,75 persen lulusan SMK, 4,10 persen lulusan akademi (D1/D2/D3), dan 21,54 persen lulusan uiversitas/perguruan tinggi.

Dari keterangan di atas, terlihat bahwa lulusan SD, universitas, dan lulusan SMK menduduki peringkat tiga besar sebagai pemasok angkatan kerja di Kota Malang. Apabila disandingkan dengan data pengangguran menurut pendidikan, terlihat bahwa lulusan SMK dan universitas menduduki peringkat dua terbanyak dalam pengangguran di Kota Malang.

Tingkat pengangguran tertinggi terjadi pada lulusan SMA (26,19 persen), universitas/akademi (24,83 persen), SMK (19,48 persen), lulusan SD/ke bawah (18,38 persen), dan lulusan SMP (11,12 persen).

Rendahnya pengangguran penduduk lulusan SD dan SMP disebabkan karena penduduk dengan pendidikan rendah tersebut lebih mudah menerima pekerjaan apapun dibanding yang berpendidikan tinggi, Hampir tidak ada orang yang sangat miskin menganggur, karena kalau sampai mereka menganggur maka mereka pasti juga akan kesulitan untuk bertahan hidup.

Sedangkan untuk penduduk berpendidikan tinggi yang menganggur, tidak semuanya penduduk miskin, akan tetapi sebagian besar dari mereka adalah penduduk yang berada. Dalam keadaan tertentu, meningkatnya angka pengangguran bisa jadi karena peningkatan kesejahteraan.

Hal ini karena penduduk berpendidikan tinggi ini lebih baik menolak pekerjaan daripada harus bekerja namun tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan atau gaji yang diharapkan. Tetapi memang benar bahwa dalam jangka waktu yang lama, semakin bertahannya angka pengangguran yang tinggi akan menurunkan kinerja perekonomian.

Perekonomian Kota Malang saat ini ditopang oleh Sektor Perdagangan dan Industri Pengolahan dengan kontribusi sebesar 29,91 persen dan 25,38 persen. Kedua sektor tersebut menyerap tenaga kerja paling banyak di Kota Malang. Sektor perdagangan menyerap tenaga kerja sebanyak 109.873 orang (25,52 persen) dan sektor industri menyerap tenaga kerja sebanyak 70.298 orang (16,33 persen).

Pada Tahun 2018 pertumbuhan ekonomi Kota Malang sebesar 5,72 persen. Dengan pertumbuhan ekonomi tersebut, mampu menyerap tenaga baru sebanyak 6.601 orang dalam setahun terakhir. Peningkatan tenaga kerja paling banyak pada Sektor Perdagangan Besar dan Eceran, Reparasi Mobil, dan Sepeda Motor sebanyak 15.492 orang diikuti oleh Sektor Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum sebanyak 14.215 orang.

Sektor Industri Pengolahan yang menyerap tenaga kerja paling banyak kedua di Kota Malang mengalami penurunan tenaga kerja sebanyak 8.241 orang bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Padahal pada periode Tahun 2017 ke 2018 sektor Industri Pengolahan masih mampu menyerap tenaga kerja baru sebanyak 3.258 orang.

Penurunan tenaga kerja di Sektor Industri Pengolahan pada tahun ini harus segera diantisipasi, karena bisa berpotensi meningkatkan angka pengangguran di Kota Malang.

Untuk menyerap tenaga kerja terdidik di Kota Malang saat ini, maka harus mendorong pertumbuhan ekonomi pada sektor-sektor yang membutuhkan kualifikasi pendidikan tinggi. Dengan angkatan kerja yang terus meningkat setiap tahun diharapkan mampu terserap selurunya di dunia kerja. Jika hal ini tidak tercapai, maka solusi bagi pengangguran dengan kualifikasi pendidikan tinggi tersebut harus mencari pekerjaan di luar Kota Malang untuk memperoleh pekerjaan yang sesuai dengan harapan. (*/Malangpostonline.com)

Editor : oci
Uploader : slatem
Penulis : ist
Fotografer : ist

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU