Catatan AKhir Tahun

Bener Dulu Baru Pinter

  • 30-12-2019 / 08:59 WIB
  • Kategori:Opini
Bener Dulu Baru Pinter

Oleh: Lailatul Rosida

 

KARAKTER dulu baru pintar...Kalimat ini sederhana tapi begitu sarat makna. Kalimat tersebut saya baca ketika berada di Jombang. Tertulis dalam sebuah baliho iklan sebuah pondok pesantren di kota santri itu.

Karakter adalah kata yang begitu lekat dengan pendidikan kita beberapa tahun terakhir. Sejak pendidikan karakter didengungkan, semua lini pendidikan pun semangat menjalankannya. Ada beragam program di sekolah yang dibuat demi menyukseskan program pendidikan karakter itu.

Ada saja terobosan kreatif yang dilakukan sekolah demi mendukung program penguatan karakter ini. Cukup layak diparesiasi juga, karena tak hanya sekolah dengan label favorit saja yang gencar melaksanakan. Sekolah-sekolah negeri yang pinggiran sampai swasta yang tidak banyak murid juga ikut menyemarakkan.  

Sekolah kini tak lagi hanya mengejar target untuk meluluskan siswa dengan nilai matematika 10, IPA 10, dan lainnya. Tapi juga sekolah memasang target agar siswanya menjadi anak-anak berkarakter. Anak yang punya sifat mandiri, jujur, berjiwa sosial, dan kepribadian unggul lainnya.

Tak heran juga, ketika Mendikbud Nadiem Makarim mewacanakan bahwa Ujian Nasional (UN) hanya sampai 2020 saja. Selanjutnya, pendidikan harus lebih banyak berbicara tentang softskills.

Ditambah lagi, masuk sekolah juga tak harus bersaing dengan nilai. Sistem zonasi membuat sekolah makin terjangkau untuk warga di sekitarnya.

Kota Malang termasuk yang sangat aktif menyukseskan program penguatan karakter yang disingkat PPK ini. Anak-anak di Kota Malang kini terbiasa dengan budaya santun dan karakter yang baik selama di sekolah. Sehingga, pada suatu kesempatan berkunjung ke sekolah negeri, wali kota Malang sempat diingatkan siswa di sekolah tersebut. Hanya karena wali kota masuk ke dalam kelas menggunakan kaki kiri, yang seharusnya sesuai adab adalah mendahulukan kaki kanan.

Kebiasaan-kebiasaan baik itu terus dibangun selama anak berada di sekolah. Yang kemudian diharapkan bisa dilanjutkan ketika mereka pulang ke rumah.

Kasubdit Program dan Perencanaan Evaluasi Ditjen Dikdasmen Kemendikbud, Sri Wahyuningsih ketika menjadi pembicara workshop pendidikan karakter di Kota Malang menegaskan kalau PPK diharapkan bisa menjawab tren bullying yang makin marak. Jika generasi berkarakter terbentuk, bullying akan teratasi.

Generasi berkarakter ini diharapkan juga menjadi jawaban tantangan era Revolusi Industri 4.0. Pada era dimana peran manusia bisa dengan mudah digantikan teknologi. Termasuk peran guru yang dulu menjadi satu-satunya sumber ilmu, kini sudah tidak lagi. Google sudah menggeser peranan dominan guru. Mau bertanya apapun cukup klik.

Teknologi mungkin bisa mengalahkan manusia yang pinter. Tapi, teknologi tak akan bisa menggantikan manusia yang memiliki karakter dan berbudi pekerti.

Teknologi dan kemajuannya boleh saja membuat manusia semakin pinter, tapi harus lebih dulu dibenahi karakternya. Agar modernitas tak lantas membuat hidup makin gelisah. Justru, harus membuat manusia merasakan hidup dalam tentram dan damai.

Jika manusia makin pinter tapi tidak bener, bagaimana negeri ini bisa terbebas dari korupsi yang makin menakutkan. Generasi yang bener itu adalah yang jujur, berani dan hebat. Jadi, Bener dulu, baru pinter... (*)

Editor : oci
Uploader : slatem
Penulis : oci
Fotografer : ist

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU