Bullying, Slapstick dan Rendahnya Selera Komedi

  • 04-02-2020 / 20:20 WIB
  • Kategori:Opini
Bullying, Slapstick dan Rendahnya Selera Komedi

Catatan:

Fino Yudistira, Wartawan Malang Post

 

Humor slapstick, tak akan bisa terpisahkan dari masyarakat Indonesia, dan mungkin juga masyarakat dunia. Kekerasan fisik dan menertawakan penderitaan orang lain, sudah mewarnai layar kaca, dengan tajuk hiburan dan komedi. Bahkan, Jepang masih mengusung humor slapstick sebagai hiburan andalan di berbagai televisi nasional, yang terkenal dengan duet Downtown, Hamada Masatoshi-Matsumoto Hitoshi.

Karena, humor slapstick itu receh, ringan, dan tak perlu berpikir dalam-dalam demi mendapatkan efek lucu. Tidak salah, tapi juga tidak sepenuhnya etis, karena menertawakan orang yang kesakitan. Humor slapstick seperti ini terjadi di panggung sandiwara, di layar kaca. Tapi, kasus terbaru di Kota Malang, menunjukkan sebaliknya.

Kasus perundungan siswa SMPN 16 Malang oleh tujuh temannya memasuki babak baru. Kepolisian sudah menetapkan status tersangka untuk para siswa tersebut. Mereka dijerat dengan pasal UU Perlindungan Anak. Lho, dari topik slapstick kok bergeser ke kasus perundungan siswa SMPN 16 Malang?

Jangan terburu membuat kesimpulan. Karena, jauh sebelum Polresta Makota menetapkan kasus ini sebagai kasus kriminalitas terhadap anak, klaim yang bermunculan di media dari pihak penyelenggara sekolah maupun dinas, menyebut bahwa tujuh anak itu mengaku hanya bercanda dengan MS, korban.

Coba disimak, seperti ada kemiripan antara humor slapstick dengan apa yang dialami oleh MS. Para siswa pelaku, menganggap bahwa apa yang mereka lakukan adalah candaan. Objek candaannya, atau lebih tepat objek penderitanya, adalah MS. Bukan hal yang salah, bila ada candaan slapstick di dunia remaja.

Sejak institusi pendidikan ada, akan selalu ada siswa nakal di kelas, yang suka mengusili temannya. Tapi, siapa teman akrab yang tidak tertawa terbahak-bahak, melihat ada teman dekatnya, secara tidak sengaja tercebur ke selokan? Teman dekat mana yang tidak tertawa, melihat temannya terpeleset dan jatuh secara tidak sengaja, dan menjadi bahan candaan sepanjang hari?

Budaya slapstick, menertawakan penderitaan orang lain, seperti sudah mengakar dalam hubungan sosial. Pukulan, perusakan properti, dan tindakan fisik lainnya sudah sering ditampilkan dan seakan menjadi cara bercanda yang wajar. Memang, tidak ada yang bisa menentukan, apakah selera komedi remaja ada kaitannya dengan komedi-komedi slapstick.

Bagi komunitas stand up comedian, Majelis Lucu Indonesia, humor slapstick mungkin bakal dilabeli komedi ‘sampah’. Humor slapstick, juga mungkin jauh lebih ringan bagi otak, mudah diterima walaupun getir bagi objek penderita. Ketimbang dark jokes, yang berupaya menembus batas kelucuan.

Serta, memancing urat lucu di batas abu-abu kritik terhadap fenomena sosial, humor slapstick lebih nikmat ditonton tanpa perlu menguras pikiran lagi. Tapi, kembali lagi, sejauh apa keakraban antara tujuh orang remaja SMP itu dengan korban? Apakah level kedekatannya begitu dalam, sehingga humor slapstick antar mereka adalah hal yang biasa?

Ataukah, sejak awal tidak ada keakraban antara tujuh remaja itu dengan korban? Bahwa bercanda yang mereka utarakan kepada pihak sekolah maupun Dindik Kota Malang, adalah persepsi mereka tentang bercanda level rendah. Yaitu, senang melihat penderitaan dan kesakitan orang lain, dengan objek penderita kali ini adalah MS, yang akhirnya terpaksa amputasi jari?

Tidak mengherankan, bila para remaja yang melakukan penganiayaan terhadap MS, akhirnya mungkin merasa dan menganggap apa yang mereka lakukan, hanyalah ‘bercanda’, guyon.

Karena, mungkin bagi mereka, MS sebagai objek bercandaan, sangat cocok ditarget sebagai bahan candaan. Sebagai perundung di kelas atau sekolah, melihat temannya menderita, dari hasil keusilan mungkin memberi kepuasan tersendiri bagi mereka. Mungkin, wajah MS saat menderita dan kesakitan, adalah hiburan yang membuat urat lucu 7 remaja itu tergelitik.

Tujuh remaja ini tidak merasa, bahwa apa yang mereka anggap bercanda, adalah kesakitan yang nyata, bukan kesakitan yang dibuat-buat seperti panggung humor slapstick yang memang direkayasa dan akting semata.(fino yudistira)

Editor : fin
Uploader : slatem
Penulis : fin
Fotografer : fin

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU