Guru Inspiratif Lecut Motivasi Siswa

  • 27-02-2020 / 23:24 WIB
  • Kategori:Opini
Guru Inspiratif Lecut Motivasi Siswa

Oleh: Indah Dwi Wahyuni

Guru SMKN 1 Kota Batu, Peserta Workshop Guru Menulis Malang Post Batch 2

 

Dalam beberapa kesempatan, guru-guru di sekolah non-favorit sering rasan-rasan. Mereka mengeluhkan motivasi siswa saat ini yang cenderung menurun. Di jam efektif pembelajaran, ditemui siswa yang kerap terlambat, ada yang tidak mau mengerjakan tugas, baik itu di dalam maupun di luar kelas. Bahkan ditemui juga siswa yang tertidur di dalam kelas ketika pembelajaran sedang berlangsung. Anehnya siswa-siswa tersebut tampak tidak merasa sungkan ataupun terbebani dengan ulah yang membuat para guru pusing tujuh keliling.

Hal tersebut akhirnya berdampak terhadap hasil prestasi belajar siswa. Salah satu indikatornya adalah, banyak siswa memperoleh nilai di bawah standar ketuntasan minimal yang ditetapkan oleh sekolah.  Dari hasil diskusi dengan beberapa teman guru, faktor internal dan eksternal  sangat erat mempengaruhi naik turunnya motivasi siswa.

Faktor internal dipengaruhi oleh antara lain: pertama, efek psikologis dari kebijakan sekolah gratis di sekolah tertentu di Malang raya. Dengan status gratis, siswa kurang memiliki greget untuk berprestasi. Mental berkompetisi menurun karena siswa berasumsi bahwa dengan prestasi yang biasa-biasa saja, toh mereka tidak membebani orang tua. Mengingat bukan orang tua mereka yang mengeluarkan biaya untuk sekolah. 

Kedua, Kondisi ekonomi keluarga sangat berpengaruh. Banyak siswa yang berasal dari keluarga middle low tak jarang membawa masalah mereka dari rumah ke sekolah. Tuntutan kebutuhan ekonomi orang tua memaksa orang tua bekerja keras hingga jarang berinteraksi dengan putra-putrinya. Jangankan masalah sekolah, masalah kecil tentang kehidupan putra-putrinya pun jarang terkomunikasikan dengan baik. Sebagai akibatnya, anak minder dan cenderung tidak terlalu serius bersekolah. Bagi anak-anak tersebut, sekolah tak lebih dari menjalankan sebuah kewajiban saja. Perkara hasilnya, mereka tidak terlalu peduli.

Masih tentang keluarga, kondisi ekonomi yang lemah cenderung memunculkan ketidak harmonisan kehidupan rumah tangga. Banyak orang tua bertengkar gara-gara masalah ekonomi. Bahkan, banyak juga yang bercerai, sehingga anak-anak tersebut harus hidup dalam beban psikologis yang tidak ringan. Seringkali sekolah dianggap sebagai tempat pelarian untuk menumpahkan masalah yang mereka temui di rumah. Hal ini tentu saja berujung pada motivasi siswa dalam pembelajaran di sekolah.

Ketiga, gadget addiction. Semakin mudahnya akses internet dan aplikasi-aplikasi pembelajaran, membuat siswa semkin “malas.” Mereka bisa belajar materi yang diajarkan oleh guru dengan sangat mudah di internet. Peran guru sedikit banyak diabaikan karena hal ini, karena untuk pelajaran tertentu siswa berasumsi mampu mempelajari materi tanpa kehadiran guru di dalam kelas.

Faktor eksternal yang pertama adalah fasilitas sekolah yang kurang memadai. Di sekolah-sekolah dengan lahan terbatas, sering dijumpai fasilitas dasar seperti ruang yang kurang memenuhi standar. Jumlah ruang belajar yang tidak sebanding dengan jumlah rombongan belajar misalnya, membuat satu ruang terpaksa disekat menjadi beberapa ruang belajar. Ada pula yang terpaksa melakukan moving class untuk menyiasati kekurangan ruang. Hal ini tentu saja tidak nyaman dan kurang efektif untuk proses pembelajaran.

Kedua, penghapusan Ujian Nasional sebagai penentu kelulusan. Sejak Ujian Nasional bukan lagi menjadi penentu kelulusan siswa, banyak siswa menggampangkan materi pembelajaran. Banyak siswa berpikir bahwa untuk lulus mereka hanya perlu berpartisipasi dalam ujian. Dampaknya, semangat juang siswa menurun. Banyak siswa bersantai-santai dan tidak melakukan persiapan khusus menjelang ujian. Bahkan, ketika ujian berlangsung pun, siswa-siswa tersebut menyelesaikan ujian lebih cepat dari waktu yang disediakan. Mereka enggan mengoreksi kembali jawaban mereka meskipun waktu selesai ujian masih cukup lama. Dalam benak mereka, asalkan ikut ujian, pasti lulus. 

Ketiga, metode pengajaran guru yang monoton. Dari berbagai keluhan yang disampaikan siswa, banyak siswa kurang termotivasi dalam pelajaran tertentu. Salah satunya adalah dikarenakan metode mengajar guru yang sejenis. Masih banyak guru yang memakai metode ceramah dalam mengajar. Hal itu memantik kebosanan siswa. Mereka harus duduk di kelas berjam-jam menerima materi yang berbeda dengan metode yang sejenis setiap hari. Hal ini secara tidak langsung menurunkan semangat mereka dalam belajar.

Dari faktor-faktor tersebut, penulis mencoba menggali dan mencari solusi. Jika difahami, semua faktor baik internal maupun eksternal bisa diselesaikan dengan satu hal, yaitu peran guru. Seorang guru seyogyanya berperan aktif sebagai garda pertama untuk mengatasi menurunnya motivasi siswa. Mengapa? Karena dialah orang yang menghabiskan total waktu paling banyak untuk berinteraksi bersama siswa selama satu hari.

Menurut hemat penulis, salah satu cara nyata dan terbukti efektif adalah dengan menjadikan guru tersebut inspirasi bagi siswa-siswanya. Banyak hal yang bisa dilakukan guru. Masing-masing guru sebagai seorang individu dengan segala kelebihan dan kekurangannya, pasti mampu menorehkan prestasi dan menjadi inspirasi dalam bentuk apapun. Prestasi tersebut bisa berupa pencapaian dalam kompetisi apapun. Entah itu menjuarai lomba guru berprestasi, lomba olimpiade guru, dan sebagainya.

Sebagai contoh pengalaman penulis. Tahun 2011-2012 penulis berkesempatan meraih beasiswa CCIP, untuk belajar satu tahun penuh di Amerika Serikat. Sebagai seseorang yang berasal dari keluarga menengah secara ekonomi, hanya berbekal ketekunan, kemampuan berbahasa asing, serta kekuatan doa akhirnya berhasil memenangkan kompetisi meraih beasiswa bersaing dengan ribuan pelamar dari seluruh Indonesia. Kesempatan itu seakan mematahkan bahwa hambatan-hambatan internal dan eksternal di atas mampu menurunkan motivasi siswa.

Segala proses baik itu sebelum, selama, dan setelah menjalani beasiswa adalah contoh hal-hal nyata yang bisa diceritakan dan dicontohkan untuk memotivasi siswa. Prestasi ini tentu saja menginspirasi hampir setiap siswa di kelas penulis. Dari hal tersebut lambat laun penulis mengamati bahwa banyak siswa mempunyai mimpi untuk bisa setidaknya meraih apa yang diraih penulis. Dampaknya, mereka semakin serius untuk belajar bahasa asing, mata pelajaran yang kebetulan diampu oleh penulis. Bahkan, dari evaluasi penulis, beberapa anak meraih peningkatan belajar signifikan karena mereka bercita-cita ingin meraih seperti yang di alami penulis.

Dari contoh di atas, penulis sinmpulkan bahwa memotivasi siswa sebenarnya bisa dimulai dari guru itu sendiri. Guru harus mulai merubah diri menjadi lebih baik, entah itu dalam sikap, metode mengajar, serta dalam prestasi. Sudah saatnya guru tidak hanya memberi punishment ataupun memberi ceramah panjang lebar terhadap siswa yang tidak sesuai harapan guru.

Guru ibarat nahkoda dalam pelayaran. Secanggih apapun teknologi pada sebuah kapal, tetap diperlukan seorang nahkoda. Karena nahkoda memiliki tombol rahasia untuk membuat laju kapal sampai ke tujuan. Sehingga semaju apapun zaman, kehadiran guru tetap diperlukan di kelas. Karena dialah yang akan menjalankan kemudi kapal untuk membawa arah masa depan anak bangsa ke impian yang dituju. Jadi, mulai saat ini, marilah  menjadi guru yang menginspirasi untuk melecut motivasi siswa.(*)

Editor : ist
Uploader : slatem
Penulis : ist
Fotografer : ist

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU