Belajar dan Ujian di Rumah Imbas Corona, Biasakan dan Stop Mengeluh!

  • 24-03-2020 / 15:31 WIB
  • Kategori:Opini
Belajar dan Ujian di Rumah Imbas Corona, Biasakan dan Stop Mengeluh!

Oleh: Khoirul Amin

Wartawan Malangpostonline.com

 

FENOMENA tak biasa muncul selama jaga jarak akibat mewabahnya pageblug corona (Covid 19). Sebagian masyarakat masih terkaget-kaget menjalani bekerja dan belajar di rumah.

Paling anyar, hasil rapat konsultasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) pada 24 Maret 2020 kemarin, memutuskan Ujian Nasional (UN) bagi SMP/MTs dan SMA/MA/SMK bakal dihapus.

Kebijakan penghapusan UN ini tetap berkonsekuensi dilakukannya penilaian akhir pengganti oleh pihak sekolah (USBN). Yakni, bagi sekolah yang memungkinkan menggelar USBN secara online dalam jaringan (daring). Jika tidak, sekolah cukup mengumpulkan nilai kumulatif yang sudah didapatkan siswa sejak kelas 1 (SD), kelas 7 (SMP) atau kelas 10 (SMA/SMK).

Yang terjadi, selama masa sekolah diliburkan pemerintah mengantisipasi penyebaran virus corona, tidak sedikit masyarakat yang terkaget-kaget, saat harus mendampingi anaknya belajar di rumah. Sebagian, bahkan merasa terbebani dan mengeluh, mungkin karena tak biasa sebelumnya dengan memanfaatkan perangkat digital untuk pembelajaran jarak jauh.

Terkaget-kaget ini setidaknya muncul dalam perbincangan informal, atau latah dimunculkan dalam status dan postingan di media soal yang dipunyai. Jika belajar dan penugasan biasa saja sudah membuat stres, bagaimana jika benar-benar saat ujian akhir yang sudah dibatasi waktunya? Perlu lebih bijak dan pengkondisian terkait hal ini!

Di sisi lain, skema dan pola pendampingan belajar dalam jaringan oleh guru juga masih perlu dimaksimalkan. Belum semua guru sepenuhnya siap memastikan dan memaksimalkan waktu belajar di rumah anak didiknya. Bisa jadi, belajar online juga masih belum menjadi hal yang biasa dilakukan.

Kebijakan dan imbauan resmi pemerintah memang ada, membatasi tatap muka dan jaga jarak untuk mencegah potensi penularan corona. Akan tetapi, kebijakan ini mestinya tidak serta merta dibiarkan begitu saja. Masih perlu pembiasaan ketat agar bekerja ataupun belajar benar-benar dilakukan di rumah.

Meminta belajar di rumah, mestinya bukan tugas wali kelas seorang dan melalui penugasan saja. Memberi balikan atau pembahasan, sehingga siswa tetap terkontrol belajar perlu dilakukan semua pihak. Misalnya, mengatur waktu penugasan secara bergiliran, memastikan anak mau belajar sewaktu-waktu.

Selebihnya, bisa memberlakukan jam belajar di rumah, dan menyisir tempat-tempat yang mungkin disinggahi pelajar saat jam belajar ini. Ini bisa dilakukan, melibatkan kerja sama berbagai pihak, termasuk aparat terkait.

Pengalaman salah seorang guru SMPN di Kepanjen berinisial DNR, cukup mencerminkan bagaimana belajar di rumah bisa dimaksimalkan. Hampir tiap sore, dilakukannya bimbingan belajar online yang disebutnya 'Sobim'. Cukup satu soal bahasa Indonesia memanfaatkan status story aplikasi messanger dari perangkat androidnya.

Selama beberapa jam, di sela kesibukan dan waktu rehatnya di rumah, DNR memantau belajar anak didiknya melalui gadgetnya. Kerap kali, menuliskan pembahasan soal dan 'bumbu' motivasi dan apresiasi jawab anak dilakukannya. Butuh ketelatenan memang, karena bisa jadi harus menjelaskan materi melalui chatt kepada tiap nomor anak didiknya.

Selain Sobim yang sudah diberlakukan sebulan terakhir, penugasan praktik berpidato atau puisi bisa dilakukannya. Caranya, siswa harus memvideo langsung tugas praktik yang dilakukannya. [*]

Editor : amn
Uploader : slatem
Penulis : amn
Fotografer : amn

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU