Pembatasan Sosial Berskala Besar, Dilema bagi Petani dan Warga Pedesaan

  • 01-04-2020 / 10:58 WIB
  • Kategori:Opini
Pembatasan Sosial Berskala Besar, Dilema bagi Petani dan Warga Pedesaan

Oleh: Eko Handoko Hasian

 

Praktisi pertanian. Kini mahasiswa pascasarjana pertanian Universitas Brawijaya Malang.

 

Pada Selasa, 31 Maret 2020, Presiden RI Joko Widodo resmi mengumumkan status pembatasan sosial skala besar (PSBB) dan darurat kesehatan bagi seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Fokus pemerintah adalah, bagaimana bisa menyelamatkan bangsa Indonesia dari pandemi virus corona yang persebarannya semakin hari terus tinggi.

Segala daya dan upaya dikerahkan pemerintah untuk mengatasi masalah kesehatan dan dampak ekonomi yang timbul akibat pandemi corona tersebut. Tidak hanya Indonesia, hampir seluruh dunia pun menghadapi masalah yang sama.

Kita sangat prihatin, bahwa pandemi virus corona ini adalah masalah hidup dan mati. Akan tetapi, kebutuhan dasar pangan seharusnya juga menjadi fokus kebijakan pemerintah atas kondisi PSBB ini. Apabila sektor pertanian mengalami penurunan aktivitas, maka produksi dan hasilnya pun akan turun.

Terlebih, di tengah situasi internasional yang relatif sama, bagaimana pemerintah menjamin ketahanan pangan ketika negara-negara langganan kita impor juga produksinya relatif turun.

Pertanian sebagian besar berada di wilayah pedesaan, dan bisa dilihat bagaimana wajah desa dan petani menghadapi masalah akibat kebijakan ini. Interaksi sosial di desa jauh lebih ekslusif dibandingkan kota, intensitas guyub, gotong royong dan musyawarah juga budaya pertanian yang melekat di desa. Nah, dari kacamata petani kebijakan PSBB ini adalah sesuatu yang sangat ekstrim (berlebihan).

Silahkan datang ke satu desa, dimana setiap orang kenal dengan seluruh penduduk desanya, bahkan masih banyak yang bersaudara atau berkerabat. Ini menunjukkan, bahwa desa memiliki intensitas silaturahmi yang tentunya sangat tinggi.

Bagaimana pembatasan sosial atau social distancing ini dilakukan, sementara pertanian tetap membutuhkan gotong royong dan rapat desa. Kegiatan rapat kelompok tani kerap dilakukan untuk saling membantu dalam proses menanam, memelihara sampai memanen.

Bagaimana menghimbau petani untuk memakai masker, sementara sandal atau sepatu, bahkan pakaian pun kadang tidak dipakai. Bagaimana bisa menyembuhkan ketika fasilitas kesehatan di desa juga masih sangat minim. Ironisnya, akibat kesulitan ekonomi di perkotaan arus mudik pun bertambah cepat dari hari ke hari. Peluang penyebaran pandemi virus corona di desa pun akan semakin tinggi akibat aksi mudik ini.

Sebagai masukan, pemerintah seyogyanya segera membuat formulasi khusus untuk sektor pertanian ini. Karena tanpa makanan manusia pasti mati, bahkan lebih mematikan dari pandemi virus corona.

Petani sebagai ujung tombak produsen pangan harus difasilitasi dan dijaga agar produksi pertanian tidak mengalami penurunan produktivitas pasca pandemi virus corona ini.Terpenting, sektor permodalan dan sarana produksi pertanian serta kesehatan petani adalah faktor penting untuk menjadi perhatian pemerintah.

Sektor permodalan selain dari Kredit Usaha Rakyat (KUR) juga sebaiknya disiapkan pada bantuan langsung bibit, pupuk maupun bantuan langsung tunai, agar petani siap untuk bekerja maksimal. Sektor kesehatan desa juga seyogyanya disiapkan dengan peralatan yang lebih lengkap juga ketersediaan tenaga medis dan peralatan kesehatan di puskesmas atau klinik kesehatan desa.

Dan yang terpenting, adalah akses pemasaran produk pertanian juga terintegrasi dengan industri pengolahan dan distribusi yang menggunakan transportasi. Semua bagian dari mata rantai agribisnis harus tetap terjaga ekosistem yang kondusif.

Budaya pertanian yang melekat guyub dan rapat desa ataupun kegiatan warga desa yang melibatkan banyak orang juga penting untuk dijaga. Hanya akses masuk orang dari luar desa, yang sebaiknya dijaga ketat sehingga penyebaran virus dapat dihindari.

Sebagai bangsa yang besar kita bersama-sama berdoa dan optimis serta tangguh dalam menghadapi situasi saat ini. Semoga pemerintah mampu menjamin ketersediaan pangan bagi seluruh rakyat Indonesia sampai bencana pandemi virus corona ini berakhir. [*]

 

 

 

PENTING! Baca Ini:

https://m.malangpostonline.com/bisnis/lowongan-kerja

https://m.malangpostonline.com/bisnis/iklan-baris

https://m.malangpostonline.com/bisnis/iklan-properti

 

Editor : amn
Uploader : rois
Penulis : MP
Fotografer : MP

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU