Ping Pong Corona (bagian 1)

PARADE; BUPATI SAKTI

  • 17-05-2020 / 16:40 WIB
  • Kategori:Opini
PARADE; BUPATI SAKTI

Oleh: IMAWAN MASHURI*

Founder JTV/Arema Media Group; Malang Post, Radio City Guide 911 FM,

Arema TV, Malang Post Online.

 

WELCOME PSBB  Malang Raya; 17 Mei. Come in. Come out. Well. Selamat datang Perlawanan. Perlawanan pada “kompetisi ping pong”. Ping pong? Bukan sembarang ping pong. Yang ini bolanya tak tampak. Tapi 213 negara merasakan serangannya; klenger. Bola itu musuhnya. Mainnya buta. Juga brutal. Melawannya hanya dengan “meninggikan net”. Setinggi-tingginya. Dinamai lock down. Untuk disiplin pada protokol; “cara hidup baru”. Di kita bernama PSBB; Pembatasan Sosial Berskala Besar. Besar sekali. Terutama biayanya; Rp. 405 Triliun. Juga korbannya. keruwetannya. Amburadulnya. Dan efek pilu ekonominya. Tapi bola masih menerobos.

Net ditinggikan di satu wilayah. Tapi juga direndahkan di lain wilayah. Timur tinggi. Mulai.  Barat kendur. Relaksasi. Utara naik. Selatan turun. Yang naik; takut oleh brutalnya paparan. Yang turun;  takut ambruknya perekonomian. Yang naik, bersemangat; semangat sehat, juga semangat anggaran. Semangat terobos celah; catat saja.  Kroni sendiri. Terserah. Bayar. Darurat kok. Demi kesehatan. Ada imunitas perlindungan hukumnya. Aman. Jual-beli surat keterangan sehat pun terjadi. Secara online. Rp. 200 ribu/surat.

Yang turun; demi ekonomi. Penerbangan; buka. Angkutan umum; buka. Gerai, kedai dan apa saja yang mugkin; buka. Lalu…para medis demo, di  Jakarta, Minggu 17 Mei pagi. Mengacungkan banyak poster. Bertuliskan: #INDONESIA TERSERAH# ditudingkan ke Bandara Soekarno Hatta. Yang sedang menggelar ledakan penumpang. Begitulah. Naik. Turun. Mata ke kiri, mata ke kanan. Mengikuti gerak. Berdebar. Takut. Ngeri. Ngawur. Ping… Pong… Ping pong.

“Mata indah bola ping pong. Masihkah kau kosong?”....

Bola kembali ke Wuhan. Episentrum pertama pandemi covid-19 itu, kembali terpapar. Harian South China Morning Post melaporkan, belasan kasus baru terjadi. Justru setelah merasa aman. Setelah  lock down yang berdurasi dua setengah bulan itu dicabut 8 April lalu. Kantor berita Reuters dari AFP melansir; sebanyak 3 sampai 10 persen pasien sembuh dan boleh pulang, bisa terjangkit kembali.  Dilakukan tes asam nukleat. Bukan sekadar rapid test. Hasilnya; banyak yang positip lagi. Komisi Nasional Kesehatan Tiongkok mengatakan, 14 kasus baru terjadi. Awal Mei. Pong…..

Pemerintah Wuhan cemas. Bukan pada jumlahnya, tapi pada penyebaran yang, penyebarnya tidak mengetahui alias tanpa gejala; asimtomatik. Mampu menulari. Maka semua warga harus dites. “Sampai Sabtu sore, tanggal 16 Mei, diklaim sudah tiga juta warga Wuhan yang dites asam nukleat. Akan terus dilakukan dalam kurun 10 hari ini, untuk menjangkau sebelas juta penduduknya,’’ demikian Robin Brant, koresponden BBC London di China, melaporkan.

Wuhan, dulu, Desember 2019, pada episode awal, setelah terjangkit virus  –waktu itu disebut; 2019-nCoV— kelabakan karena menyebarnya eksponensial. Brutal. Akibatnya, delapan puluh empat ribu orang lebih terjangkit. Menyebar di China darataan. Dunia mencatat, lebih dari empat ribu orang meninggal. Di  sana juga kita disaksikan; upaya sistematis, sampai tindakan lock down total. Dua bulan. Covid-19 kemudian bisa ditekan. Sampai titik terendah. Bahkan zero kasus. Ping……..bola lepas. Itulah awalnya. Dan seperti domino, negara-negara lain terjangkit; kedodoran. Amerika, Italia, Spanyol, Inggris, Perancis, Jerman, Rusia, Turki, Brazil, Iran, terus… 213 negara; klenger.

Warga dunia yang terinfeski, per 16 Mei, tercatat oleh Woldometers sebanyak 4.617.176 orang. Meninggal 307.988 korban. Jerit tangis tak terperi. Puluhan truk dijajar di Amerika untuk menampung para jenazah karena pekuburan belum bisa langsung menerima. Pasien terus antre di rumah-rumah sakit. Tidak tertampung. Luber. Mengerang. Bukan cuma di Amerika. Ratusan negara itu, menderita serupa. Semua menengok ke Wuhan. Terutama cara penanganannya. Ditiru. Dikombinasi dengan cara, aturan dan budayanya masing-masing. Itulah kemudian pergelaran akbar dunia tentang covid-19 kita saksikan. Plus parade cara pimpinan-pemimpin menangani persoalan. Terdapat sekuel tiga negara tanpa korban meninggal. Yaitu Vietnam, Laos dan Timor Leste.

Indonesia berada pada urutan 23 yang klenger; terinfeksi 17.025 dan meninggal 1.089 per 16 Mei 2020. Bersama negara-negara lain, berjajar --seperti parade-- kita menyaksikan, bagaimana para pemimpin mengambil tindakan “darurat” demi keselamatan warga di negaranya. Kita jadi mengerti langkahnya. Bagaimana Presiden Donald John Trump di negeri cowboy itu berbuat, sampai Presiden Iran Hassan Rouhani, bertindak. Begitupun gaduhnya negeri ini. Kepentingan politik ikut bertingkah di tengah warga butuh selamat. Daerah bisa versus pusat. Disebut mencemburui elektoral yang bisa menguat.

James Masola pun menulis artikel pada media Sydney Morning Herald;  Gubernur Anies Baswedan mirip Gubernur New York Andrew Cuomo.  Keduanya disebut, sudah lebih awal; Januari 2020, bertindak memantau, melacak dan mengatur untuk menghalau covid-19 dari wilayahnya. Tapi keduanya dianggap bertentangan dengan sikap pusat. Lalu, hari demi hari  korban berjatuhan. Terus. Maut seperti menyembur.

Kita bisa mencatat, kerapian dan terstrukturnya tindakan  pemimpin, seperti Gubernur Anies dan Gubernur Ridwan Kamil. Juga cekatannya Gubernur Khofifah. Wilayah ketiganya memang paling terancam karena besarnya jumlah penduduk dan mobilitas masyarakatnya; DKI Jakarta, Jabar dan Jatim.  Ada pula penampilan Bupati Sehan Salim Landjar yang marah kepada  menteri, karena mengombang-ambingkan warganya di Boltim (Bolaang Mongondow Timur); warga lapar kok  diberi rumit, bukan nasi. Bupati Sehan memberi beras. Dengan caranya sendiri.

Adegan berikut, menyusul; Bupati Lumajang Thoriqul Haq. Dia tampil viral mengajari Bupati Sehan. Mengajari bupati berjuluk Eyang di antero Boltim itu untuk sopan santun bicara kepada menteri. Mengajari mekanisme pemerintahan dan mengajari sabar. Ajaran itu dijawab keras oleh Bupati Sehan. Viral. Sehan  yang hanya tinggal 8 bulan lagi memimpin  --setelah dua periode menjabat— dibela warganet. Adapun Bupati Thoriqul yang belum genap dua tahun menjabat untuk periode awal, banyak dihujat. Endingnya, clear pada live Indonesia Lawyers Club, 12 Mei.

BUPATI SAKTI

Tak kalah seru, penampilan Bupati Malang HM Sanusi. Ketika Jakarta dan sejumlah daerah terjangkit sedang kerja keras menangani dampak, dia mengumpulkan pawang hujan. Pawang-pawang itu diminta menghalau awan, supaya cuaca kabupaten panas dan virus lenyap. “Itu caranya,” Sanusi senyum. Di lain waktu, tampil lagi, dengan adegan; sesumbar kesaktian. Dia akan ajari warganya suatu rapalan kebal virus. Sumbaran itu ditanggapi warganet dengan stiker. Maka jadilah gambar diri Bupati Sanusi sebagai stiker WhatsApp; foto wajahnya berkopyah, tangan mengepal, bertuliskan; SAYA KEBAL Maka saya santai.

Netizen masih membuat lagi, kali ini kartun dialog; bergambar seolah Sanusi pesan; ..”awakmu2 kabeh ojo bandel2 yo…mulai sabtu sesuk, melok aturan PSBB. Lek melanggar tak dungakno kennek virus covid-19…!!! Terus iki duwik 50 ewu gawe tuku dawet.” Gambar pesan itu ada jawabnya, dalam satu frame gambar, seolah komentar warga ; ….”wes didungani elek…terus mek dikek’i 50 ewu. Kebacut”…

Episode lain, masih  dalam kurun pandemi, Sanusi pergi ke Lawang, kecamatan paling utara yang dipimpinnya. Ketika itu Gubernur Khofifah baru saja menyeru agar para kepala daerah di bawahnya, mengutamakan bantuan kepada rakyat miskin terdampak. Di Lawang, bertempat di kompleks kantor kecamatan, dibuat dapur umum sekali pakai. Sepuluh Kades plus dua Lurah dalam wilayah kecamatan itu, diundang. Tanpa kata-kata, Sanusi kemudian pulang, setelah Kades dan Lurah, masing-masing  menerima 50 bungkus nasi dan sekadar lauk. “Sudah, ya itu kalau disebut bantuan dari Pak Bupati selama musibah ini,” ujar seorang aparat di kecamatan. Dibenarkan yang lain.

Sampai tadi malam, mereka mengaku belum satu pun  bantuan yang turun. Kecuali swadaya dan kepedulian warga. Berton-ton beras dan sembako telah dibagikan. Kepada lebih dari seribu buruh harian yang kini pengangguran. Di kecamatan ini banyak warga miskin baru. Tak sedikit adegan seperti berikut ini kita saksikan di kelurahan; seorang ibu atau bapak, membawa anaknya, masuk ke kelurahan, minta tidur di kelurahan saja karena sewa petak gubuk dan makannya tak bisa lagi dipenuhi sendiri. Untung Lurah Lawang sigap. Bersama warga bentukannya, hari demi hari, penderitaan baru warganya, diatasi. Gotong royong. “Terimakasih kami untuk semua warga yang telah berkenan membantu. Kemarin DPD-RI juga kirim bantuan. Ada warga kami yang jadi anggota DPD, datang, antar bantuan,” kata Lurah Lawang, Murtadji di pendopo kelurahan yang kini dijadikan Posko.  (bersambung)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Editor : Imawan Mashuri
Uploader : slatem
Penulis : Imawan
Fotografer : Imawan

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU