Ping Pong Corona (bagian 2 habis)

DANCES WITH COVID-19

  • 18-05-2020 / 20:24 WIB
  • Kategori:Opini
DANCES WITH COVID-19

Oleh: IMAWAN MASHURI*

*Founder JTV dan Arema Media Group: Malang Post, City Guide 911 FM, Arema TV

 

BOLA itu benar benar-benar ada di tangan “bola”. Berkuasa penuh. Walaupun net sudah ditinggikan. Setinggi-tingginya. Tetap saja leluasa menerobos. Lolos. Balik menembus Wuhan. Ping……dulu lepas dari Wuhan. Berkelana 5 bulan. Beranakpinak di  213 negara. Pong……kini kembali ke Wuhan. Keberadaannya kali ini ditakuti sebagai serangan gelombang kedua infeksi covid-19. Di dan dari China lagi. Signalnya jelas, selain terjangkitinya sejumlah warga di ibukota provinsi Hubei itu (lihat edisi kemarin), banyak newcomers di klaster baru. Di anraranya di kota Jilin, provinsi Shulan, jaraknya 2,2 ribu km dari Wuhan. Di situ, 125 orang terjangkit. Dua di antaranya meninggal. Kota dengan 600 ribu penduduk itu, kini; dikarantina. Total.

Karantina, lock down, PSBB dan sejenisnya, rasanya, memang masih merupakan pilihan tindakan untuk memutus rantai penyebaran. Tapi efektifkah? Apakah hanya harus seperti itu? Kurang apa lock down di Wuhan? Apalagi sekadar PSBB kita. Pembatasan Sosial Berskala Besar kita, diperpanjang berapa kali pun --di DKI misalnya, juga di Bandung-- virus masih lebih pintar menyusup. Apalagi kalau lantas PSBB kehilangan kesungguhannya; hanya akan sekadar menjadikan formalitas untuk suatu ketetapan. Sekadar mereguk anggaran.

Anggaran berapa lagi yang harus dipersiapkan? Waktu berapa lama lagi yang harus disediakan? Lima bulan sudah virus ini menghajar dunia. Belum ada tanda-tanda penyelesaian. Amerika yang digdaya dengan farmasinya, masih menguji vaksinnya pada fase dua. China juga sedang menyelesaikan tiga vaksin yang diujinya. “Belum jelas, sampai kapan,” kata Zhong Nanshan,  Pahlawan perang melawan SARS 2003 yang kini terjun lagi memimpin perlawanan terhadap covid-19 di negeri Tirai Bambu itu. South China Morning Post, pekan lalu mengutip wawancaranya.

Zhong adalah ahli terhadap  sindrom pernafasan akut. Berhasil menaklukkan SARS. Tapi untuk Covid-19 –meski China mati-matian menguji vaksin barunya, tiga perusahaan Amerika juga sedang getol menuntaskan vaksinnya— perlu menegaskan pesannya; perkuat ketahanan diri dengan asupan, vitamin dan olah raga. Jangan rentan. Itu artinya, hidup sehat harus dijalani dengan disiplin ketat.

 Pesan yang sama disampaikan Dr. Kidong Park, perwakilan Vietnam di WHO. Pernyataannya dikutip Al-Jazeera TV ketika  mengurai keberhaslan Vietnam menangani warganya yang terjangkit Covid-19.  Keberhasilan itu buah usaha pemerintah yang proaktif dan konsisten memperhatikan status gizi rakyatnya. Tidak satu pun korban menginggal dunia. Bahkan pasien positip berusian 73 tahun dilaporkan sembuh.

Di Vietnam, dokter mengobati gejala pasien dengan mewajibkan diet ketat bergizi. Tingkat saturasi oksigen dalam darah pasien selalu dimonitor (fraksi hemoglobin saturasi oksigen terhadap total hemoglobin dalam darah). Tingkat saturasi oksigen darah arteri normal pada manusia adalah 95-100 persen. Sejalan dengan hasil penelitian Harvard Medical School bahwa imun bekerja dalam satu sistem, dalam keseimbangan tubuh yang terbentuk secara terus menerus.

Guru Besar Universitas Brawijaya, Prof Sutiman Bambang Sumitro pun mengatakan, Indonesia sangat memungkinkan menerapkan itu. Apalagi ditunjang dengan iklam tropis yang menguntungkan. Sinar UV yang berlimpah harus dimanfaatkan. Saya wawancarai di rumahnya bulan lalu, dosen biologi sel dan nano biologi itu mengatakan, kita harus kompromi dengan Covid-19. Virus itu membiak menjadi ribuan jenis. Harus dipahami sebagai bagian yang ada saat ini. Maka, kompromi. Dipahami keberadaannya. Disiplin diri untuk tidak terjangkit. Kita sudah tahu semua bagaimana caranya.

Kita harus memercayai kemampuan alamiah tubuh membentuk kekebalan. Sel darah putih pada tubuh akan melawan virus dan patogen lain yang menginfeksi tubuh dan membentuk kekebalan ketika berhasil memenangkan pertarungan. Yang penting, hati harus tenteram dan optimis. Kelak akan ketemu obatnya.

Ma andzalallohu daa an illa anzalalahu syifaan; tidaklah Allah menurunkan penyakit kecuali Dia juga menurunkan penawarnya (Al-Hadist; HR Bukhari). Ibnu Qayyim al-Jauziyah dalam kitabnya Ath Thibb an-Nabawi menukil banyak hadist senada, untuk upaya ihtiar atas penyakit karena pasti ada obatnya). “Kecuali penyakit tua,”  kata Doktor Muhibbin, ketua Prodi magister hukum Unisma Malang, disela mengajar aswaja, dulu. Ketika itu saya mahasiswanya.  

Firman Tuhan dalam Surat Al-Insyirah (alam nasyrah = kelapangan hati) tentu juga kita ingat; Inna ma’al usri yusro; bersama kesulitan ada kemudahan. Dalam kaidah tafsir, isim nakiroh yang diulang dua kali bisa bermakna; beda. Dalam tafsirannya lantas bisa dimaknai, satu kesulitan banyak kenudahan. Insya Allah di balik kesulitan karena Covid-19, akan kita temukan banyak kemudahan. 

Menghadapi covid-19 saat ini, rasanya kita perlu menonton kembali; Dances With Wolves. Film yang menyabet tujuh penghargaan dan oscar besutan Cavin Costner itu, berkisah; pahlawan perang Letnan John Dunbar, diasingkan ke sebuah pos terpencil di wilayah barat. Di sana dia berhadapan dengan penduduk Indian sekaligus juga kawanan serigala. Hidupnya  “menari-nari” bersama kawanan itu. Terpeleset sedikit, dimangsa. Letnan yang dimainkan sendiri oleh Costner itu; berhasil.*

 

 

 

Editor : Imawan Mashuri
Uploader : slatem
Penulis : Imawan
Fotografer : Imawan

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU