Pelajar Penusuk Begal Akhirnya Dipulangkan

  • 11-09-2019 / 18:50 WIB
  • Kategori:Hukum Kriminal
Pelajar Penusuk Begal Akhirnya Dipulangkan ZA, ketika digelandang oleh petugas sesaat setelah diamankan.

MALANG - Usai menjalani pemeriksaan, ZA, 17, korban pembegalan sekaligus pelaku penusukan dipulangkan. Warga Desa Putat Lor, Kecamatan Gondanglegi ini, pulang dengan dijemput orangtuanya, Rabu (11/9) siang. Polisi tidak melakukan penahanan terhadap pelajar SMA ini.

Pertimbangannya karena ZA masih berstatus pelajar. Selain itu, pertimbangan lainnya karena ZA melakukan pembelaan diri, ketika menjadi korban begal. Namun demikian, status tersangka masih tetap disandang ZA. Termasuk berkas perkaranya juga masih terus lanjut sampai persidangan.

Demikian disampaikan Kapolres Malang, AKBP Yade Setiawan Ujung. Ia mengatakan bahwa saat pulang dijemput orangtuanya, ZA dalam kondisi sehat.

“Saya sudah putuskan kemarin untuk tidak menahan. Yang bersangkutan, ZA masih berstatus pelajar. Selain itu juga pertimbangan alasan pembelaan diri dalam melakukan perbuatannya,” ungkap Ujung.

Seperti diketahui, Polres Malang mengamankan ZA, Selasa (10/9) siang. Pelajar SMA ini ditangkap di rumahnya. Penangkapannya setelah ZA terbukti menusukan  Misnan alias Grandong, 35, warga Dusun Penjalinan, Desa Gondanglegi Kulon, Kecamatan Gondanglegi.

Penusukan dilakukan karena terdesak. ZA, melakukan pembelaan diri. Ia menjadi korban begal Misnan serta tiga orang pelaku lainnya.

ZA melawan dengan menusuk Misnan, karena barang berharga miliknya seperti HP dan motor hendak dirampas. Termasuk kekasihnya akan disetubuhi oleh Misnan alias Grandong.

Ujung mengatakan, meskipun tidak ditahan, namun ZA tetap wajib lapor. Jadwalnya disesuaikan dengan kesibukannya sebagai pelajar. "Tetap wajib lapor, hanya jadwalnya diatur supaya tidak mengganggu sekolahnya," ujarnya.

Dikatakannya, bahwa penyidik memahami motif penusukan yang dilakukan ZA. Dimana ZA dalam rangka membela diri serta menjaga kehormatan kekasihnya. Namun sesuai undang-undang, yang berwenang memutuskan perbuatan ZA masuk kategori pembelaan diri, atau noodwer sebagaimana dalam pasal 49 KUHP, adalah Hakim, bukan penyidik Polri.

"Pembelaan diri itu, ada syaratnya. Salah satunya adanya serangan lebih dulu dari korban. Proporsional antara serangan dan pembelaan diri. Serta non subtitusi, artinya tidak ada pilihan lain saat peristiwa terjadi, misalnya dibunuh atau membunuh. Dan itu nanti Hakim yang akan mempertimbangkan,” jelas perwira dengan pangkat dua melati ini.

Lebih lanjut, Ujung mengatakan bahwa Polisi kewenangannya hanya proses penyidikan, dan memberkas perbuatan materiil dalam perkara pembunuhan. Tentunya dalam berkas dicantumkan fakta-fakta sesuai keterangan ZA serta saksi-saksi di lokasi kejadian.

"Berdasarkan isi berkas perkara yang disajikan penyidik, baru nanti Hakim di pengadilan yang akan memutus. Apakah perbuatan tersangka masuk kategori pasal 49 KUHP yang merupakan alasan pembenar sehingga bisa saja tersangka dibebaskan oleh Hakim," jelasnya.

Ujung, menggaris bawahi kalau hal ini menjadi ranah kewenangan hakim. Polisi atau penyidik tidak berwenang memutus ini dalam tahap penyidikan. Artinya, penyidik tidak punya kewenangan hukum menerapkan pasal-pasal alasan pemaaf maupun pembenar, harus tetap dengan putusan Hakim.

Penyidik Polres Malang dapat menerapkan diskresi tidak melakukan penahanan berdasarkan pertimbangan kronologis cerita dan alasan subjektif lainnya. Tersangka ZA tidak dilakukan penahanan, dengan pertimbangan ZA masih berstatus pelajar yang tetap harus melanjutkan studinya.

Ujung, berharap penanganan perkara ini tidak menjadi polemik. Sebab pada prinsipnya penyidik adalah praktisi hukum yang hanya bisa melakukan semua tindakan sesuai hukum yang ada dalam hal ini KUHP dan KUHAP.

Terpisah, Kasatreskrim Polres Malang, AKP Adrian Wimbarda, mengatakan sementara ini, ZA dikenakan pasal 351 ayat 3 KUHP, tentang penganiayaan yang mengakibatkan meninggalnya seseorang. Namun untuk menjadi pertimbangan Hakim, supaya ZA bisa bebas karena melakukan pembelaan diri, akan dicantumkan semua fakta dan keterangan dari ZA.

Selain itu, lanjutnya bahwa Polres Malang, dalam waktu dekat juga akan segera menggelar rekonstruksi. Pasalnya, dalam pemeriksaan, keterangan ZA dengan Ahmad, pelaku begal tidak sama.

"Ahmad mengatakan bahwa antara korban meninggal Misnan dengan ZA hanya terjadi cek-cok mulut. Sementara, ZA dalam keterangan menusuk karena melakukan pembelaan diri," jelas Adrian.

Lebih lanjut, Adrian mengatakan, pembelaan diri yang dilakukan oleh ZA akan terus dibuktikan. Polisi akan meminta keterangan kekasih ZA, untuk bisa menguatkan pengakuannya. Karena sampai Rabu (11/9), kekasih ZA ini belum bisa dimintai keterangan.

"Polisi hanya menyajikan berkas perkara saja. Nanti Hakim yang memutuskan apakah ZA bisa bebas. Sama seperti halnya korban penganiayaan oleh orang gila. Polisi hanya menerima laporan dan menyajikan berkas, kemudian mengirim ke pengadilan. Yang menentukan bahwa orang gila tersebut tidak bisa dihukum adalah hakim, berdasarkan pertimbangan pemeriksaan psikiater yang dicantumkan dalam berkas perkara," paparnya.

Adrian melanjutkan, dalam pemeriksaan ZA tidak sendirian. ZA didampingi oleh petugas dari Bapas Malang. Bahkan dalam waktu dekat, penyidik juga akan mendatangkan saksi ahli pidana untuk dimintai keterangan dan pendapat terkait kasus yang dilakukan oleh ZA.

Ketua Umum Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI ), Seto Mulyadi, dikonfirmasi mengatakan bahwa ZA, tetap menjadi korban dalam kasus ini. Apa yang dilakukan oleh ZA adalah membela diri, supaya bebas dari ancaman dan kematian, bukan ada maksud untuk membunuh.

"Saya menilai bahwa anak itu (ZA, red) tetap sebagai korban. Kalau mungkin ada sanksi dipersilahkan, tetapi harus banyak pertimbangan sesuai dengan sistem peradilan anak. Sekaligus mempertimbangkan bahwa ZA hanya melakukan pembelaan diri," terang Seto.

Ia mengatakan, sebaiknya ZA memang tidak dilakukan penahanan. Karenanya, selain orangtuanya, Seto meminta Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Jawa Timur atau Malang, dan Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Malang, untuk mendampingi.

"Semua aktivis perlindungan anak bisa maju untuk membela anak itu. Bahwa anak itu (ZA), tidak membunuh tetapi membela diri," pungkasnya.(agp/Malangpostonline.com)

Editor : agp
Uploader : slatem
Penulis : agp
Fotografer : agp

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU