Saksi Ahli Hukum, Minta ZA Ditahan

Dukung Polres Malang Kampanyekan Anti Budaya Main Hakim Sendiri

  • 17-09-2019 / 15:05 WIB
  • Kategori:Hukum Kriminal
Dukung Polres Malang Kampanyekan Anti Budaya Main Hakim Sendiri Wahyu Prijo Djatmiko, S.H, M.Hum, M.Sc, Saksi Ahli Hukum ketika memberikan keterangan kepada Kanit PPA Polres Malang, Ipda Yulistiana Sri Iriana.

MALANG - Saksi Ahli Hukum Pidana dari Alumni Undip Semarang, Dr. Wahyu Prijo Djatmiko, S.H, M.Hum, M.Sc, meminta ZA, 17, pelaku penusukan terhadap Misnan alias Grandong, pelaku begal ini ditahan. Bahkan, ia meminta polisi menerapkan pasal 338 KUHP tentang pembunuhan. Pernyataan ini, disampaikannya saat diminta keterangan sebagai saksi ahli hukum oleh penyidik UPPA Satreskrim Polres Malang, Selasa (17/8) siang.

"Seharusnya dia (ZA, red) ditahan. Penerapan pasalnya pun, harusnya 338 KUHP tentang pembunuhan. Bukan pasal 351 ayat 1 KUHP tentang penganiayaan yang menyebabkan nyawa seseorang meninggal dunia," tegas Wahyu Prijo Djatmiko.

Menurut mantan Dosen Unair ini, bahwa apa yang dilakukan oleh Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (UPPA) Satreskrim Polres Malang, sudah tepat menetapkan ZA warga Desa Putat Lor, Kecamatan Gondanglegi ini sebagai tersangka. Dan dalam kasus ini, merupakan kesempatan bagi Polres Malang untuk berdiri di depan. Yakni mengkampanyekan anti budaya main hakim sendiri, yang selama ini marak dilakukan remaja serta masyarakat.

"Coba kalau dibiarkan dan bagaimana kalau berkenaan dengan keluarga kita. Jadi ini adalah kesempatan bagi Polres Malang untuk melanjutkan kasus ini, sebagai kampanye anti budaya main hakim sendiri. Saya siap berada di depan untuk mendukung langkah Polres Malang," terangnya.

Dari analisa berkas acara pemeriksaan kasus ZA ini, lanjut Wahyu, bahwa memang ada ancaman dari Misnan alias Grandong, selaku korban penusukan. Termasuk ancaman untuk memperkosa kekasih ZA. Tetapi hanya sebatas ancaman verbal, bukan ancaman kekerasan.

Pasalnya, baik Misnan atau temannya Ahmad, saat itu sama sekali tidak membawa senjata apapun. Penusukan yang dilakukan ZA terhadap Misnan, karena motivasi untuk membunuh bukan melumpuhkan. 

"Kalau orang menusuk tepat di jantung, jadi motivasinya adalah membunuh. Apalagi setelah itu, dia (ZA, red) masih mengejar satu pelaku lainnya. Mengapa tidak melumpuhkan dengan melukai wajah atau anggota badan lainnya. Belum lagi pisau yang digunakan menusuk juga mengerikan," jelasnya.

Karena itulah, ia meminta polisi untuk menganalisa kasus ZA ini secara lengkap. Salah satunya, dengan melihat kejiwaan dari ZA. Wahyu juga meminta supaya ZA ditahan, karena usianya sudah 17 tahun.

"Sebab kalau tidak ditahan, saya berfikir enak saja membunuh tidak akan ditahan karena berlindung Undang-undang. Sehingga untuk ZA ini harus ditahan dengan save house untuk mengawasi kejiwaannya," urainya.

"Jangan sampai, Undang-undang hanya dibaca teks riding saja, tetapi harus konstektual. Membela diri memang dibenarkan, tetapi harus ada aktivitas penyerangan dari lawan. Sedangkan kasus ini, lawan yang menjadi korban penusukan tidak ada penyerangan. Ancaman perkosaan saja, tidak cukup menjadi dasar membela diri untuk menghilangkan nyawa seseorang," sambungnya.

Terkait polemik kasus ini, banyak tanggapan masyarakat yang pro dan kontrak dengan langkah yang dilakukan polisi. Wahyu menegaskan, bahwa fungsi polisi adalah penegakan hukum untuk melindungi nyawa. Ketika ada masyarakat yang kontra, tinggal mengembalikan saja jika yang menjadi korban adalah anggota keluarganya.

"Sebetulnya melihat keadilan itu mudah. Karenanya membaca Undang-undang jangan hanya teks riding. Tetapi gunakan hukum untuk menciptakan harmoni sosial, ketertiban sosial dan ketentraman sosial," katanya.

"Kalau menghilangkan nyawa dimaafkan dengan pasal 49 KUHP, ingat bahwa pasal itu adalah buatan Belanda. Dulu pasal tersebut untuk melindungi orang kaya, yang rumahnya disatroni maling langsung membunuh dengan alasan membela diri," sambungnya.

Sekadar informasi, ZA, 17, pelajar SMA warga Desa Putat Lor, Gondanglegi, ini ditetapkan sebagai tersangka oleh Polres Malang. ZA terbukti sebagai pelaku penusukan terhadap Misnan alias Grandong, warga Dusun Penjalinan, Desa Gondanglegi Kulon, Kecamatan Gondanglegi.

ZA menusuk tepat di bagian jantung, dengan alasan membela diri. Pasalnya, Misnan adalah pelaku begal yang merampas barang berharganya. Sekaligus berniat mau memperkosa kekasih ZA. (agp/Malangpostonline.com)

Editor : agp
Uploader : irawan
Penulis : agp
Fotografer : agp

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU