Hidup Numpang Istri, Ery Age Anwar Sering Cubiti Anak Tiri

  • 02-11-2019 / 00:27 WIB
  • Kategori:Hukum Kriminal
Hidup Numpang Istri, Ery Age Anwar Sering Cubiti Anak Tiri HANYA TERTUNDUK : Ery Age Anwar, tersangka penganiayaan anak tiri dirilis di Polres Malang Kota, kemarin.

MALANG – Tak tahu diri. Kalimat itu bisa menggambarkan sosok tersangka pembunuh anak tiri, Ery Age Anwar, 36 tahun. Hidupnya selama ini bisa dikatakan numpang istri.

Ia menikahi janda dua anak Hermin Susanti 22 tahun, yang bekerja sebagai agen property. Pekerjaan tersangka selama ini serabutan. Fakta itu diketahui ketika Ery Age Anwar dihadapkan kepada awak media di Mapolres Malang Kota, Jumat (1/11) kemarin.

 “Tersangka menikah dengan ibu korban, sejak empat bulan lalu,” tegas Kapolres Makota, AKBP Dony Alexander di Polres Makota, Jumat pagi.

Status pernikahannya pun siri. Mereka memiliki tiga anak. Dari Hermin dua anak. Sedangkan anak terakhir adalah buah perkawinan Hermin dan tersangka. Kehidupannya selama empat bulan pernikahan dengan Hermin pada Juli 2019, tidak selayaknya kepala keluarga normal yang bekerja keras untuk keluarga.

Dia tak memiliki sumber penghasilan tetap. Sebagai suami, dia lebih banyak mengandalkan hidupnya kepada penghasilan Hermin yang bekerja di kawasan Kota Malang. Pendapatan Anwar dari penjualan sparepart karet ban mobil, tak begitu membantu ekonominya.

“Yang bekerja tetap di keluarga ini adalah sang istri,” tegas Dony.

Anwar lebih banyak berada di rumah. Tapi, kendati berada di rumah, dia tak pernah bersosialisasi dengan warga sekitar. Dua bulan lalu, tepatnya sekitar awal September 2019, dia datang dan tinggal di rumah Tlogowaru Indah D14 tanpa pernah bersosialisasi secara patut sebagai warga di sebuah kampung.

Keterangan para tetangga sangat menguatkan situasi tertutup keluarga ini. Agnes tak pernah diajak bermain keluar rumah. Satu-satunya interaksi Anwar dengan tetangga, adalah tetangga depan rumahnya, saat menitipkan bayi tersebut ketika Agnes kejang-kejang akibat penyiksaannya.

Selain persoalan di kampung, situasi Anwar dengan keluarga Tajinan juga tidak baik. Sebab, menurut informasi salah satu keluarga korban, Anwar tiba-tiba datang ke Tajinan dengan status sebagai suami dari Hermin. Sebab, sebelum ini, Hermin adalah janda dua anak, usia 4,5 tahun dan Agnes yang berusia 3 tahun.

Bocah laki-laki 4,5 tahun dititipkan Hermin di keluarga Tajinan. Sementara, Agnes dan bayi kecil 1,5 bulan dirawat oleh Anwar dan Hermin di rumah Tlogowaru Indah. Menurut Kapolres Makota, Hermin dan Anwarbelum pernah mendaftarkan pernikahan di kantor administrasi kependudukan.

“Status pernikahannya siri,” ujar Dony.

Sementara, menurut keterangan famili korban, Hermin baru mengetahui putri keduanya meninggal pada Rabu sore ketika menerima telepon di tempat kerja. Hermin baru tahu setelah mendapat kabar dari keluarga Tajinan. Dengan tangis, Hermin secepatnya janjian datang ke rumahnya di Tlogowaru Indah.

“Kami melihat dia datang ke rumah ini, cepat-cepat dan buru-buru, wajahnya tampak cemas dan seperti baru menangis, dia bawa koper juga, dan datang dengan mobil, serta beberapa orang wanita lain,” urai Prita, 25, tetangga sekitar Tlogowaru Indah D14 saat diwawancarai ketika olah TKP Kamis lalu.

Empat hari sebelumnya, Agnes masih sempat merayakan ulang tahun ketiganya di rumah keluarga besarnya di Tajinan. Sementara itu, dengan dalih ingin memberi pelajaran, Anwar bertestimoni soal alasan mengapa dia sampai lepas kontrol dan menginjak-injak Agnes Arnelita, yang masih berusia 3 tahun.

Saat ditanyai Kapolres Makota AKBP Dony Alexander tentang alasan mengapa dia tega melakukan hal tersebut, Anwar mengklaim ini semua berawal dari buang air besar.

“Awalnya untuk beri pelajaran buat dia. Dia sering buang air besar dan pipis sembarangan,” ujar Anwar di halaman Polres Makota.

Namun, Anwar mengucapkan kata-kata ini dengan nada lirih. Sehingga, beberapa awak media yang sudah emosi sejak kali pertama rilis dimulai, langsung berteriak agar suaranya dilantangkan. Anwar lalu ditanyai, apakah dia sering melakukan pemukulan dan penganiayaan seperti ini kepada Agnes.

“Kalau memukuli jarang, tapi sering mencubit. Cubit di lengan atau paha. Karena dia sering buang air sama pipis sembarangan,” kata Anwar.

Dengan rambutnya yang sudah digunduli, Anwar tertunduk dan tak pernah melihat ke kumpulan wartawan, maupun kepada Kapolres Makota yang menginterogasinya.

Setelah diserbu serangkaian pertanyaan, dia kembali ditanyai, mengapa dia bisa tega melakukan itu. Dan Anwar hanya bisa menjawab satu kata, iya. Dia kembali digempur dengan pertanyaan terakhir. Apakah Anwar tega menganiaya Agnes sampai seperti itu, karena Agnes bukan darah dagingnya.

Suara Anwar tercekik. Tak ada kata yang diucapkannya lagi sebelum digelandang ke ruang penyidikan Polres Makota. Dony mengungkapkan, Satreskrim Polres Makota mengendus adanya tindakan berulang yang sudah pernah dilakukan Anwar terhadap Agnes.

“Sebab, dari keterangan saksi, yakni famili korban di Tajinan, korban sering cerita kalau pernah dipukul dan dicubit oleh ayahnya, dengan alasan karena korban nakal. Itu bisa menjadi keterangan tambahan dalam berita acara pemeriksaan kami, dalam pemberkasan kasus ini,” papar Dony.

Dalam rilis, Dony juga mengungkap soal kronologi sebenarnya peristiwa penganiayaan terhadap Agnes. Setelah korban buang air di celana, korban dibawa ke kamar mandi lalu disiram air dingin. Korban teriak ‘iya-iya’ saat dimarahi, lalu terjatuh di kamar mandi dalam posisi tertelungkup.

“Tersangka spontan menginjak punggung korban dua kali,” ujar Dony.

Setelah punggung diinjak, korban mengerang kesakitan, lalu membalikkan badan. Saat terlentang, perutnya ditambahi lagi satu injakan. Saat inilah, korban lalu sesak napas dan seperti menggigil kedinginan.

Anwar menjungkir korban dengan kedua kaki di atas, dengan harapan sesak napas Agnes berhenti. Tapi, situasi ini semakin tidak terkontrol karena Agnes kian kejang. Tersangka panik, lalu mencoba menghangatkan korban di atas kompor, yang akhirnya terjadi luka bakar.

Setelah diberi minyak telon tapi tetap terlihat menggigil, korban dilarikan ke RS Reva Husada, tapi tak tertolong. Kronologi inilah yang diungkapkan Anwar setelah polisi membawa hasil otopsi korban Agnes dari KM RSSA Malang.

Kronologi ini juga berbeda dari keterangan awal Anwar terhadap kantor polisi yang dilapori keluarga korban tentang kejanggalan jenazah penuh lebam dari sosok Agnes.

“Tersangka sempat berbohong soal alibi dan keterangannya. Berkat kecurigaan keluarga, dan kerja kepolisian, kami berhasil membongkar alibi dan mengungkap fakta ini,” ujar Dony.

Tersangka diancam pasal UU Perlindungan Anak. Yaitu, pasal 80 ayat 3 UU RI 35 tahun 2014, dengan ancaman hukuman pidana 15 sampai 20 tahun. “Apakah ibu kandung korban mengetahui adanya penganiayaan sebelum-sebelumnya, tapi menutup-nutupi, masih akan kami konfrontir lagi dengan pemeriksaan lanjutan,” tandas Dony.(fin/ary)

Editor : Ary
Uploader : slatem
Penulis : fin
Fotografer : Ipunk

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU