Mantan Direktur Percetakan Diputus Onslag, Kejari Malang Kasasi

  • 08-11-2019 / 19:57 WIB
  • Kategori:Hukum Kriminal
Mantan Direktur Percetakan Diputus Onslag, Kejari Malang Kasasi SIDANG: Thomas Zacharias saat digiring petugas Kejari Kota Malang hendak menjalani sidang penggelapan.

Malangpostonline.com - Masih ingat kasus Thomas Zacharias, 68, mantan Direktur Percetakan CV. Mitra Sejahtera Abadi (MSA) yang ditahan di Lapas Lowokwaru karena melakukan penggelapan? Ia sedikit bisa bernafas lega karena hakim Pengadilan Tinggi (PT) Surabaya memberikan putusan onslag, beberapa hari lalu. Dia juga dilepaskan dari penjara, sehari setelah mendapat penetapan tersebut.

Majelis hakim PT Surabaya yang diketuai I Gusti Lanang Putu Wirawan, SH, MH memutuskan menerima permintaan banding pria yang tinggal di Perum Bumi Mas Blok C1/17, Desa Kalisongo, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang tersebut dan membatalkan putusan PN Malang Nomor 205/Pid.B/2019/PN Mlg tanggal 16 Agustus 2019. Namun tetap memutuskan Thomas terbukti melakukan perbuatan tersebut.

Menyikapi putusan PT Surabaya ini, Herman Setiabudi dan Megawati, pasangan suami istri korban Thomas mengaku menghormati putusan tersebut, meski dianggap tidak melegakan hati. “Sebagai warga negara yang taat hukum, kami menghormati putusan PT,” kata Herman kepada malangpostonline.com, di tempat terpisah. Ia nampak kecewa dengan putusan tersebut.

“Sebagai orang yang mengerti hukum, walaupun bukan praktisi, saya tentu kecewa dengan putusan tersebut mengingat semua unsur pasal 374 KUHPidana sudah terpenuhi. Tetapi saya yakin kasasi yang diajukan JPU Kejari Kota Malang akan dikabulkan oleh Mahkamah Agung,” tambahnya. Pria ini meminta agar tidak ada upaya dari pihak lain untuk menggagalkan kasasi itu, untuk kepastian hukum. 

Seperti diketahui, Thomas duduk di kursi pesakitan setelah enam tahun lalu dilaporkan menggelapkan uang percetakan sekitar Rp 900 jutaan, Percetakan itu, berada di Jalan Indragiri IV Malang. Kasus ini sempat menggantung  di kepolisian dan akhirnya awal Juni 2019 lalu, berkas perkara dinyatakan sempurna oleh Kejari Kota Malang. Dalam persidangan itu, Thomas divonis dua tahun penjara.

Padahal sebelumnya, JPU Kejari Kota Malang menuntut Thomas, empat tahun penjara. “Tapi harap diketahui, putusan onslag itu bukan bebas, tapi hanya lepas. Jadi masih ada upaya hukum lain yakni kasasi. Semoga kasasi dikabulkan oleh Mahkamah Agung,” tutup Herman. Dikonfirmasi tentang upaya kasasi, Kasi Pidum Kejari Kota Malang, Wahyu Hidayatullah, SH membenarkannya.

Dia mengaku segera mengajukan kasasi. “Karena putusan onslag, jaksa kasasi. Kita masih menunggu putusan lengkap PT,” tegas dia. Wahyu tidak menampik bila Thomas sudah dilepaskan dari Lapas Lowokwaru. “Sesuai putusan pengadilan tinggi ada perintah untuk dikeluarkan,” tuturnya lagi. Sayangnya, Suwito, SH, penasihat hukum Thomas tidak memberikan komentar terkait putusan onslag ini.

Sementara itu, tentang pengertian onslag, disebutkan Lilik Mulyadi dalam bukunya Hukum Acara Pidana, terbitan PT Citra Aditya Bakti (Bandung 2007), pada hal. 152-153, perbedaan antara putusan bebas dan lepas dapat ditinjau dari segi hukum pembuktian, yaitu pada putusan bebas (vrijspraak) tindak pidana yang didakwakan jaksa/penuntut umum dalam surat dakwaannya tidak terbukti secara sah dan meyakinkan menurut hukum. 

Dengan kata lain, tidak dipenuhinya ketentuan asas minimum pembuktian (yaitu dengan sekurang-kurangnya 2 alat bukti yang sah) dan disertai keyakinan hakim (Vide Pasal 183 KUHAP). Sedangkan, pada putusan lepas (onslag van recht vervolging), segala tuntutan hukum atas perbuatan yang dilakukan terdakwa dalam surat dakwaan jaksa/penuntut umum telah terbukti secara sah dan meyakinkan menurut hukum, akan tetapi terdakwa tidak dapat dijatuhi pidana, karena perbuatan tersebut bukan merupakan tindak pidana, misalnya merupakan bidang hukum perdata, hukum adat atau hukum dagang. (mar/Malangpostonline.com )

Editor : mar
Uploader : irawan
Penulis : marga
Fotografer : ist

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU