Melawan Polisi, Buron Rampok Sembermanjing Wetan Ditembak

  • 15-11-2019 / 14:25 WIB
  • Kategori:Hukum Kriminal
Melawan Polisi, Buron Rampok Sembermanjing Wetan Ditembak KURSI RODA : Lamidi, warga Dampit, DPO perampokan Druju ditembak oleh Satreskrim Polres Malang.

Malangpostonline.com - Masih ingat perampokan yang menghebohkan Desa Druju Sumbermanjing Wetan pada Maret 2017 lalu? Guru sekolah satu atap H Syaiful Afandi dan istrinya, Hj Mustolifah dirampok oleh empat orang saat jam sahur. Setelah menangkap dua pelaku beberapa waktu lalu, Satreskrim Polres Malang kembali membekuk satu buronan rampok.

Yaitu, Lamidi, 41, warga Dampit. Dia ditangkap setelah buronan selama dua tahun lebih. Dia dibekuk di Ponorogo ketika menyambangi adik kandungnya yang melahirkan pada Rabu, 13 November 2019 lalu. “Kami mendeteksi dia berada di Ponorogo, setelah dilacak dan ditrek, kami lakukan penangkapan dan kami bawa ke Malang,” ujar Kasatreskrim Polres Malang AKP Tiksnarto Andaru Rahutomo, Jumat (15/11) siang di Polres Malang.

Saat proses penangkapan, tersangka melakukan perlawanan kepada petugas. Sehingga dua timah panas terpaksa bersarang di kedua betisnya. Dua rekannya sedang menjalani masa hukuman. Sementara, satu DPO berinisial R sedang diburu oleh Satreskrim Polres Malang. Pelaku dikenai pasal 365 KUHP tentang pencurian disertai kekerasan. “Ancamannya 9 tahun penjara,” tambahnya. 

Berdasarkan pemberitaan Malang Post tahun 2017, rumah salah seorang guru di Desa Druju Kecamatan Sumbermanjing Wetan Kabupaten Malang, Jumat dini hari (31/3/2017) jadi sasaran perampok. H Syaiful Afandi guru sekolah Satu Atap SD-SMP dan Musdhalifah, istrinya disekap.

 

Baca Juga:

Uang tunai, perhiasan berikut sepeda motor yang ditotal senilai Rp 100 juta dijarah kawanan perampok. Kejadian perampokan terjadi sekitar pukul 02.00. Korban di rumah hanya berdua dengan istrinya. Pelaku masuk ke dalam rumah dengan mencongkel pintu depan. Ada delapan orang perampok, semuanya memakai cadar.

Menurut pengakuan korban kepada polisi, ia dan istrinya sempat disekap dan diancam dibunuh. Setelah melumpuhkan kedua pasutri ini, kawanan rampok itu menyikat uang tunai Rp 30 juta, satu unit sepeda motor Honda Vario, 50 gram perhiasan emas serta beberapa barang berharga lainnya.

Sementara, Lamidi mengaku bahwa dia hanya mendapatkan jatah Rp 3 juta dari total nilai Rp 100 juta hasil perampokan. “Saya dapat bagian Rp 3 juta. Saat itu memang kami pakai celurit untuk mengancam korban. Kami semua bawa celurit,” tandas Lamidi kepada wartawan sambil mengaku sangat menyesali perbuatannya.

Sebelum tertangkap, dia dihantui rasa bersalah dan terus melarikan diri ke berbagai wilayah, termasuk Kalimantan. Dia ditangkap setelah adiknya melahirkan di Ponorogo. Saat menjenguk, pelaku disergap oleh Satreskrim Polres Malang. Karena berupaya melawan dan melarikan diri dari kejaran petugas. “Saya tidak mau melakukan lagi, saya tobat, saya menyesal,” tambah Lamidi.(fin/lim/Malangpostonline.com)

Editor : lim
Uploader : irawan
Penulis : fin
Fotografer : Ipunk

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU