Jaksa Hapus Pasal 340 dan 338, ZA Dituntut 1 Tahun Mondok

  • 22-01-2020 / 00:31 WIB
  • Kategori:Hukum Kriminal
Jaksa Hapus Pasal 340 dan 338, ZA Dituntut 1 Tahun Mondok LANJUT: Tim penasehat hukum ZA, Bakti Riza Hidayat saat mendampingi ZA usai pembacaan tuntutan dari Jaksa Kristiawan S, SH, Selasa sore (21/1) di PN Kepanjen.

Malangpostonline.com - Pasal primair 340 KUHP dan 338 KUHP tentang pembunuhan yang disematkan dalam dakwaan terhadap ZA, 17, pelajar asal Gondanglegi, tidak dicantumkan dalam tuntutan. Hal itu diketahui dalam tuntutan yang dibacakan Jaksa Penuntut Umum Kejaksaan Negeri Kepanjen, Kristiawan SH, di PN Kepanjen, Selasa (21/1) sore kemarin.  ZA hanya dikenakan pasal 351 ayat 3 KUHP, tentang penganiayaan yang menyebabkan kematian.

Tak hanya itu, jaksa juga tidak menuntut hukuman penjara terhadap ZA. Ini berbeda dengan dakwaan yang dibacakan jaksa pada Selasa 14 Januari 2020. Pada sidang kemarin, pemuda yang masih duduk di bangku sekolah menengah atas itu, dituntut untuk ‘mondok’ di Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) Darul Aitam, Wajak. Dia dituntut untuk tinggal di sana selama satu tahun.

Tuntutan dibacakan di hadapan hakim Nunik Defiary. “Menyatakan ZA telah terbukti dan secara sah dan bersalah melakukan tindak pidana penganiayaan yang menyebabkan matinya orang sebagaimana diatur dalam pasal 351 KUHP,” tegas Kristiawan dalam amar tuntutannya.

Dalam pembacaan tuntutan, jaksa juga menyebut pasal 340 KUHP dan 338 KUHP tentang pembunuhan berencana dan pembunuhan, tidak terpenuhi unsurnya sehingga tidak terbukti. Jaksa juga mencantumkan barang bukti dalam amar tuntutan. Yaitu, sandal jepit swallow, satu buah senter, pisau dapur seukuran 30 sentimeter, 1 jaket hitam, 1 celana jeans, motor Vario dan satu sarung.

Persidangan berlangsung tertutup karena peradilan anak. Sebelum masuk ke ruangan sidang, ZA tampak ditemani oleh keluarganya di ruang tunggu. Dia masih memakai masker, dan berseragam sekolah. Dia memakai jaket, sebuah tas dan duduk diapit oleh anggota keluarga. Ekspresi keluarga, tampak seperti cemas dan tidak tenang.

Saat masuk ke dalam ruang sidang, dia digiring oleh penasehat hukumnya, Bakti Riza Hidayat. Keluar dari ruangan, raut keluarga ZA terlihat lega. ZA langsung salim atau cium tangan kepada tim penasehat hukumnya setelah mendengarkan tuntutan dari jaksa Kristiawan.

Meski tuntutan ini sangat ringan bila dibandingkan dengan gembar gembor media sosial tentang hukuman seumur hidup, Riza menegaskan tetap mengajukan pledoi. Karena, Riza tetap berpegang pada pasal 49 KUHP tentang pembelaan darurat, dan keterkaitan dengan pasal 50 KUHP tentang unsur pembenaran dan pasal 44 KUHP tentang unsur pemaaf.

“Jaksa menyebut pasal 340 KUHP dan 338 KUHP tidak terbukti. Tapi, jaksa tetap ingin buktikan, pasal 351 KUHP tentang penganiayaan yang menyebabkan kematian. Tuntutan satu tahun, ditempatkan di LKSA Darul Aitam Wajak. Kami, tetap akan ajukan pledoi,” jelas Riza kepada wartawan.

Dalam pledoi, Riza akan tetap menyampaikan bahwa tuntutan jaksa 351 KUHP tentang penganiayaan menyebabkan kematian, harus dikaitkan dengan pasal 49 KUHP tentang pembelaan darurat. Termasuk, menyambungkannya dengan pasal 50 KUHP tentang unsur pembenaran dan pasal 44 KUHP tentang unsur pemaaf.

Jika hakim menerima pledoi dari Riza tentang keterkaitan pasal 44, 49 dan 50 KUHP, maka diprediksi putusannya adalah lepas dari segala tuntutan, atau onstlag van alle rechtvervolging. Sebaliknya, andai hakim berpegang pada tuntutan jaksa, ZA tetap diputus bersalah karena pasal 351 KUHP, namun dengan hukuman 1 tahun mondok di LKSA Darul Aitam Wajak.

Rencananya, Rabu hari ini, Riza bakal membacakan pledoi dari kliennya, untuk memberi pertimbangan kepada hakim Nunik, sebelum membacakan vonis atas kasus ini.(fin/ary)

Editor : Ary
Uploader : slatem
Penulis : fin
Fotografer : Firman

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU